Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 12. Kue kacang


__ADS_3

Di kamarnya yang tidak terlalu luas, Bu Gayatri sedang terbaring dengan posisi telentang sambil menatap langit-langit kamarnya yang bercat putih. Pikirannya sedang melanglang buana entah sampai kemana. Harusnya, Bu Gayatri lekas untuk tertidur. Namun, matanya seperti enggan untuk terpejam.


"Kenapa tubuhku lemah sekali?" monolog Bu Gayatri yang kemudian terdengar suara helaan napas kasarnya.


Saat matanya masih menatap langit-langit kamar, tiba-tiba beliau melihat jika plafon kamarnya seperti ada rembesan air. Hal itu membuat Bu Gayatri kebingungan karena seingat beliau beberapa hari ini tidak ada hujan yang turun. "Lalu, rembesan apa? Apakah sudah lama tetapi aku tidak menyadarinya?"


Namun kejadian yang beliau lihat selanjutnya, membuat mata Bu Gayatri membeliak lebar. Dari rembesan air itu, beliau melihat ada asap hitam yang masuk dan bergulung-gulung bagai angin ****** beliung. Kejadian itu berlangsung selama beberapa detik dan disusul bunyi ledakan yang berada tepat di atas kamarnya. Bu Gayatri menutup telinga karena ledakan itu sangat mengganggu indera pendengarannya.


"Suara apa itu?" gumam beliau panik yang segera turun dari ranjang untuk mendatangi kamar Aruna. Beliau ingin bertanya apakah Aruna juga mendengar bunyi ledakan itu atau tidak.


Tok. tok. tok.


"Aruna! Buka pintunya, Na!" pekik beliau sambil mengetuk pintu dengan kasar. Tidak berapa lama, pintu di depannya terbuka dan Aruna muncul di antara sela pintu dengan matanya yang mengantuk.


"Kenapa, Bu? Apa Ibu butuh sesuatu?" tanya Aruna dan Bu Gayatri segera menyentuh tangan Aruna dengan gemetaran.


Hal itu membuat mata Aruna kini terbuka sempurna karena merasakan basah dan dingin akibat bersentuhan dengan telapak tangan ibunya. Ketika menelisik kondisi sang Ibu, Aruna membuka mulutnya lebar karena merasa terkejut sekaligus khawatir pada kondisi Bu Gayatri yang gemetaran.


"Ibu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Aruna yang segera menggiring sang Ibu untuk masuk ke dalam kamarnya. Hal itu membuat Kala beranjak dari kasur untuk mengambilkan air minum.


"Minum dulu, Bu," ucap Kala sambil menyerahkan segelas air yang segera diterima Bu Gayatri. Namun, karena tubuhnya yang bergetar gelas itu hampir terjatuh jika saja Aruna tidak segera membantu untuk memegangi.


Setelah dirasa cukup tenang, Aruna kembali bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai ibunya datang ke kamar dengan suasana yang panik dan waspada. "Bu? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Aruna lembut.


Bu Gayatri menatap Aruna lalu berkata. "Apa kamu mendengar ada suara ledakan?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, kening Aruna secara otomatis berkerut dalam dengan kedua alisnya yang sudah saling bertaut. "Ledakan? Tidak, Bu. Aruna tidak mendengar apapun," jawab Aruna sambil menatap Kala seakan-akan ingin bertanya apakah suaminya itu mendengar bunyi ledakan.

__ADS_1


"Aku juga tidak mendengarnya, Bu," ucap Kala tampak kebingungan.


Helaan napas kasar pun terdengar dari Bu Gayatri. "Ibu dengar suara ledakan setelah Ibu melihat seperti ada rembesan air di langit-langit kamar Ibu juga sebuah asap hitam yang bergulung bagai angin," jelas beliau yang membuat Aruna dan Kala saling melemparkan pandangan.


"Ya sudah. Ibu tenang ya." Lalu, Aruna menatap Kala dengan pandangan memohon. "Mas? Kamu tidur di luar dulu nggak papa kan? Ibu biar tidur sama aku dulu."


Kala dengan cepat menganggukkan kepala. Dia tidak merasa keberatan sama sekali untuk tidur di luar demi ibu mertuanya. Apalagi, ibunya itu seperti sedang terguncang. "Tidak apa-apa. Biarkan aku tidur di luar. Kalian tidur di dalam sekalian aku mau berjaga-jaga barangkali ada orang jahat yang sengaja membunyikan suara ledakan itu," jawab Kala.


...----------------...


"Asalamualaikum!"


Aruna buru-buru membuka pintu setelah mendengar suara salam dari halaman rumahnya. Setelah pintu terbuka, dia bisa melihat Sinta yang sudah berdiri dengan senyuman lebar serta membawa sebuah paper bag yang dijinjing oleh tangannya. "Sinta?" ucap Aruna bingung akan kedatangan Sinta yang masih terlalu pagi.


"Waalaikumsalam," jawab Aruna lebih dulu karena lupa belum menjawab salam dari Sinta.


"Tentu saja. Silahkan masuk," jawab Aruna sambil membuka daun pintu rumahnya lebar.


Ketika tiba di ruang tengah, langkah Sinta terhenti yang membuat Aruna melakukan hal yang sama. "Kenapa?" tanya Aruna heran.


Namun, ketika melihat tatapan mata Sinta yang tertuju ke halaman samping dimana ibunya berada, Aruna langsung memahami hal apa yang membuat Sinta sampai menghentikan langkah kakinya. "Akhir-akhir ini ibu memang suka melamun," ucap Aruna yang berusaha menjawab kebingungan yang dipancarkan pada wajah Sinta.


"Kasihan Tante Gayatri. Semoga, beliau baik-baik saja," jawab Sinta dengan tatapan mata iba.


"Bolehkah aku menemui Tante Gayatri?" tanya Sinta meminta izin lebih dulu. Aruna pun mengangguk mengizinkan dan berjalan lebih dulu menuju halaman di samping rumahnya.


"Bu? Ada Sinta yang mau ketemu Ibu," ucap Aruna yang seketika membuat Bu Gayatri menoleh cepat lalu tersenyum manis.

__ADS_1


"Eh, ada Sinta. Ayo, duduk di dalam saja," ajak Bu Gayatri yang kini memilih bangkit dan memasuki rumahnya kembali. Aruna yang melihat itu, mengajak Sinta untuk masuk dan mengikuti ibunya.


"Bagaimana keadaan, Tante?" tanya Sinta ketika telah dipersilahkan duduk di ruang tamu dengan posisi sofa yang berhadapan dengan Bu Gayatri. Sedangkan Aruna, dia sedang berlalu menuju dapur untuk mengambil kudapan.


"Baik, Alhamdulillah. Allah masih lindungi saya dari pengaruh mata jahat," jawab Bu Gayatri tersenyum lembut. Hal itu membuat Sinta terbengong dan membuat Bu Gayatri menunjukkan raut wajah penuh tanya.


"Kenapa? Kok malah melamun?" tanya beliau dan Sinta seketika terkekeh pelan.


"Tidak apa-apa, Tante. Syukurlah kalau Tante baik-baik saja. Oh iya. Aku ada oleh-oleh dari Surabaya, Tan. Kebetulan, Mas Bowo pulang bawa oleh-oleh yang lumayan banyak dan aku teringat pada Tante yang katanya sedang sakit. Tolong di terima ya, Tante," ucap Sinta panjang lebar sambil mengulurkan sebuah paper bag berwarna coklat.


Bu Gayatri menerima pemberian dari Sinta dan menggumamkan kata terimakasih berulang kali. "Terima kasih karena sudah mau repot-repot datang kesini apalagi sampai harus bawa bingkisan. Tante terima bingkisannya ya."


Tidak berapa lama, Aruna muncul dengan membawa nampan di tangannya yang berisi dua cangkir dan camilan yang sudah di pindah ke dalam wadah. "Silahkan di minum, Sin."


"Terimakasih, Na," jawab Sinta segera menyesap teh yang sudah Aruna suguhkan.


"Sinta? Ini apa?" tanya Bu Gayatri tiba-tiba yang membuat Sinta terkejut hingga membuat cangkir teh yang kini sedang dipegangnya bergetar dan menumpahkan isinya.


"Aakh," aduh Sinta saat merasakan dress yang dikenakannya basah.


"Ya Ampun! Hati-hati, Sinta!" pekik Aruna panik.


"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja," jawab Sinta laku berdehem pelan.


"Itu kue kacang, Tante. Khas Surabaya," jawab Sinta yang sudah bisa bersikap tenang. Mendengar jawaban dari Sinta, Bu Gayatri mengangguk kepalanya tanda paham.


"Baiklah. Kalau begitu, Tante makan sekarang ya."

__ADS_1


__ADS_2