
Ketika pagi hari tiba, seluruh tubuh Aruna terasa sangat lelah seperti telah berjalan berkilo-kilo meter atau telah bekerja selama 24 jam. Nyatanya, rasa lelah yang Aruna alami mungkin karena semalam dia bermimpi bertemu dengan sosok tua itu lagi.
"Mas? Pagi ini Aku nggak masak. Soalnya, tubuhku sakit semua," ucap Aruna ketika baru saja tiba di dapur dan melihat Kala sedang membuat teh hangat. Kala yang merasa tidak masalah pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa. Kita beli makanan saja di depan atau mau makan di warung bubur Pak Haji?" tawar Kala yang segera mendapatkan celengan kepala dari Aruna.
"Akh sedang tidak berselera makan, Mas. Semalam, Aku kembali bermimpi bertemu wanita tua itu lagi. Padahal, terakhir kali Aku bermimpi itu pun sudah lama. Kenapa sosok itu muncul lagi ya?" tanya Aruna begitu penasaran.
Kala yang semula masih berdiri di dekat kabinet pun segera mendekati Aruna yang kini tengah duduk di kursi makan. Dia bergegas mengambil duduk tepat di sebelah Aruna setelah sebelumnya merubah posisi kursi untuk bisa menghadap istrinya. "Serius?" tanya Kala tampak begitu khawatir.
"Iya, Mas. Wanita tua itu kembali meminta anak kita. Namun, aku selalu menolak dan tidak mengizinkan dia untuk mengambilnya," ucap Aruna sangat mengingat akan mimpi yang semalam dirinya alami.
Kala terdiam dengan pikiran yang begitu berkecamuk. Apakah ini pertanda jika nyawa anak dann istrinya sedang dalam bahaya? Sebenarnya, sejak semalam pun Kala tidak bisa tidur akibat memikirkan sebuah cara agar Aruna tidak lagi diganggu oleh sosok tua yang selalu datang di mimpi bahakan berwujud saat berada di dunia nyata.
__ADS_1
"Bagaimana kalau untuk sementara waktu kita tinggal di rumah Mama?" tawar Kala yang membuat Aruna kini terdiam dengan mata yang setia menatap suaminya.
"Aku ragu, Mas. Aku takut kedatanganku hanya akan merepotkan Mama dan Papa," jawab Aruna dengan berkata jujur mengenai keraguannya.
Mendengar hal itu, Kala pun mengacak rambut Aruna gemas. "Mana ada kamu merepotkan? Yang ada, Mama dan Papa akan begitu bahagia kalau kamu mau tinggal bersama mereka. Ya? Mau ya? Ini demi kebaikan kita semua," ucap Kala berusaha membujuk istrinya.
"Baiklah. Namun, aku tidak bisa pergi hari ini. Tunggu sampai empat puluh harinya Ibu ya, Mas? Bagaimana pun, kita harus mengirim doa di hari itu," jawab Aruna yang setuju tetapi masih memberikan sebuah syarat.
"Aruna... Bukankah kita bisa melakukannya di rumah Mama? Kalau kita menunggu sampai empat puluh hari lagi, Bisa-bisa anak kita sudah lahir. Iya kalau lahir. Kalau—"
"Aruna... Maafkan aku... Aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu. Aku hanya ingin menyelamatkan kamu dan juga anakku. Aku juga ketakutan bila hal itu sampai terjadi," jelas Kala seketika menyesali dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Sudah lah, Mas. Sejak awal Aku mengalami kejadian buruk ini, kamu memang tidak pernah mengambil tindakan yang tepat sampai Ibu pada akhirnya harus meninggal dunia," ucap Aruna yang kembali memancing amarah milik Kala yang sejak tadi berusaha ditahan agar tidak meluap.
__ADS_1
"Kamu sedang menyalahkan aku? Nggak salah? Tadi aja kamu diajak pindah susah. Sekarang, kamu mulai menyalahkan aku atas kejadian yang kamu alami? Bahkan, kamu menyalahkan aku atas kepergian Ibu. Bukankah yang saat itu melihat dan berada di dekat Ibu adalah kamu?" ucap Kala begitu panjang lebar dan menggebu-gebu. Napasnya sampai terengah-engah dan membuat dadanya naik turun.
Karena perasaan Aruna saat ini sedang begitu kalut dan sensitif, ucapan Kala pun membuat Aruna pada akhirnya menangis. Dalam hati, Aruna pun membenarkan ucapan Kala mengenai dirinyalah yang saat itu sedang berada di dekat ibunya. Jadi, apakah pem bu nuh sang Ibu yang sebenarnya adalah dirinya? Seketika tubuh Aruna terasa semakin lemah dari sebelumnya.
"Iya. Aku baru sadar jika aku memiliki sangkut-pautnya dengan kepergian Ibu. Aku sudah membuat Ibu tiada dengan keadaan yang begitu buruk. Itu semua salahku," racau Aruna mulai menangis sesenggukan. Hal itu pasti selalu terjadi bila Aruna mulai teringat akan perjuangan ibunya untuk terakhir kali sebelum tiada. Beliau lah yang membuat bayi yang kini dalam kandungan Aruna selamat. Dia ingat jika Ibunya sudah menahan setengah mati agar tidak menyakiti Aruna dan janinnya. Padahal, beliau juga sedang melawan sosok jahat yang waktu itu sedang merasukinya.
Saat sedang larut dalam tangis, Aruna pun langsung mendapatkan sebuah pelukan hangat dari Kala dan elusan lembut di punggungnya. "Maafkan aku. Jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya asal berbicara. Ini bukan salah siapa-siapa. Mungkin, memang susah takdirnya ibu tiada dalam keadaan seperti itu. Tugas kita saat ini adalah mendoakan Ibu semoga beliau tenang di alam sana," ujar Kala berusaha menenangkan istrinya.
Karena terlalu lelah menangis, akhirnya Aruna tertidur kembali. Mungkin juga karena semalam istrinya itu tidak bisa tertidur akibat mimpi buruk yang selalu menghampirinya.
"Apa aku harus menghubungi Pak Hasan untuk datang? Waktu itu Ibu pernah memberikan nomornya kepadaku. Sekarang, dimana nomor itu ya?" gumam Kala berusaha mencari jalan keluar untuk masalah yang sedang keluarganya alami. Bagaimana pun, hal ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Setelah memastikan Aruna tertidur pulas, Kala membawa Aruna ke sofa ruang tamu agar istrinya itu bisa beristirahat dengan baik. Dia juga menutupi tubuh Aruna dengan selimut dan duduk bersila di hadapan istrinya. "Aku sudah berjanji untuk melindungi kamu. Apapun rintangannya nanti, aku akan berusaha dengan keras," ucap Kala kemudian melabuhkan kecupan di kening Aruna.
__ADS_1
Ketika Kala kembali menegakkan tubuh, dia pun teringat pada ponsel Bu Gayatri yang mungkin masih berada di dalam kamarnya. Dia akan mencoba mencari agar bisa menemukan nomor Pak Hasan.