
"Aargh!" Sinta berteriak kesal ketika pukul dua belas malam berlalu begitu saja tanpa menghasilkan apa-apa. Setelah melakukan ritual di rumah Aruna, Sinta berpikir janin dalam kandungan Aruna dapat berpindah dengan mudah ke rahimnya. Nyatanya, sampai pukul tiga dini hari, Sinta tidak merasakan tanda-tanda apapun.
"Kenapa sulit sekali? jika cara halus tidak bisa menarik paksa janinnya, maka aku akan gunakan cara kasar," ucap Sinta dengan sorot mata penuh dendam. Dia yang semula duduk di sofa ruang tengah rumahnya, memutuskan untuk menuju kamar. Dia harus tidur agar tenaganya bisa pulih dan melancarkan aksi yang lebih kuat lagi.
"Mana besok Mas Bowo pulang. Hal itu akan membuatku sulit untuk keluar rumah saat malam hari," gumam Sinta merasa frustasi. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk tidur dan akan pikirkan jalan pintas lainnya ketika hari telah berganti pagi.
...----------------...
Sang Surya kembali singgah di cakrawala, menampakkan sinar kuning keemasannya. Bu Gayatri yang masih khawatir pada kondisi Aruna, semalaman tidak bisa tidur dan terbangun saat pukul empat pagi.
Bu Gayatri tidak bodoh akan tanda-tanda yang sudah Aruna alami beberapa hari ini. Beliau cukup paham jika kehamilan Aruna benar-benar dalam incaran makhluk gaib. Pada akhirnya, tepat pukul enam pagi setelah beliau selesai menyapu dan mengepel lantai, seluruh jendela dan pintu rumah beliau buka. Selain bermanfaat untuk pergantian udara, beliau juga ingin rumahnya terhindar dari hal-hal negatif.
Setiap kali membuka pintu atau jendela, beliau selalu mengucapkan kalimat basmalah. Setelah seluruh jendela terbuka, Bu Gayatri mengetuk pintu kamar Aruna agar putrinya itu bangun pagi.
Tok. tok. tok.
"Aruna! Bangun! Sudah siang. Tidak baik ibu hamil bangun terlalu siang!" pekik beliau agar suara sampai ke dalam kamar yang Aruna tempati.
"Iya, Bu!"
Jawaban Aruna dari dalam kamar itu membuat Bu Gayatri bisa bernapas lega. Setidaknya, putrinya tetap bangun pagi walau mungkin semalaman tidak bisa tidur. Beliau pun tersenyum dan segera berlalu menuju dapur.
__ADS_1
Ketika tiba di ambang pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur, Bu Gayatri pun menghentikan langkah dengan tubuhnya yang membeku di tempat. Jantungnya bagai ingin lepas ketika melihat Aruna sedang berdiri di depan dispenser sambil meminum air.
"Ibu? Kenapa berdiri di sana?" tanya Aruna dengan kening berkerut.
Sesaat, Bu Gayatri bimbang antara ingin menjawab pertanyaan Aruna atau memastikan lebih dulu jika itu Aruna atau bukan. Beliau tentu belum setua itu hingga telinganya tidak mampu mendengar dengan baik suara Aruna yang masih berada dalam kamar. Lalu, dimana Aruna yang sebenarnya?
"Ibu? Kenapa?" tanya Aruna lagi sambil mendekati Bu Gayatri. Mendengar pertanyaan Aruna, Bu Gayatri tersadar dari lamunannya. Beliau menggelengkan kepalanya pelan sambil bibirnya berusaha mengulas senyum agar putrinya tidak perlu merasa khawatir.
"Kamu... sejak kapan berada di dapur?" tanya Bu Gayatri untuk memastikan jika apa yang baru saja beliau alami hanyalah ilusi. Bisa saja, Aruna menjawab saat sudah berada di dapur dan beliau menganggap jika suara Aruna berasal dari kamar, padahal bukan.
"Aku sudah sejak tadi di dapur. Kenapa memang, Bu?" tanya Aruna dengan raut wajah bingungnya.
Kerutan di kening Aruna semakin dalam. Putrinya itu tertawa pelan, tetapi tawa itu perlahan-lahan berubah menjadi tawa yang begitu menyeramkan. Aruna seperti tak ingin berhenti tertawa yang semakin lama, suaranya semakin kencang.
"Aruna! Aruna! Kamu kenapa!" tanya Bu Gayatri ketakutan saat melihat Aruna sudah tidak terkendali. Beliau sampai harus menggoyang-goyang tubuh putrinya agar Aruna segera tersadar.
"Aruna!" pekik Bu Gayatri lagi, tetapi Aruna masih dengan tawanya yang kencang.
"Ibu! Ibu kenapa?" Pertanyaan itu membuat Bu Gayatri terdiam. Perlahan-lahan, beliau menoleh ke belakang di mana sumber suara itu berasal. ketika sudah menoleh, Mata beliau membelalak lebar. Ternyata, Aruna telah berdiri di belakangnya dengan kondisi tubuh seperti baru bangun tidur.
"Kenapa ada dua Aruna?" gumam Bu Gayatri bingung.
__ADS_1
"Ibu kenapa sih?" tanya Aruna lagi dan Bu Gayatri masih bisa mendengar tawa Aruna yang saat ini bahunya sedang beliau pegang. Namun, tawa itu telah berganti lirih seperti tawa cekikikan.
Bu Gayatri menarik napasnya dalam sebelum kembali menolehkan pandangannya ke depan. Leher beliau berputar pelan dengan kelopak mata yang terpejam. Beliau tidak sanggup melihat sesuatu yang lebih buruk jika sampai membuka mata.
"Ibu?" Panggilan dari Aruna itu memaksa mata Bu Gayatri untuk terbuka. Dan yang pertama kali beliau lihat ketika matanya terbuka adalah sosok wanita tua yang tersenyum begitu menyeramkan ke arahnya.
"Aaaaargh! Pergi kamu!" Bu Gayatri berteriak dan refleks mundur kemudian menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan. Bu Gayatri terus berteriak histeris hingga membuat Aruna heran dan berusaha menyadarkan ibunya.
"Ibu! Ibu kenapa? Sadar, Bu! Istighfar!" teriak Aruna sambil menepuk-nepuk pipi ibunya pelan. Namun, ibunya justru bergerak semakin tak tentu arah, membuat Aruna terpaksa melepas ibunya karena merasa kewalahan. Beruntung, tidak berapa lama suaminya datang dan berusaha memegangi sang Ibu yang bertindak seperti orang kesurupan.
"Ibu kenapa, Yang?" tanya Kala yang juga merasa kewalahan.
"Aaaaakh! Pergi kamu! Jangan ganggu!" pekik Bu Gayatri yang membuat Aruna menangis ketakutan.
"Mas! Gimana ini? Ibu tiba-tiba seperti ini. Aku aja nggak tahu karena sejak tadi ibu hanya diam berdiri di ambang pintu. Aku panggil-panggil juga nggak menyahut. Aku takut, Mas," jawab Aruna yang tubuhnya sudah gemetaran.
"Kamu tenang ya. Kita bawa Ibu ke kamar dulu. Setelah itu, baru kita bisa meminta tolong Pak Ustad untuk bantu," jawab Kala dan Aruna menyetujui usulan suaminya itu. Butuh waktu lama untuk membawa Bu Gayatri ke kamar karena beliau dalam keadaan tak sadar. Dalam artian, jiwa yang memasuki raga beliau bukanlah asli Bu Gayatri.
Pada akhirnya, Bu Gayatri terpaksa di kurung dalam kamarnya. Setelah itu, Kala keluar dari rumah untuk meminta bantuan pada Pak Ustadz yang tinggal satu kompleks dengan rumahnya. Untuk menghindari kekhawatiran pada Aruna, Kala meminta salah satu tetangga untuk menemani sang Istri di rumah. Bagaimanapun, Bu Gayatri tidak boleh ditinggal sendiri tanpa pengawasan begitu juga Aruna.
"Yang sabar ya, Na. Bu Gayatri pasti akan baik-baik saja," ucap salah satu tetangga Aruna bernama Bu Dian.
__ADS_1