
"Mbah! Ini.. Ini... " Sinta tak mampu melanjutkan kalimatnya setelah merasakan sesuatu yang berbeda dalam tubuhnya. Ada rasa takut bercampur dengan rasa bahagia karena segala sesuatu yang selama ini diusahakannya pun mendapatkan hasil yang memuaskan.
"Berhasil," ucap Mbah Sumanto sambil mengulas senyumnya yang tampak begitu puas.
"Benar, Mbah? Saya... Sudah hamil?" tanya Sinta masih tidak menyangka. Namun, setelah melihat Mbah Sumanto menganggukkan kepalanya pun membuat Sinta pada akhirnya percaya.
"Sesuai perjanjian di awal, kamu harus membayar saya dengan jumlah yang lebih banyak," ucap Mbah Sumanto menagih janji yang sudah Sinta ucapkan untuk membayar beliau dengan jumlah yang lebih besar bila usahanya untuk memindahkan janin dalam perut Aruna kali ini berhasil.
"Tenang, Mbah. Saya sudah siapkan semuanya," jawab Sinta lalu merogoh tas selempang nya dan mengeluarkan setumpuk uang berwarna merah lalu menyerahkannya kepada Mbah Sumanto. "Ini baru tujuh puluh lima persennya, Mbah. Dua puluh lima persennya lagi akan saya antar besok," ucap Sinta yang mendapatkan sebuah anggukan kepala dari Mbah Sumanto.
"Saya percaya kalau kamu akan menepati janji. Oh iya, ada hal yang ingin saya sampaikan." Mbah Sumanto kembali membuka pembicaraan yang membuat Sinta mau tidak mau harus mendengarkannya barangkali itu merupakan hal yang penting.
__ADS_1
"Tentang apa, Mbah?" tanya Sinta penasaran.
"Kamu pasti tahu jika melakukan ritual seperti ini dibutuhkan sebuah pengorbanan. Saya juga sudah mengatakan dari awal jika ritual ini mungkin akan memerlukan tumbal. Kamu... sudah mempersiapkan persembahannya untuk Ummu Sibyan?" ucap Mbah Sumanto menjelaskannya dengan panjang lebar.
Mendengar hal itu, Sinta pun seketika menautkan kedua alisnya pertanda heran dengan pernyataan dari Mbah Sumanto. Namun, dia pun teringat pada Bu Gayatri yang harus disingkirkan karena penjaganya telah mengganggu ritual yang Sinta lakukan. Di saat itu pun, Sinta meminta agar Bu Gayatri dijadikan sebuah persembahan. Sinta pikir, hal tersebut cukup, tetapi ternyata Mbah Sumanto masih membutuhkan seseorang lagi untuk dikorbankan.
"Bukannya di awal kita sudah memakai Tante Gayatri ya, Mbah? Apakah membutuhkan seseorang lagi?" tanya Sinta yang merasa penasaran.
Sinta pun terperangah tidak percaya setelah mendengar penjelasan dari Mbah Sumanto. Artinya, dia masih harus mencari satu mangsa lagi untuk dijadikan persembahan. "Baiklah, Mbah. Saya akan berusaha mencari korbannya terlebih dahulu. Saya akan pikirkan siapa yang harus saya jadikan tumbal," jawab Sinta pada akhirnya hanya bisa menuruti permintaan Mbah Sumanto karena hal tersebut tidak jauh-jauh demi keselamatan hidupnya.
"Oh iya. Ada satu lagi," ucap Mbah Sumanto dan Sinta mengangguk saja untuk membiarkan Mbah Sumanto mengatakan sesuatu yang sekarang ini ada dalam pikiran beliau.
__ADS_1
"Saya sudah melihat usia kandungan kamu dan saya tafsir, sepertinya usia kandungan kamu sekitar empat bulanan. Itu akan baik untuk kamu agar lebih mudah menjelaskan kepada suami dan keluarga mu nantinya. Mengerti kan?" ucap Mbah Sumanto dan Sinta kembali menganggukkan kepalanya pertanda paham.
"Baiklah, Mbah. Saya paham dan akan berusaha patuh pada setiap hal yang sudah Mbah jelaskan kepada saya. Kalau begitu, saya pamit dulu, Mbah. Saya tidak sabar untuk segera memberitahukan kehamilan saya kali ini," ucap Sinta yang kini tidak mampu menyembunyikan perasaan bahagia yang sedang dirasakannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga ke karya teman othor di bawah ini yuk.. ...
...
__ADS_1
...