
Bugh.. Bugh.. Bugh..
Aruna yang baru saja terlelap karena sejak tadi posisi tidurnya kurang nyaman, kembali memaksa matanya untuk terbuka setelah mendengar suara gedoran di pintu samping rumah. Saat Aruna coba menajamkan pendengaran, suara itu tak lagi terdengar.
“Mungkin itu hanya perasaanku saja,” gumam Aruna memutuskan kembali tidur. Namun, baru saja matanya terpejam, suara itu kembali terdengar hingga tiga kali gebukan.
"Mas! Bangun, Mas!" lirih Aruna setengah berbisik. Beruntung, Kala tidak sulit untuk dibangunkan bila itu menyangkut dirinya. Suaminya itu langsung membuka mata dan bangkit dari tidurnya. Kedua alisnya sudah bertaut bingung mengapa di tengah malam seperti ini, Aruna membangunkannya.
"Kenapa, Yang?" tanyanya heran.
"Tadi Mas dengar suara pintu di gedor-gedor tidak?" tanya Aruna sedikit merasa takut. Mendengar itu, kernyitan di kening Kala semakin dalam. "Nggak tuh. Kamu dengar ya?" Aruna mengangguk sebagai jawaban.
Bugh. Bugh. Bugh.
"Tuh kan, Mas. Ada suara lagi," lirih Aruna panik. Kala yang juga mendengar suara tersebut, memilih beranjak dan memeriksa ke arah sumber suara. Namun, Aruna dengan segera mencegah.
"Di sini aja, Mas. Aku takut," dengernya dan Kala hanya bisa menghela napas kasar.
"Kita harus periksa, Yang. Takut ada maling atau orang yang berniat jahat," ucap Kala berusaha memberikan pengertian. Pada akhirnya, Aruna menyetujui usul sang Suami, tetapi dia turut memeriksa keadaan. Dia tidak berani ditinggal sendirian.
Keduanya berjalan menuju pintu samping rumah dengan cara mengendap-endap. Ketika tiba di sana, tidak ada siapa-siapa di balik pintu. Kala sudah memeriksa dengan membukanya dan melihat sekeliling luar rumah. "Tidak ada siapa-siapa, Yang," beritahu Kala yang membuat pikiran Aruna semakin keruh. Apalagi, Aruna sempat melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam.
__ADS_1
"Jangan-jangan, dia hantu yang sejak kemarin ganggu aku, Mas," tebak Aruna ketika Kala memutuskan untuk menutup pintu lagi.
"Istighfar, Yang. Baca doa ya. Aku juga akan bantu doa semoga tidak terjadi hal buruk," ucap Kala berusaha menenangkan. Kala memutuskan untuk mengajak Aruna kembali ke kamar. Setibanya di sana, Kala justru sibuk mengambil mukenah dan Al Quran untuk kemudian diberikan pada istrinya.
"Kenapa ini?" tanya Aruna heran.
"Kita sholat malam untuk meminta perlindungan. Seperti kata Pak Hasan dan Ibu, kita juga harus berdoa meminta perlindungan pada Tuhan." Mendengar kalimat tersebut, Aruna tersenyum manis. Apa yang suaminya katakan memang benar. Aruna putuskan untuk mengambil air wudhu begitu juga Kala.
Malam itu, Aruna dan Kala melaksanakan sholat malam agar kegelisahan yang melanda kehidupan mereka bisa kembali mereda. Di tengah-tengah gerakan sholat yang keduanya lakukan, gedoran pintu kembali terdengar beberapa kali, disusul oleh sebuah suara di atas atap seperti pasir yang ditabur.
Pikiran Aruna sudah tidak karuan membayangkan hal buruk akan terjadi pada dia dan bayinya. Namun, dia merasa telah menjadi manusia yang tidak tahu diri. Di saat sedang menghadap Tuhannya, justru pikirannya penuh akan urusan dunia. Jadi, Aruna berusaha mengutamakan sholat yang sedang dilakukan, mengesampingkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
"Assalammualaikum warohmatullah." Mendengar Kala mengucap salam pada tahiyat akhir, Aruna ikut mengucap salam. Setelah itu, keduanya fokus pada doa masing-masing.
Aruna selesai berdoa lebih dulu. Karena merasa haus, dia putuskan untuk mengambil air ke dapur. Suasana malam semakin sepi, apalagi ketika Aruna bisa mendengar tetes air dari wastafel. Agar penglihatannya jelas, Aruna menghidupkan lampu dan segera melakukan tujuan awalnya untuk minum.
Blubuk.. Blubuk..
Suara air galon begitu jelas terdengar saat Aruna coba memindahkan isinya pada sebuah gelas. Setelah terisi penuh, Aruna segera menenggak sampai habis. Belum juga air itu masuk ke tenggorokan, pandangan Aruna melihat sesosok wanita tua yang bersembunyi dibalik tirai.
Air yang semula berada dalam mulutnya, seketika berhamburan keluar. Mata Aruna sudah membelalak dengan jantung berdebar-debar. Ketika Aruna melihat lebih jelas lagi, sosok itu berada di luar rumah, tepatnya di depan jendela kaca. Hanya siluetnya yang terlihat, tetapi Aruna bisa mengenali jika sosok itu merupakan wanita tua yang sudah bungkuk.
__ADS_1
"Siapa itu?" gumam Aruna penasaran. Dia tidak pernah berpikir jika itu merupakan sosok hantu yang selama ini memasuki mimpinya. Kepalanya hanya berputar pada kata maling atau orang jahat.
Dengan langkah kaki pelan, Aruna mengendap, mendekati jendela rumahnya. Jemarinya sudah bersiap untuk menyibak tirai. Setelah mengatur napasnya, perlahan-lahan Aruna menggeser tirai di depannya dan..
"Aargh!" Aruna memekik saat tirai itu telah terbuka. Tubuhnya refleks mundur dengan keadaan gemetar. Lagi. Sosok yang selama ini datang dalam mimpi, telah menjelma menjadi wujud nyata.
"Aruna... Aku ingin bayimu..." gema suara yang begitu lirih terdengar di telinga Aruna.
"Tidak! Ini anakku! Pergi kamu!" pekik Aruna menolak keras. Tidak akan Aruna biarkan makhluk itu membawa anaknya. Tawa pelan pun terdengar menggema dari sosok di balik jendela. Sosok itu masih berdiri di sana dengan tertutup tirai rumahnya.
"Pergi kamu!" teriak Aruna kencang. Hal itu terdengar oleh Bu Gayatri dan Kala yang masih melanjutkan membaca Al Quran.
"Aruna! Ada apa?" tanya Bu Gayatri panik sambil membawa Aruna dalam pelukan.
"Aruna!" Kala pun keluar dari kamar dengan wajah cemas dan panik.
"Bu! Nenek tua dalam mimpiku jadi nyata. Dia ada di ... sana." Suara Aruna berubah lirih di akhir kalimat saat tidak mendapati sosok itu lagi.
"Apa, Na? Nenek tua siapa?" tanya Bu Gayatri tidak melihat siapapun di tempat yang Aruna tunjuk. Lalu, Kala berinisiatif menyibak tirai dan tidak mendapati siapa-siapa.
"Tidak ada siapa-siapa, Na. Kamu tenang ya?" ucap Kala menenangkan. Dia mengambil alih sang Istri dari ibu mertuanya, lalu didekapnya erat.
__ADS_1