Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 6. Mimpi buruk lagi


__ADS_3

Setelah mempersilahkan Sinta duduk, Aruna berlalu menuju dapur untuk mengambil kudapan. Ibunya pamit untuk membersihkan diri lebih dulu. Tidak berapa lama, Aruna kembali ke ruang tamu dan tersenyum kala mendapati Sinta sedang menatapnya.


"Kenapa, Sin?" tanya Aruna saat Sinta belum juga mengalihkan pandangan. Aruna sampai menatap pakaian yang dikenakan, barangkali ada yang salah.


"Kamu cantik pakai kerudung," jawab Sinta disertai senyum manis.


"Terimakasih. Ayo, silahkan di minum." Setelah mempersilahkan Sinta untuk menikmati kudapan, Aruna pun duduk pada sofa yang berseberangan.


"Kamu pulang kapan? Udah lama di sini?" tanya Aruna penasaran.


Sinta menggeleng. "Baru beberapa minggu sih, Na. Kebetulan, suami aku beli rumah di perumahan sini, membuat kita akhirnya bisa bertemu lagi." Lalu, pandangan Sinta tertuju pada perut Aruna.


"Kenapa?" tanya Aruna menyadari tatapan Sinta tertuju pada perutnya.


"Kok kamu cepat hamil ya? Apa tipsnya, Na? Padahal, aku udah lebih dulu menikah," keluh Sinta dengan bibir mengerucut.


Aruna terkekeh pelan, merasa tidak enak membahas tentang kehamilan. Bagaimana pun, rasanya pasti sakit bila selalu digunjingkan para tetangga karena tak kunjung hamil. Belum lagi tekanan dari keluarga yang menginginkan seorang cucu.


"Sabar ya, Sin. Semua ada waktunya kok. Mungkin, Tuhan ingin kalian berpacaran lebih dulu setelah menikah. Menikmati waktu kalian berdua." Yang dimaksud Aruna adalah Sinta dan suaminya.


Raut wajah Sinta tampak lesu. Seperti tak memiliki gairah hidup lagi. "Namun, semua orang sudah menganggap aku mandul, tidak subur, dan masih banyak lagi kata-kata buruk yang mereka lontarkan. Terutama dari mertua aku." Tatapan Sinta berubah kelam dan penuh dendam, membuat Aruna seketika bergidik ngeri.


Menyadari perubahan raut wajah Aruna, Sinta kembali mengulas senyum manisnya. "Maaf ya. Aku terlalu sakit hati dengan sikap mereka."


"Eh! Boleh numpang ke toilet nggak? Aku kebelet nih," izin Sinta dan Aruna segera beranjak untuk menunjukkan keberadaan toilet di rumahnya.


Setelah memastikan Sinta masuk ke bilik toilet, Aruna kembali duduk dengan jari yang diketuk-ketukan di pinggiran sofa. Menit yang berlalu, membuat Aruna tersadar jika Sinta sudah terlalu lama di toilet. Kepala Aruna menoleh, tetapi belum mendapati tanda-tanda Sinta akan kembali.


"Kok lama sih? Apa terjadi sesuatu?" Aruna putuskan untuk menyusul ke belakang. Mendapati pintu toilet yang masih tertutup, Aruna mengetuknya pelan sambil berkata.

__ADS_1


"Sinta? Kamu nggak apa-apa kan? Kok lama?" tanya Aruna lembut.


Namun, belum ada jawaban dari dalam, membuat Aruna terpaksa mendorong pintu itu yang ternyata tidak lagi terkunci. "Sinta?" panggil Aruna pelan. Ketika telah terbuka seluruhnya, kening Aruna mengernyit. Dia tidak mendapati Sinta dalam toilet.


"Aku di sini, Aruna," ucap suara dari arah belakang, membuat Aruna terlonjak kaget.


"Sinta. Kamu habis dari mana? Katanya ke toilet?" tanya Aruna tidak suka dengan gelagat Sinta yang terbilang kurang sopan.


"Oh, maaf. Tadi, Aku habis lihat taman samping rumah kamu yang banyak bunga. Apalagi, ada bunga mawar juga di sana. Jujur. Aku sangat tertarik dengan bunga itu, Na," jelas Sinta membuat Aruna menatap lama sosok temannya itu.


"Baiklah," jawab Aruna enggan bertanya lebih dalam lagi.


Saat maghrib akan tiba, Sinta berpamitan. Dia membawa bunga yang dimaksud dengan kata berbinar cerah. Aruna hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Sinta.


Malam kembali menjelang. Aruna dan Kala sudah berada di atas ranjang sambil memeluk satu sama lain. Melihat suaminya yang tampak pulas, Aruna tersenyum dan membelai wajah Kala. Hingga perlahan-lahan, kelopak matanya ikut memberat. Aruna tertidur.


[Aruna... Aruna]


Suara itu terus menggema di telinga Aruna, membuat langkah kakinya semakin lebar menelusuri tanah lapang tandus, tempat kakinya berpijak. Sejak tadi, suara itu tak henti-hentinya memanggil nama Aruna dan ikut kemana pun Aruna pergi.


"Siapa kamu! Jangan ganggu aku!" teriak Aruna berusaha melawan. Kakinya berhenti berlari dengan napas terengah-engah. Pandangannya menyusuri setiap sisi tubuh, barangkali menemukan sosok yang sejak tadi memanggilnya.


[Hihihihi. Kamu sudah tahu aku, Aruna]


Suara itu menjawab pertanyaan yang baru saja Aruna lontarkan. Tawanya begitu melengking diikuti suara seperti desis ular.


"Siapa?! Tunjukkan wujud asli kamu!" tantang Aruna dengan suara meninggi.


Srek. Srek. Srek. Srek.

__ADS_1


Suara langkah kaki yang terseret itu membuat Aruna menoleh ke belakang, dimana sumbernya berasal dari sana. Mata Aruna membeliak ketika melihat sosok wanita tua menyeramkan sedang berjalan ke arahnya, lengkap dengan senyuman iblis.


"Siapa kamu!" tanya Aruna membuat langkah sosok itu terhenti. Wanita tua itu kembali menunjukkan senyum iblis dan menjawab. "Ummu Sibyan. Bukankah kau sudah mengenalinya? Kau sangat familiar dengan itu."


Debaran jantung Aruna bagai berdentum layaknya bom. Tenggorokannya seperti tercekat, kakinya berat dan sulit untuk sekedar bergerak mundur, menjauhi sosok menyeramkan itu. Sedangkan sosok bernama Ummu Sibyan itu terus mendekat, mengikis jarak hingga berdiri tepat di hadapan Aruna.


"Ini—" tunjuk wanita tua menyeramkan itu pada perut Aruna yang membuncit. Bisa Aruna lihat, kuku wanita itu panjang, runcing, dan berwarna hitam.


"Ja-ja-jangan. D-d-dia anakku." Aruna tergagap akibat rasa takut yang kini menderanya.


Wanita tua itu tertawa kencang hingga tawanya itu membuat sekitar mengeluarkan suara pecahan yang entah apa. Suara pecahan yang sangat berisik dan menganggu pendengaran Aruna sekarang. "Pergi kamu!" teriak Aruna dengan tenggorokan yang terasa sakit.


Mata Aruna membelalak saat kuku tajam itu telah menyentuh perutnya. "Anakmu akan mati, hihi," ucap sosok itu dengan pandangan mata menyeramkan.


Kepala Aruna menggeleng, mulutnya susah terbuka untuk mengucapakan sebuah kalimat, yang sayangnya tidak ada suara yang keluar, berakhir dengan mulutnya yang menganga serta matanya yang melotot. Aruna ketakutan. Tubuhnya gemetar.


Apalagi ketika merasakan perutnya ditekan dengan sangat kencang, untuk sekedar merintih pun Aruna tidak bisa. Hingga Aruna melihat, tangan sosok itu menembus perutnya. "Mati.. Mati..." gumam sosok itu lagi.


Aruna coba memejamkan mata yang sayangnya tidak bisa. Di saat seperti itu, dia teringat akan pesan sang Ibu dan Pak Hasan untuk selalu berdoa, memohon perlindungan dari Tuhan. Karena mulutnya susah digerakkan, Aruna berdoa dalam hati, melafalkan banyak doa yang dia bisa.


"Aaargh! Awas kau ya! Panas!" pekik sosok itu kesakitan. Aruna terus melafalkan kalimat Al Quran yang dia bisa hingga perlahan, sosok itu melebur, bersamaan dengan tidurnya yang terbangun.


"Hah! Hah!" Napas Aruna memburu dengan sekujur tubuh yang dipenuhi keringat. Yang pertama kali Aruna lihat adalah perutnya. Aruna bisa bernapas lega saat menyadari tidak terjadi hal buruk pada kandungannya.


"Sayang? Kamu kenapa? Mimpi buruk lagi?" tanya Kala yang ikut terbangun. Matanya masih sedikit terpejam sambil mengusap buliran keringat di kening Aruna.


Hanya anggukan kepala yang Aruna berikan sebagai jawaban. Karena setelahnya, Aruna menangis sesenggukan, begitu ketakutan jika mimpinya menjadi kenyataan.


Kala yang panik, matanya seketika terbuka lebar dan memeluk Aruna erat. "Ada aku. Tenang. Jangan menangis."

__ADS_1


__ADS_2