
Aruna menatap gundukan tanah di hadapannya yang masih basah, pertanda gundukan tanah tersebut belum lama ini dibuat. Di sisi gundukan tanah itu diberi sebuah papan kayu yang sudah bertuliskan nama 'Gayatri Ningtyas' yang di bawahnya juga telah tertulis tahun lahir hingga tahun wafat.
Semenjak bersimpuh di hadapan makam ibunya, air mata Aruna seperti enggan untuk berhenti menetes dengan kondisi dadanya yang terasa begitu sesak. Dia masih belum bisa mempercayai jika kini ibunya sudah meninggalkan Aruna untuk selamanya.
"Bu... Aruna rindu, Ibu," racau Aruna di sela-sela tangisnya yang sesenggukan. Hal itu membuat Kala segera mendekap Aruna ke dalam pelukan dan berusaha untuk menenangkannya.
"Na? Kita pulang dulu ya? Ini sudah sore. Besok kita ke sini lagi ya?" bujuk Kala yang dengan sabarnya memberikan waktu untuk Aruna menangisi kepergian ibunya. Kala memahami jika rasa kehilangan yang Aruna alami pasti begitu besar. Terlebih lagi, sosok Bu Gayatri dalam kehidupan sehari-hari benar-benar banyak memberikan bantuan dan kasih sayang yang begitu tulus. Rasanya, Kala pun masih belum percaya jika ibu mertuanya telah tiada.
"Tapi, Mas—"
"Kamu ingat pesan ibu kan? Aku harus menjaga kamu dengan baik, ya walaupun tanpa ibu minta aku akan tetap melakukannya. Dan mengajak kamu pulang kali ini semata karena aku ngin menjaga kamu, Yang. Bagaimana pun, ada nyawa yang harus kamu jaga di rahim kamu," bujuk Kala lagi tidak ingin menyerah.
Pada akhirnya, Aruna menganggukkan kepala menuruti permintaan suaminya yang memang benar adanya. Dirinya memang sedang berduka, tetapi anak yang kini sedang dikandungnya juga butuh dijaga. "Baiklah, Mas."
Akhirnya, keduanya meninggalkan pemakaman bersamaan dengan matahari yang mulai pulang menuju peraduan.
Ketika masih dalam perjalanan, azan Magrib pun terdengar menggema dan itu membuat Kala memutuskan untuk singgah sejenak di sebuah masjid yang kebetulan akan dilewatinya. Melihat mobil yang berbelok menuju tempat peribadatan, Aruna pun hanya diam dan memahami jika suaminya itu ingin dirinya beribadah terlebih dahulu.
"Kita sholat dulu, Yang," ucap Kala yang segera mendapatkan anggukan kepala dari Aruna. Keduanya pun turun dari mobil lalu masuk menuju serambi masing-masing. Sebelum benar-benar masuk, Kala mengucapkan pesan agar Aruna menunggunya di depan masjid saja yang kebetulan begitu ramai karena orang-orang.
Aruna mengangguk saja dan segera berjalan menuju tempat wudhu. Setelah itu, dia pun segera mendirikan sholat demi ketenangan batinnya serta ingin mendoakan sang Ibu agar diberi tempat terbaik di sisi Tuhan.
__ADS_1
...----------------...
"Mau makan apa, Yang?" tanya Kala ketika mobil bersiap untuk kembali melaju.
"Aku sedang tidak berselera, Mas," jawab Aruna lirih.
"Kamu harus makan dan tetap menjaga kesehatan. Mungkin kamu sedang tidak ingin makan, tetapi anak kita yang kini masih ada dalam rahim kamu pasti butuh asupan makanan," jelas Kala panjang lebar.
"Ya sudah. Aku ikut aja, Mas. Terserah mah makan dimana. Lagi pula, aku tidak menghindari makanan apapun selama hamil," jawab Aruna begitu pasrah.
Mendengar hal itu, Kala pun menghembuskan napasnya pelan lalu menganggukkan kepala. Dia akan memilihkan makanan untuk Aruna.
"Makan di sini mau nggak, Yang?" tawar Kala ketika hampir melewati sebuah rumah makan bernuansa Sunda. Aruna menatap keluar dimana restoran itu berada dan ketika melihat ke luar, matanya seketika membelalak lebar.
"Mas..." cicit Aruna dengan mata yang masih menatap ke arah yang sama.
"Kenapa? Yang! Kamu kenapa?" tanya Kala panik ketika menolehkan kepala dan mendapati Aruna seperti tampak ketakutan. Kala pun bergegas memeluk Aruna dan berusaha menenangkan.
"Kenapa? Ada apa? Tenang ya," ucap Kala walau sebenarnya, dirinya pun merasakan kebingungan.
"Mas.. Itu.. Wanita tua itu ada di sana," tunjuk Aruna dengan tubuhnya yang sudah bergetar.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat Kala segera menatap ke arah yang telah Aruna tunjukkan dan sayangnya tidak menemukan apapun di pintu masuk menuju rumah makan. "Siapa? Wanita tua siapa?"
"Itu. Yang selalu datang di mimpi aku, Mas. Dia selalu berkata ingin mengambil anakku," gumam Aruna yang sudah tak kuasa menahan laju air matanya. Dia segera menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Kala agar tidak melihat wanita tua yang menyeramkan itu lagi.
"Tenang. Aku ada di sini," ujar Kala kembali ingin menenangkan Aruna karena dirinya tidak bisa melihat apa yang Aruna lihat.
"Kita pulang saja ya? Delivery aja gimana?" tawar Kala yang segera membuat kepala Aruna menganggukkan setuju.
"Kita pulang aja, Mas. Aku takut dia akan mengikuti aku lagi," ucap Aruna masih menutup wajahnya dengan telapak tangan. Akhirnya, Kala pun kembali melajukan mobilnya dengan posisi Aruna masih berada di pelukannya. Sedikit kesusahan memang saat dia menyetir hanya menggunakan satu tangan. Namun, hal itu tidak masalah baginya karena yang terpenting Aruna bisa merasa tenang.
Ketika Aruna mencoba untuk melirik ke arah yang sama dimana sosok wanita tua itu berada, sosok itu sudah tidak terlihat lagi. Hal itu membuat Aruna kembali menegakkan tubuh dan menatap sekeliling untuk memastikan jika sosok itu sudah pergi.
Namun, dugaan Aruna ternyata salah karena sosok itu ternyata telah berpindah di sisi jalan tepat di sisi Aruna mendudukkan diri. Sosok itu tersenyum lebar hingga api yang ada di dalam mulutnya menyembul keluar. Aruna seketika bergidik ngeri saat mobilnya melewati sosok itu. Dia memejamkan mata dan segera memalingkan muka agar tidak lagi melihat sosok itu.
Sedangkan di tempat lain, Sinta baru saja tiba di kediaman Mbah Sumanto dengan bibirnya yang sejak tadi tidak berhenti untuk mengulas senyum. "Mbah?" panggil Sinta sambil membawa kendi kecil dimana di dalamnya terdapat ari-ari yang baru saja dicurinya.
"Masuk!" titah Mbah Sumanto yang ternyata sedang duduk bersila di hadapan meja yang kini penuh akan sesaji dengan berbagai jenis.
"Aku sudah dapat ari-arinya, Mbah," ucap Sinta sambil mengangkat kendi itu tinggi yang membuat Mbah Sumanto mengangguk paham.
"Saya harus apa lagi, Mbah? Penjaga dari Aruna sekarang ini sudah meninggal. Pasti jalan untuk mengambil anaknya akan lebih mudah kan, Mbah?" tanya Sinta dengan wajahnya yang penuh harap.
__ADS_1
Hal itu membuat Mbah Sumanto tertawa lebar, merasa puas dengan kinerjanya sendiri. "Tentu saja. Satu minggu lagi tepat malam jumat kliwon dan itu adalah malam terbaik menurut kitab primbon. Jika kamu ingin malam itu juga janin itu dipindahkan, maka kamu harus melakukan ritual yang lebih berat lagi."
Sinta menganggukkan kepalanya dengan antusias. Tentu saja hal tersebut akan dia sambut dengan senang hati dan apapun jalannya akan dia lewati sekalipun terjal, berliku, dan berbatu. "Saya harus melakukan apa, Mbah? Apapun akan saya lakukan agar segera mempunyai anak," tanya Sinta dengan raut wajahnya yang bersinar cerah.