
"M-m-m-maksud Mbah apa?"
"Jangan ganggu keturunan saya," ucap Mbah Sumanto dengan penuh penekanan di setiap kata yang diucapkannya.
"Mbah? Keturunan siapa yang dimaksudkan?" tanya Sinta yang terdengar seperti gumaman.
"Aruna. Jangan ganggu Aruna atau kamu akan tahu akibatnya," ucap Mbah Sumanto lagi yang membuat Sinta seketika merasa terperangah tidak percaya. Jadi, yang sedang merasuki jiwa milik Mbah Sumanto sekarang ini adalah nenek moyang dari Aruna?
Sinta semakin terkejut ketika melihat Mbah Sumanto menggeram kencang dan kepalanya langsung menengadah menatap langit-langit ruangan hingga Sinta bisa melihat ada asap di atas kepala Mbah Sumanto lalu menghilang lewat ventilasi udara. Sinta menutup mulutnya tidak percaya dan kakinya terasa lunglai sehingga kini, tubuhnya ambruk dan bersimpuh pada lantai.
Sinta menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali untuk menenangkan jantungnya yang kini sudah berdetak tidak karuan akibat menahan rasa takut pada sosok yang merasuki jiwa Mbah Sumanto. "Kamu tidak apa-apa?"
"Aaaakh!" Pertanyaan dari Mbah Sumanto itu pun membuat Sinta memekik kencang karena terlalu terkejut dengan suara Mbah Sumanto yang terdengar dengan sangat tiba-tiba.
"Tidak apa-apa, Mbah. Tadi, Mbah kerasukan siapa?" tanya Sinta yang sudah berhasil menguasai dirinya kembali.
Helaan napas kasar pun terdengar dari Mbah Sumanto. Beliau tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Sinta, melainkan memilih untuk menaruh keris yang saat ini dipegangnya yang sebelumnya sudah dimasukkan ke wadahnya kembali.
"Saya kurang tahu karena sosok itu memaksa masuk ke jiwa saya dengan sangat tiba-tiba," jawab Mbah Sumanto yang wajahnya tampak begitu lelah, mungkin karena energi tubuhnya telah diserap habis oleh sosok yang merasuki jiwanya.
"Jadi bagaimana, Mbah? Apakah lusa tetap akan dilakukan ritual?" tanya Sinta yang segera mengingat pada tujuan awalnya datang ke tempat Mbah Sumanto.
"Saya ikut kamu. Mungkin kamu akan berhasil, tetapi saya tidak bisa menjamin jika sosok itu tidak akan kembali lagi untuk menuntut kamu," ucap Mbah Sumanto memberikan penjelasan disertai resiko yang ke depannya bisa saja akan datang.
"Aku pasti bisa, Mbah. Aku tidak mungkin menyerah karena sudah bertindak sejauh ini. Tepat malam Jumat Kliwon nanti, Aku ingin ritual akan tetap diadakan." Tekad Sinta sudah bulat dan begitu percaya sembilan puluh sembilan persen jika usahanya kali akan berhasil. Perduli setan dengan sosok yang mungkin tidak terima dan akan kembali mendatangi dirinya. Sinta tidak mau tahu, apapun yang terjadi dia harus segera hamil. Jika tidak, maka dia benar-benar akan kehilangan suaminya.
...----------------...
__ADS_1
Malam itu, hujan lebat sedang mengguyur bumi disertai dengan angin kencang yang berhasil menumbangkan sebuah pohon besar yang tumbuh di bahu jalan tepat di depan rumah Aruna. Beruntung, pohon itu ambruk ke arah jalanan dan tidak ada kerusakan serta korban jiwa yang terluka.
Malam pun semakin larut, tetapi hujan sepertinya belum akan berhenti. Justru, hujan itu semakin deras hingga guntur dari langit pun terdengar menggelegar disertai kilat yang begitu mengerikan.
Aruna yang menyadari jika hujan belum juga reda, akhirnya memutuskan untuk berdiri di depan jendela agar bisa menatap pemandangan luar yang tampak gelap dan berkabut tebal. Aruna menghela napasnya pelan saat perasaan rindu pada sang Ibu kembali menghampiri relung kalbu. Mungkin karena suasana hatinya yang masih berkabung, ditambah hujan deras sedang berlangsung pun membuat dia kembali terkenang pada sosok ibunya.
"Aruna?" Panggilan itu tidak mendapatkan respon dari Aruna. Panggilan itu juga sudah yang kesekian kalinya Aruna dengar dari Kala yang meminta dirinya untuk segera tidur karena waktu sudah semakin larut.
"Sebentar lagi, Mas. Aku masih ingin di sini," jawab Aruna sambil mengelus perutnya yang sudah membesar pertanda hari kelahiran anaknya tinggal menghitung hari.
"Kenapa nggak lihat dari jendela kamar kita saja, Yang? Aku kan bisa mengawasi kamu," pintar Kala yang kini sudah melingkarkan lengannya pada perut Aruna.
"Tidak. Aku ingin di sini. Dulu, Ibu sering sekali berdiri di sini untuk melihat matahari yang terbit saat pagi hari dan melihat hujan yang membasahi halaman rumah. Di sini, adalah tempat favorit ibu," jawab Aruna kembali mengenang sosok Bu Gayatri.
Mendengar hal itu, Kala pun tidak bisa berbuat banyak. Dia akan membiarkan Aruna tetap di sana selama beberapa menit lagi. "Baiklah. Aku tunggu di ruang tengah ya? Mau rebahan dulu," pamit Kala yang mendapatkan anggukan kepala dari Aruna.
"Siapa?" tanya Aruna heran sambil mengucek matanya untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah.
"Ibu?" ucap Aruna lirih ketika melihat sosok ibunya berada di antara kabut dengan pakaiannya yang serba putih dan sudah basah kuyup. Aruna hampir tidak percaya dengan penglihatannya, tetapi sosok ibunya yang berdiri di halaman rumahnya itu tampak semakin nyata.
"Ibu?" ucap Aruna lagi sambil mengamati sosok ibunya dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Iya. Itu Ibu. Kenapa Ibu berdiri di sana?" Lalu, sosok ibunya pun melambaikan tangan dan meminta Aruna untuk mendekati beliau. Sesaat, Aruna melupakan sebuah kenyataan jika ibunya telah meninggal. Dia segera keluar dari rumah dan menerobos hujan yang masih begitu lebat.
"Ibu kenapa di sana?" tanya Aruna ketika ibunya tampak begitu menyedihkan dengan rambut panjangnya yang sudah basah hingga membuat tetesan-tetesan air di ujung-ujungnya.
Ibunya itu kembali meminta Aruna untuk mendekat dan entah mengapa, kaki Aruna rasanya sulit sekali untuk dihentikan. Dalam hati, Aruna ingin sekali berhenti dan tidak mendekati sosok ibunya. Namun, respon tubuhnya justru berbeda hingga kini Aruna pun telah berada dalam jarak satu meter dengan ibunya.
"Aruna," panggil ibunya terlihat begitu menyedihkan ketika dilihat dari jarak sedekat ini. Aruna tidak merespon sapaan ibunya. Dia masih tidak tahu apa yang sedang dilakukannya di tengah-tengah hujan deras seperti ini hingga membuat sekujur tubuhnya basah kuyup.
__ADS_1
"I-i-ibu kenapa?" tanya Aruna terbata-bata.
"Boleh Ibu peluk kamu?" tanya ibunya yang membuat sekujur tubuh Aruna seketika terasa kaku dan merinding. Mulut Aruna langsung terbuka lebar ketika menyadari jika itu bukanlah ibunya. Dia berniat untuk mundur, tetapi tangannya tiba-tiba dicekal oleh sebuah tangan dingin yang membuat Aruna menatap tangan tersebut yang ternyata sudah keriput. Sejenak, Aruna seperti lupa bagaimana caranya untuk bernapas. Namun, dia berusaha memberanikan diri untuk mendongak dan hal yang dia lihat selanjutnya berhasil membuat kerja tubuh Aruna seperti berhenti.
"Mau kemana? Bukankah sudah aku katakan jika aku akan datang lagi? Aku hanya ingin menjemput cucuku," ucap sosok di depannya yang sudah tidak lagi berwujud seperti Bu Gayatri. Sosok di depannya berubah menjadi seorang wanita tua yang mengaku sebagai Ummu Sibyan.
"Ummu Sibyan tidak pernah ingkar janji," bisik sosok itu yang membuat Aruna memejamkan mata erat-erat, tetapi merasakan percuma karena walau matanya terpejam dia tetap melihat sosok itu dalam pandangan matanya.
"Pergi... Jangan ganggu lagi... " Aruna memohon dengan tubuhnya yang sudah gemetar.
"Aku tidak akan pergi dengan tangan kosong. Ini cucuku. Biarlah ikut bersamaku," ucap wanita tua itu sambil mengelus perut Aruna.
"Bersiaplah untuk berpisah dengan anakmu. Sebentar lagi, dia akan ikut neneknya hihi." Setelah berucap demikian, Aruna langsung merasakan cengkeraman kuat pada perutnya yang membuat dia seketika memekik kesakitan.
"Aaargh! Sakit! Jangan.... " mohon Aruna dengan air mata yang sudah berderai-derai.
Wanita tua itu justru tertawa begitu lebar saat tangannya berhasil masuk ke perut Aruna dengan begitu mudahnya, bagaikan perut Aruna itu adalah benda tembus pandang. Lalu, mata Aruna membelalak lebar saat seorang bayi berhasil dikeluarkan dengan begitu mudah bersama dengan ari-arinya. "Jangan, Aku mohon... " Aruna ketakutan. Perasaanya bercampur aduk antara marah, sedih, takut, kecewa, dan perasaan lainnya yang kini seperti telah menjadi satu menyerang ulu hatinya.
"Aku berhasil... Ucapkan selamat tinggal untuk anakmu. Dia akan segera menemui Ibu yang baru," ucap wanita tua itu lalu menghilang begitu saja bersama janin yang dikandung Aruna.
Sat itu juga, tubuh Aruna ambruk dan perlahan-lahan, kesadarannya hilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mampir juga ke karya teman othor di bawah ini yuk.. ...
__ADS_1