
"Aruna! Kamu sudah sadar?"
Suara Kala terus terdengar hingga membuat mata Aruna yang semula terpejam—kini perlahan terbuka. Kelopak matanya memicing untuk menyesuaikan cahaya yang masuk melewati retinanya. Pemandangan yang pertama kali Aruna lihat adalah ruangan bernuansa putih dengan aroma obat-obatan yang begitu menyengat memasuki indera penciumannya.
Tidak berapa, ada seorang wanita yang memakai jas putih—yang merupakan ciri khas dari seorang dokter pun datang menghampiri Aruna dan memeriksa keadaannya yang sekarang ini. Entah apa yang dibicarakan dokter itu dengan sang Suami karena Aruna masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan berusaha mencerna telah terjadi hal apa hingga mengharuskan tubuhnya terbaring di tempat tersebut.
"Aruna? Semua akan baik-baik saja," ucap Kala yang kini bergerak untuk menyentuh punggung tangan Aruna yang tidak terdapat sebuah infus. Kala pun mengecupi punggung tangan Aruna dengan penuh kelembutan sampai Aruna merasakan ada tetesan air yang dirasakan oleh kulitnya. Saat itu juga, Aruna menunduk untuk bisa menatap Kala.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padaku, Mas? Kenapa aku lupa," tanya Aruna kembali memejamkan mata saat melihat mata suaminya itu telah berair.
"Kamu tidak ingat?" Kala justru balik bertanya yang membuat Aruna kembali membuka matanya untuk menatap wajah suaminya. Lalu, ingatannya akan hal yang begitu menyakitkan untuknya itu seketika terngiang-ngiang di kepala. Aruna mulai mengingat semuanya dari awal mula dia yang melihat sosok ibunya di halaman rumah sampai sosok itu berubah menjadi seorang wanita tua dan....
"Mas! Anak kita!" pekik Aruna seketika teringat jika nyawa anaknya dalam keadaan bahaya. Dia meraba perutnya dan berharap jika kejadian yang dialaminya hanyalah mimpi. Namun, hal itu segera terbukti saat Aruna merasakan jika perutnya yang semula membuncit kini sudah rata—tidak seperti orang yang sedang hamil.
"Mas! Anak kita mana?!" tanya Aruna lagi mulai panik. Dia sampai terbangun untuk melihat bagian perutnya dengan sungguh-sungguh, tetapi yang dia dapati tetaplah sama, yaitu rata. Sejenak, Aruna seperti lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Jantungnya pun seperti ikut berhenti berdetak, lalu laju air matanya pun langsung menganak sungai.
"Mas...." ucap Aruna lirih karena merasakan sesak yang kini seperti menghimpit rongga dadanya. Sosok yang mengaku Ummu Sibyan itu telah berhasil membawa anaknya.
__ADS_1
Kala yang melihat bagaimana terpukulnya Aruna pun segera memeluk sang Istri untuk menenangkan. Sebagaimana sedih yang dirasakan Aruna, Kala pun merasakan hal yang sama karena darah dagingnya telah tiada. Namun, ada hal yang membuat semuanya terasa janggal dan menurut dokter pun tidak masuk akal.
Setelah melihat Aruna yang sudah lebih tenang, Kala pun membingkai kedua wajah Aruna lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan. "Kamu tenang ya? Semua akan baik-baik saja," ucap Kala yang tidak mendapatkan respon apapun dari Aruna.
Bagaimana pun, Aruna tidak akan tinggal diam atas kejadian yang talah menimpanya. Dia akan mencari seseorang yang sudah mencuri janinnya dengan cara memaksa seperti ini. Aruna tidak rela dan akan menuntut balas atas perbuatan orang tersebut.
Satu minggu setelah kejadian buruk itu, tubuh Aruna pun telah pulih kembali. Dia memutuskan untuk tinggal bersama orang tua Kala agar ada seseorang yang selalu menemaninya di saat suaminya sedang pergi bekerja. Selama satu minggu itu juga, Aruna belum menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Kala maupun orang tuanya. Dia masih terlalu syok dan berusaha menata pikirannya kembali. Dia juga akan menyusun rencana untuk mengambil anaknya kembali. Semua itu belum terlambat dan Aruna percaya jika kekuatan doa sangatlah kuat.
"Assalamu'alaikum," sapa sebuah suara yang berasal dari arah depan pun membuat lamunan Aruna tersentak. Dia menatap ke arah pintu masuk dan mendapati Sinta tengah berdiri di ambang pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Rindi, yang merupakan ibu mertua Aruna.
"Masuk, Sin," sambut Aruna lalu mempersilahkan Sinta untuk duduk. Aruna terus memperhatikan gerak-gerik Sinta yang semenjak kedatangannya selalu mengelus bagian perutnya. Bahkan, Aruna pun bisa melihat jika perut tersebut tampak membuncit dan begitu berbeda dengan Sinta yang ditemuinya beberapa minggu yang lalu.
"Aruna?" ucap Sinta sambil mengibaskan telapak tangan di depan wajah Aruna karena sejak dirinya datang, Aruna belum juga mengalihkan pandangan untuk menatap dirinya.
"Hah? Ya? Kenapa?" tanya Aruna bingung sendiri.
__ADS_1
"Kamu kenapa melamun?" tanya Sinta sambil tersenyum begitu manis yang membuat Aruna hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis.
"Maafkan Aruna ya, Sinta. Dia memang sedang banyak pikiran," jawab Bu Rindi yang membuat Aruna mengangguk membenarkan ucapan ibu mertuanya itu. Aruna pun beranjak dari duduknya dan berniat mengambilkan kudapan untuk Sinta, tetapi Bu Rindi segera mencegahnya dan mengatakan. "Biar Ibu yang ambilkan. Kamu duduk saja."
Aruna pun menurut dan membiarkan Ibu Mertuanya menggantikan tugasnya. Setelah kepergian Bu Rindi, Sinta pun menyodorkan sebuah undangan kepada Aruna yang membuat Aruna seketika menautkan kedua alisnya merasa bingung. "Aku tahu mungkin saat ini keadaan kamu masih begitu terpukul. Namun, aku ingin kamu datang di acara empat bulanan kehamilanku. Aku ingin kamu juga merasakan kebahagiaan yang sedang aku rasakan," ucap Sinta seperti tidak berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakan niatnya.
Aruna pun menerima undangan tersebut dan membaca isi dari dalamnya. Hal itu membuat kening Aruna kini mengernyit semakin dalam karena acara empat bulanan Sinta itu terlalu tiba-tiba. "Sejak kapan kamu hamil? Kok aku nggak tahu?" tanya Aruna langsung menanyakan ke intinya.
Sinta tersenyum begitu bahagia sambil kedua tangannya bergerak untuk mengelus bagian perut. "Semenjak empat bulan yang lalu. Sebenarnya, aku sudah lama tidak mendapati tamu bulanan ku. Aku juga menyembunyikan hal itu dari Mas Bowo karena aku terlalu trauma setiap kali terlambat datang bulan dan memeriksakannya ke dokter, hasilnya tidak ada apa-apa di rahimku. Aku belum hamil. Namun, aku sempat curiga karena sudah empat bulan ini tidak datang bulan. Akhirnya, aku periksakan ke dokter dan hasilnya, aku benar-benar hamil," ujar Sinta begitu antusias saat menceritakan kisah hidup karangannya.
"Kok bisa? Aneh," jawab Aruna karena bagaimana pun, dia sudah pernah hamil dan mengetahui bagaimana rasanya perbedaan orang hamil dan orang yang tidak hamil.
Sinta terlihat salah tingkah dengan menyelipkan rambutnya di belakang telinga. "Menurutku itu tidaklah aneh. Normal kok. Oh iya, aku pulang dulu ya? Mas Bowo dan keluarganya sedang menungguku. Bagaimana pun, aku harus mempersiapkan semuanya untuk acara empat bulanan."
Aruna pun mengangguk saja agar Sinta segera berlalu. Entah mengapa, dia merasakan keanehan pada kehamilan Sinta yang terlalu tiba-tiba dan yang membuat Aruna merasa tak nyaman lagi adalah, sikap Sinta yang bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa mengenai kehamilannya. Dia juga tampak tak bisa menjaga perasaan dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Mampir juga ke karya teman othor di bawah ini yuk.. ...