Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 25. Pencerahan


__ADS_3

Aruna menatap sebuah rumah sederhana di hadapannya kemudian menatap nomor rumah yang tertera dan mencocokkannya. "Bener, Mas. Ini alamat rumahnya," ucap Aruna merasa yakin.


Kala pun menganggukkan kepalanya dan membenarkan dugaan dari istrinya. "Aku akan tekan bel rumah. Semoga, ada seseorang yang membukakannya." Setelah berucap demikian, Kala segera menekan bel yang sudah tersedia di sisi pintu pagar dan tidak berapa lama, ada seorang wanita yang keluar dari balik pintu utama sambil menggendong anak kecil yang usianya mungkin sekitar dua tahunan.


"Siapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu yang sudah berdiri di depan pagar, tetapi tetap membiarkan pintu dalam keadaan terkunci.


Aruna pun menganggukkan kepalanya untuk menyapa wanita tersebut. "Apa benar dengan ibu Hamida?" tanya Aruna sambil mengulas senyumnya ramah.


Wanita itu mengernyitkan keningnya merasa bingung. "Iya. Dengan saya sendiri. Ada apa ya?"


Lalu, Kala pun menceritakan kejadian yang Aruna alami mengenai kehamilannya yang tiba-tiba hilang hingga dia menceritakan tentang Pak Hasan yang meminta dirinya dan sang Istri untuk datang menemui Bu Hamida yang katanya berhasil merebut janin untuk kembali ke rahimnya.


Setelah mendengar cerita dari Kala, Bu Hamida pun menatap Aruna dengan pandangannya yang iba. Tanpa menunggu lebih lama lagi, beliau pun mempersilahkan Aruna dan Kala untuk masuk ke rumahnya. "Baiklah. Silahkan masuk terlebih dahulu. Nanti akan saya ceritakan lebih detailnya," ajak beliau dan Aruna memberikan isyarat anggukan kepala kepada Kala pertanda kalau mereka sudah mendapatkan lampu hijau.


Keduanya dibawa menuju ruang tamu dan tidak lama seorang pelayan datang dengan membawa nampan yang berisi teh hangat dan camilan. "Silahkan di minum dulu," ucap Bu Hamida mempersilahkan Aruna dan Kala.


Aruna pun mengangguk dan mengambil cangkir itu untuk dia minum isinya. Dia kembali meletakkan cangkir itu setelah menyesap teh yang sudah disajikan lalu mengalihkan perhatiannya pada Bu Hamida yang kini tampak kewalahan mengurusi putranya. "Boleh saya gendong anaknya, Bu?" pinta Aruna seketika ingin merasakan bagaimana rasanya menimang anak.


"Boleh," jawab Bu Hamida disertai ulasan senyum ramahnya. Anak dari Bu Hamida itu pun kini telah duduk di pangkuan Aruna dengan begitu tenangnya. Hal itu membuat Bu Hamida terkekeh pelan dan berkata. "Maafkan putra saya yang sudah merepotkan ya, Mbak. Dia suka sekali kalau melihat orang cantik." Aruna pun terkekeh pelan dan tidak menjadikan hal itu sebuah masalah.


Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang membuat Aruna merasa tidak tahan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Dia pun memilih menanyakan secara langsung mengenai perjuangan Bu Hamida demi bisa mendapatkan anaknya kembali. "Jadi bagaimana, Bu? Apakah saya boleh meniru cara yang sudah Bu Hamida lakukan untuk merebut anak Ibu kembali? Bagaimanapun juga, saya masih belum rela anak saya tiada dengan cara janggal seperti itu," ucap Aruna memulai topik pembicaraan yang lebih serius.


Bu Hamida tersenyum lalu menghembuskan napasnya dengan berat. "Boleh-boleh saja. Hanya saja, jalan yang akan kamu tempuh tidak akan mudah," beritahu Bu Hamida tampak bersungguh-sungguh dalam ucapannya.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, Bu Hamida melakukan apa untuk bisa membuat janin Ibu kembali?" Kini giliran Kala yang bertanya karena kini kepalanya mulai dipenuhi banyak pertanyaan mengenai kejadian tersebut.


"Baiklah. Akan saya ceritakan semuanya untuk kalian jadikan pelajaran. Jadi, sebelum saya melakukan tindakan itu, saya sudah benar-benar memastikan jika tindakan saya tidak keluar dari jalur kemanusiaan karena hal itu bisa menjadi syirik."


"Saat itu, saya pun mengalami hal serupa dan berniat untuk mengambil anak saya lewat dukun. Namun, Pak Hasan melarang karena hal itu sama saja saya akan bersekutu dengan setan. Suatu hari saat saya berkunjung ke kampung halaman orang tua saya, tidak sengaja saya melewati sebuah gubuk yang ternyata adalah milik seorang dukun di kampung tersebut. Seperti yang kalian ketahui, dukun itu menyediakan jasa pemindahan janin."


Aruna dan Kala begitu serius mendengarkan penjelasan dari Bu Hamida tanpa berniat untuk menyela. Keduanya sama-sama ingin mengamati dan mencermati setiap kalimat yang Bu Hamida ucapkan agar mereka tidak sampai salah jalan.


"Tepat di depan gubuk itu, mobil yang suami saya kendarai ternyata mengalami mogok dan terpaksa berhenti untuk memperbaikinya. Saat itu, suasana masih sore dan datang seorang wanita yang mengunjungi gubuk milik dukun tersebut. Saat itu lah saya mulai mendengar percakapan seseorang di dalam sana yang membahas tentang pemindahan janin."


"Wanita tersebut ternyata merupakan tersangka yang mendadak hamil karena mencuri janin milik wanita hamil lainnya. Dukun itu berkata.. " ucap Bu Hamida terhenti dan kini meminta Aruna untuk duduk di sampingnya.


"Saya akan bisikan hal ini. Tolong mendekat lah," pintar Bu Hamida dan Aruna segera mendekat dengan putra Bu Hamida yang dia gendong dan kembali dia pangku.


"Hanya itu saja, Bu?" tanya Aruna yang menganggap jika hal tersebut sangatlah mudah.


"Hanya itu, tetapi untuk melakukannya butuh bertaruh nyawa karena ari-ari itu dijaga oleh sosok wanita tua—"


"Ummu Sibyan?" sela Aruna yang membuat Bu Hamida menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Aruna.


"Itu saja. Tapi saya yakin dengan kekuatan doa dan bantuan dari Tuhan, semuanya akan baik-baik saja seperti yang sudah saya lakukan dan menemui keberhasilan. Yang perlu diingat adalah, manusia hanya perlu menguatkan iman untuk melawan manusia yang bersekutu dengan setan," jelas Bu Hamida mengakhiri topik pembicaraan mengenai pemindahan sebuah janin pada ibu hamil.


Tepat pukul lima sore, Aruna dan Kala berpamitan untuk pulang. Sebelum benar-benar pergi, Aruna sudah meminta nomor telepon Bu Hamida barangkali di tengah-tengah menjalankan misinya, dia butuh bertanya dengan lebih lanjut.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Bu. Terimakasih juga atas jamuan makannya dan sudah menyempatkan waktu ibu untuk bercerita mengenai pengalaman ibu. Sampai jumpa di lain waktu ya, Bu," pamit Aruna sambil melambaikan tangannya kepada Bu Hamida yang mengantar kepulangannya dengan Kala.


"Sama-sama. Jaga diri baik-baik, Mbak. Yakinlah jika semua yang ada di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin," ujar Bu Hamida memberikan semangat.


Sepeninggalan Aruna, Bu Hamida pun kembali masuk setelah mengunci pagar rumahnya dengan baik. Beliau sampai melupakan putranya yang dia tinggal begitu saja di ruang tamu tanpa ada pengawasan. "Sayang," ucap Bu Hamida ketika baru tina di ambang pintu, tetapi langkahnya seketika terhenti ketika melihat sang Putra ternyata sudah berada di dalam gendongan seorang wanita yang posisinya sedang membelakangi dirinya.


"Kamu siapa?" tanya Bu Hamida yang membuat wanita itu terkekeh pelan lalu menoleh hingga Bu Hamida bisa melihat wajah dari wanita tersebut.


"Aaakh!" Bu Hamida memekik ketakutan ketika menyadari jika sosok wanita itu memiliki wajah yang buruk rupa dan sudah tua. Beliau masih teringat jelas jika pemilik wajah itu bukanlah manusia dan beliau pernah bertemu dua tahun yang lalu, saat...


Tunggu.


Bu Hamida seketika teringat sesuatu dan segera mengambil anaknya dengan paksa dari gendongan wanita tua itu. "Pergi kamu! Jangan ganggu anak saya lagi!" okok Bu Hamida sambil menahan getar di tubuhnya.


Lalu, tanpa aba-aba putranya menangis kencang dengan kedua matanya yang membelalak seperti takut akan sesuatu dan Bu Hamida menyadari jika putranya takut pada sosok yang kini tengah berdiri di hadapannya.


"Pergi kamu! Dasar setan! Pergi! Tempatmu bukan di sini!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...mampir juga ke karya teman othor di bawa ini yuk ...


__ADS_1


__ADS_2