Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 11. Kenapa?


__ADS_3

"Bu Gayatri kemarin alami kesurupan. Katanya sih, malamnya kaya ada sesuatu yang ditabur di atas atap."


"Iya. Saya juga sudah dengar ceritanya pas kemarin nggak sengaja lewat dan mampir sebentar."


"Dan yang buat saya merasa heran itu, Ustadz Soleh bilang kalau yang terjadi pada Bu Gayatri itu salah sasaran."


Ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung sayur itu mulai membicarakan kesurupan yang Bu Gayatri alami. Sinta yang kebetulan berniat untuk membeli sayur, dengan sengaja menguping pembicaraan ibu-ibu kompleks tersebut.


Dalam hati, dia mengumpat kesal karena usahanya gagal lagi. Lalu, apa tadi? Salah sasaran? Apa maksudnya? Tidak ingin menebak-nebak, Sinta segera pergi dari warung sayur tersebut untuk menuju rumah Mbah Sumanto. Dia akan menanyakan lebih lanjut mengapa sampai sasarannya malah mengenai Bu Gayatri dan bukan Aruna.


Setelah berpamitan pada sang Suami, Sinta bergegas menuju kediaman Mbah Sumanto. Dia rela berbohong pada Bowo yang kebetulan sedang berada di rumah karena libur bekerja setelah beberapa hari pergi ke luar kota.


Setelah melewati jalan panjang yang di sisi jalan di tumbuhi pohon-pohon tinggi, akhirnya Sinta tiba di depan sebuah rumah kayu di tengah hutan rimba. Helaan napas kasar pun terdengar dari bibir Sinta karena merasa lelah harus bolak balik ke kota kemudian ke hutan.


Sinta turun dari mobil dan segera masuk untuk menemui Mbah Sumanto. "Mbah?" panggil Sinta yang membuat Mbah Sumanto menatap dirinya datar.


"Kenapa? Mau menyalahkan saya?" tanya beliau tidak bisa menyembunyikan nada kesalnya dalam berbicara.


Sinta pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mbah Sumanto sepertinya sudah bisa membaca pikiran. "Bukan begitu, Mbah. Saya hanya ingin bertanya mengapa bisa sampai salah sasaran," jawab Sinta merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Duduk dulu," titah Mbah Sumanto sambil mempersilahkan Sinta untuk duduk bersila di hadapannya yang hanya berbatasan dengan meja rendah. Mbah Sumanto melemparkan tatapannya pada Sinta yang kini sedang terdiam.


"Kamu tanya kenapa saya bisa salah sasaran? Ya karena kamu bawa rambut ibunya, bukan orang yang kamu incar," jelas Mbah Sumanto yang membuat mata Sinta membulat sempurna.


"Jadi, saya salah ambil rambut, Mbah?" tanya Sinta hampir tidak percaya. Tidak mungkin jika Sinta salah mengambil rambut karena dia mengambilnya dari sisir yang berada di kamar Aruna. Dia bisa tahu jika itu adalah kamar Aruna tentunya setelah melihat barang-barang yang terletak di dalamnya.


"Seperti begitu. Suruhan saya tidak akan salah mengenai sasaran apalagi bila itu sudah menggunakan media rambut," jawab Mbah Sumanto meyakinkan.


"Jadi, saya harus berbuat apalagi, Mbah? Usaha saya juga sudah tidak sebentar. Lalu, mengapa sampai sekarang belum juga berhasil?" Sinta tampak frustasi meratapi nasib hidupnya yang tak kunjung menemukan kebahagiaan karena dihadirkan seorang anak dalam rahimnya.


Mbah Sumanto berdecak kesal mendengar pertanyaan dari Sinta. "Sebenarnya mudah saja jika kamu tidak meminta yang aneh-aneh. Kalau mau punya anak, kan bisa cari ibu hamil lainnya. Kenapa harus dia? Bukankah dari awal sudah saya katakan kalau dia memiliki penjagaan yang kuat?" ucap Mbah Sumanto tampak menggebu-gebu. Sebagai seorang dukun handal yang terkenal akan kemanjurannya, dia tidak terima integritas kinerjanya diragukan.


"Maafkan saya, Mbah. Saya percaya pada kekuatan Mbah Sumanto. Saya akan sabar dan menunggu hingga hari itu tiba," ucap Sinta pada akhirnya tak ingin banyak menuntut.


Sedangkan di tempat lain, Aruna baru saja menyirami bunga di halaman belakang rumahnya. Sang Ibu yang biasanya melakukan kegiatan itu, kini hanya bisa menyaksikan Aruna yang menggantikan beliau sambil duduk kursi rotan yang berada di teras.


"Aruna! Sudah cukup. Temani Ibu di sini," pinta Bu Gayatri sambil melambaikan tangan meminta Aruna untuk mendekat.


"Baik, Bu!" jawab Aruna sedikit berteriak agar suaranya terdengar sampai ke tempat ibunya berada.

__ADS_1


Memang, kondisi tubuh Bu Gayatri setelah mengalami kesurupan sekarang ini melemah. Beliau banyak melamun dan selalu tidak nyambung bila diajak berbincang. "Ibu butuh sesuatu? Biar aku ambilkan," tanya Aruna penuh kesabaran.


Bu Gayatri menggeleng sebagai jawaban. Beliau menepuk kursi rotan di sampingnya, meminta Aruna untuk duduk tenang di sana. Aruna pun menurut dan meraih jemari sang Ibu yang sore itu area kukunya tampak membiru. Di pandangnya kuku-kuku Bu Gayatri dengan penuh ketelitian. Setelah itu, terdengar helaan napas pelan yang dilakukan Aruna untuk meloloskan rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Apa yang Ibu rasakan saat ini? Apa kita pergi ke dokter saja, Bu? Biar Ibu bisa diperiksa keadaanya," tawar Aruna mulai khawatir pada kondisi Bu Gayatri. Selain kuku-kukunya yang membiru, wajah beliau juga pucat pasi dengan kulit bibir yang mengelupas.


Bu Gayatri tersenyum manis mendengar tawaran dari Aruna. "Tidak perlu. Ibu tidak butuh ke dokter karena penyakit Ibu bukanlah sakit medis. Ibu tahu jika kejadian yang kemarin Ibu alami adalah perbuatan tangan manusia," ucap beliau dengan tatapan mata menerawang jauh.


"Kita ke rumah Pak Hasan ya, Bu? Beliau pasti bisa mengobati Ibu," ajak Aruna lagi tidak kenal lelah membujuk ibunya untuk berobat pada orang yang sudah berpengalaman. Sayangnya, jawabnya Bu Gayatri lagi-lagi menolak ajak berobat yang Aruna tawarkan.


"Ibu hanya butuh Allah untuk melawan ini. Nanti, kalau ibu memang sudah tidak sanggup dan butuh ikhtiar lewat orang yang paham, Ibu akan mengatakannya padamu. Saat ini, Ibu hanya ingin kamu selalu dekat dengan Ibu." Bu Gayatri berucap sambil menatap Aruna lembut.


Hal itu membuat Aruna tak kuasa menahan cairan bening yang sejak tadi berusaha dia tahan untuk tidak meleleh di pipi. Air matanya luruh begitu saja dan menganak sungai. "Maaf ya, Bu. Ini semua gara-gara Aruna. Kalau orang itu tidak mengincar Aruna, mungkin Ibu tidak akan terkena sasaran."


"Mana ada? Ini semua sudah takdir, Na. Jangan menyalahkan diri sendiri. Mungkin, ini sudah cara Tuhan untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih hati-hati lagi. Ibu berharap, kamu juga bisa belajar dari semua kejadian yang sudah kamu alami beberapa minggu ini. Lakukan hal-hal baik dan dekatkan diri pada Tuhan," ucap Bu Gayatri menasehati panjang lebar.


Aruna pun mengangguk cepat. Setelah apa yang menimpa kehidupannya, Aruna mulai mendengarkan segala saran yang telah ibunya berikan. Aruna akan mulai menjalankan nasehat ibunya dengan baik agar orang-orang yang berada di sekitarnya akan selamat.


"Pasti, Bu. Aruna akan melakukan hal-hal yang sudah Ibu sarankan."

__ADS_1


__ADS_2