
"Mbah? Kenapa sampai sekarang belum berhasil?" tanya seorang wanita pada dukun yang dia datangi ketika malam hari tiba. Dukun itu bernama Sumanto. Orang-orang biasa memanggil dengan sebutan 'Mbah'.
Mbah Sumanto berdecak pelan. "Apa tidak sebaiknya kamu cari mangsa lain yang cocok? Penjagaan dia sangat ketat dari leluhur," jawab beliau merujuk pada orang yang akan janinnya pindah ke rahim seorang wanita di depannya.
"Tidak bisa, Mbah. Kandungan dia sudah hampir delapan bulan. Bukankah lebih banyak usianya, akan lebih matang untuk dipindahkan?" Wanita itu tetap bersikeras dengan tujuan awalnya.
Wanita itu terpaksa melakukan tindakan melanggar aturan Tuhan demi menjadi seorang perempuan seutuhnya, yaitu mengandung dan melahirkan. Apalagi yang tidak dia miliki kecuali dua hal itu? Suaminya kaya, rumah besar, usaha lancar, dan masih banyak lagi kesempurnaan hidup yang dimilikinya.
Semua itu bermula ketika ibu mertuanya tak segan menyindir dan selalu membawa-bawa soal kehamilan.
"Kamu gimana sih, Wo? Menikah sudah tiga tahun kok belum punya anak juga. Di periksa ke dokter gitu? Barangkali istri kamu mandul," ucap Ibu mertua pada anaknya yang bernama Bowo, yang tidak lain adalah suami dari si Wanita.
Wanita itu tidak lain adalah Sinta. Kehidupannya nyaris sempurna. Namun, semenjak ibu mertuanya berkata demikian, kesempurnaan itu seakan sirna. Bowo, sang Suami seringkali mendesak agar Sinta segera mengandung. "Aku nggak mau tahu. Pokoknya, kamu harus segera hamil, Sin. Kalau tidak, aku akan menikah lagi," ucap Bowo saat itu, yang semakin membuat Sinta kehilangan akal sehatnya.
Karena Bowo ada pekerjaan di pulau Jawa, Sinta pun ikut suaminya untuk pindah tempat tinggal. Di sana, Sinta banyak bertemu orang-orang yang pernah Sinta kenal. Dari salah satu kenalan itu ada yang memberitahu jika Aruna sudah mengandung dengan usia tujuh bulan.
"Kenapa Aruna sangat beruntung? Suaminya tampan, punya lingkungan keluarga yang baik. Dia juga baru beberapa bulan menikah, tetapi hamil lebih dulu. Sedangkan aku?" Sinta mulai membanding-bandingkan diri dengan Aruna.
Puncaknya adalah, Sinta yang memutuskan untuk mendatangi Mbah Sumanto demi bisa menjadi seorang ibu. Semua teror dan mimpi yang Aruna alami adalah hasil dari kerja Mbah Sumanto. Tentu saja atas bantuan jin yang sudah Mbah Sumanto perintahkan.
"Aku bawa rambut orang itu, Mbah. Ini. Katanya, hal itu bisa mempermudah jin untuk mengenali," ucap Sinta sambil menyodorkan beberapa helai rambut yang sudah dia taruh dalam plastik klip. Tentu saja hal itu Sinta ambil sendiri dari rumah Aruna saat berkunjung, dengan alasan ingin numpang ke toilet.
__ADS_1
Mbah Sumanto menerima rambut itu dengan kepala yang mengangguk-angguk. "Kita tunggu sampai jam dua belas. Saya akan segera melakukan ritualnya," ucap beliau yang mulai mengeluarkan rambut dalam wadah.
Hingga waktu yang ditunggu itu akhirnya tiba. Mbah Sumanto mulai menjalankan ritual dengan mulut yang komat-kamit. Beliau juga membakar kemenyan dan rambut yang tadi Sinta bawa, membuat kepulan asap itu mengeluarkan bau kemenyan. Beberapa menit berlalu, Mbah Sumanto tampak sudah selesai.
Beliau mengambil sesuatu dalam kendi dan menyerahkannya pada Sinta. "Makan ini. Jangan sampai ada yang tersisa," pinta beliau dan Sinta segera menerima kendi kecil itu.
"Ini apa, Mbah?" tanya Sinta kebingungan. Ketika melihat isi dari kendi itu, seketika Sinta menutup mulut karena perutnya terasa mual. "Ini bau sekali, Mbah," keluhnya yang diabaikan begitu saja oleh Mbah Sumanto.
"Itu ari-ari," jawab Mbah Sumanto dengan santainya.
Mata Sinta membelalak lebar dengan mulut yang terbuka. "Mbah? Apa tidak salah aku disuruh makan ini?"
Mbah Sumanto kembali berdecak. Wajahnya tampak kesal karena sejak tadi, Sinta terlalu banyak bertanya. "Kamu ingin hamil bukan? Jadi, lakukanlah tanpa banyak bertanya."
"Memangnya, ini punya siapa, Mbah?" tanya Sinta ingin tahu lebih lanjut.
"Punya orang yang baru melahirkan. Beruntung kamu. Saya bisa dapatkan itu tanpa kamu bersusah payah lebih dulu. Setelah ini, baru kamu harus mencarinya sendiri," ungkap Mbah Sumanto.
Sinta menatap ari-ari di depannya. Perutnya bergejolak hingga mengharuskannya menutup mulut rapat-rapat. Mau tidak mau, Sinta harus memakannya. Dia mengambil dari dalam kendi dengan menutup hidungnya.
Dia mengangkat tinggi-tinggi daging itu di depan wajahnya. Tampak darah menetes pada baju yang Sinta kenakan. Sinta menarik napas dan segera menggigit sedikit demi sedikit ari-ari bayi itu.
__ADS_1
Huek. Huek.
Gigitan daging yang baru masuk ke mulut Sinta langsung terjatuh lagi ke lantai akibat Sinta yang mual. Bau anyir dan busuk menyeruak indera pendengarannya.
"Makanlah tanpa bernapas. Itu akan menyelamatkan kamu dari rasa bau," perintah Mbah Sumanto tanpa menatap Sinta karena beliau sedang sibuk dengan sesuatu di tangannya.
Entah berapa lama waktu yang Sinta habiskan untuk menyelesaikan ritual yang Mbah Sumanto inginkan. Dia segera meminum segelas air untuk menetralisir bau tidak sedap yang masih tersisa.
"Bagus. Ini baru awal. Selama empat puluh hari ini, kamu harus mencari ari-ari untuk di makan. Lakukan pada hari Selasa, Jumat, dan Sabtu. Karena selama empat puluh hari itu, saya akan coba memindahkan janin," jelas Mbah Sumanto yang membuat Sinta bergidik ngeri.
Namun, demi bisa mencapai tujuan hidupnya, Sinta pun menyetujui. Mbah Sumanto bangkit dan masuk ke suatu ruangan yang entah apa. Tidak berapa lama, beliau kembali dengan membawa sesuatu yang di bungkus kulit jagung kering dan sesuatu lagi yang di bungkus daun pisang.
"Ini, bunga tujuh rupa. Larutkan dalam satu liter air dan berikan cipratan-cipratan ke rumah yang bersangkutan. Kelilingi rumah itu sampai airnya habis." Mbah Sumanto memberikan bungkus daun pisang disusul kulit jagung kering.
"Ini, bakar di belakang rumah yang bersangkutan. Kamu sudah mengetahui pintu belakang rumah itu kan?" tanya Mbah Sumanto yang dengan cepat mendapat anggukan dari Sinta.
"Setiap sekali putaran, kamu harus menggedor pintu itu selama tiga kali."
Dan Mbah Sumanto masih menjelaskan panjang lebar mengenai barang-barang yang beliau berikan. Masih ada media tanah kuburan juga yang harus Sinta taburkan di atap rumah Aruna.
Pukul dua malam, akhirnya Sinta keluar dari gubuk tempat Mbah Sumanto tinggal. Beruntung, Bowo sedang ada urusan di luar kota dan harus menginap hingga lusa. Dia bisa melakukan ritual itu besok malam tepat pukul dua belas malam, seperti yang sudah Mbah Sumanto terangkan.
__ADS_1
"Maafkan aku, Aruna. Masa depan kamu masih panjang karena kamu baru menikah. Jujur, aku iri padamu oleh karena itu, aku ingin merebut bayimu," ucap Sinta dengan senyum iblisnya.