
Aruna terbangun saat merasakan sebuah guyuran air dingin yang menyentuh permukaan kulitnya yang terasa begitu banyak sampai membuat napasnya gelagapan.
"Hah! Hah!" Napas Aruna terengah-engah dan mencoba untuk meraup wajahnya, tetapi gagal karena kondisi tangannya yang sudah terikat ke belakang kursi begitu juga dengan kondisi kakinya yang memiliki nasib sama, yaitu terikat.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucap suara yang membuat Aruna memfokuskan pandangan pada sosok perempuan di hadapannya yang tidak lain adalah Sinta. Temannya itu sedang berdiri di hadapannya dengan senyum miring serta kedua lengannya yang dilipat di depan dada, yang menunjukkan sebuah keangkuhan itu sendiri.
"Sinta?" ucap Aruna lirih karena hampir tidak percaya jika Sinta bisa melakukan tindakan yang serupa dengan penyekapan terhadap dirinya.
"Kenapa? Kamu pasti terkejut bukan?" tanya Sinta lalu tawanya pun menggelegar di seisi ruangan, yang membuat bulu kuduk Aruna seketika merinding ketakutan. Di saat seperti itu, Sinta terlihat begitu menyeramkan dan jauh dari kata yang Aruna kenal.
"Kamu pasti sedang mencari tahu penyebab hilangnya janin kamu bukan? Ya. Dugaan kamu selama ini benar. Akulah yang sudah mencuri janin dalam kandungan kamu," ucap Sinta mulai membuat pengakuan. Dia merasa, menyembunyikannya pun sudah tidak ada gunanya lagi karena Aruna sudah tertangkap basah sedang berada di ruang rahasia miliknya. Sinta yakin jika Aruna sudah mengetahui semuanya termasuk kendi-kendi kecil yang berbau anyir.
"Apa? Jadi, dugaanku selama ini benar?" Aruna benar-benar terkejut karena akhirnya Sinta mau mengakuinya.
"Tapi, kenapa harus aku? Aku ini teman kamu, Sinta. Kenapa kamu tega?!" tanya Aruna yang mulai meninggikan suaranya karena tidak tahan lagi untuk meledakkan sesuatu yang saat ini membuncah di dalam dadanya.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Sinta justru tertawa mengejek lalu mengangkat dagu Aruna kasar dan mencengkeramnya cukup kuat sampai Aruna bisa merasakan sakit akibat tekanan di kedua pipinya itu. "Karena hidup kamu terlalu sempurna dan aku iri melihatnya," jawab Sinta lembut sambil tersenyum manis tetapi Aruna menganggapnya sebagai senyuman maut yang begitu menyeramkan.
"Iri? Kenapa harus iri? Apa yang perlu dicemburui dari kehidupanku yang... jauh dari kata sempurna?" Aruna tak kuasa menahan laju air matanya untuk turun membasahi pipi pucat nya. Bahkan, buliran demi buliran seakan turun dengan derasnya akibat rasa kecewa, sedih, dan marah yang sudah beradu jadi satu.
"Banyak. Namun, rasanya aku tidak perlu menyebutkan semuanya. Yang harus kamu tahu adalah, aku tidak suka melihat kamu hamil lebih dulu padahal kamu baru menikah dan belum genap satu tahun, sedangkan aku sudah menunggunya hampir tiga tahun tetapi belum juga diberikan momongan. Jadi, kalau dengan cara benar aku belum bisa hamil, kenapa aku tidak menggunakan cara yang salah tetapi instan?"
"Kamu gila! Kamu bukan lagi Sinta yang aku kenal!" teriak Aruna mengutuk Sinta yang sudah jauh berbeda.
"Memang. Aku memang gila sampai harus menyingkirkan ibu kamu agar tidak menghalangi jalanku mendapatkan janin yang sedang kamu kandung. Kamu tahu? Ibumu meninggal karena memakan kue kacang dariku," ucap Sinta kembali tertawa pelan yang terlihat begitu menyebalkan di mata Aruna.
"Kamu jahat. Kamu gila!" pekik Aruna lalu mengumpulkan ludahnya untuk diarahkan kepada Sinta. Hal itu pun membuat Sinta marah dan langsung menampar wajah Aruna dengan sangat kencang.
"Kurang ajar kamu!" gerutu Sinta sambil mengelap air liur milik Aruna yang kini membasahi wajahnya.
"Mbah! Mbah Sumanto! Baiknya kita apakan dia?" tanya Sinta yang kini menjauhi Aruna dan mendekati seorang pria paruh baya yang sedang duduk bersila dengan di hadapannya terdapat sesaji yang banyak.
__ADS_1
Saat itu juga, Aruna baru menyadari jika dia berada di dalam tempat yang asing dan seperti jauh dari pemukiman warga bila melihat dari balik jendela yang menunjukkan pohon-pohon yang tumbuh menjulang tinggi. Bahkan, dinding yang digunakan di ruangan tersebut terlihat seperti gubuk karena terbuat dari anyaman bambu.
"Susulkan dia ibunya? Bagaimana?" tanya pria tadi kepada Sinta.
"Sepertinya, itu adalah ide yang bagus, Mbah. Namun sebelum itu, aku ingin membuat kenangan yang indah bersama teman terbaikku, Mbah," ucap Sinta sambil mengangkat sebuah foto dan menunjukkannya pada Aruna. Foto tersebut merupakan foto masa SMA Aruna bersama Sinta yang diambil di depan sekolah sebagai kenang-kenangan.
"Sinta... " Aruna tidak percaya jika Sinta akan memanfaatkan foto itu sebagai media untuk memuaskan rasa iri di hatinya kepada dirinya.
"Kamu tenang saja. Anak kamu akan bahagia karena mendapatkan ibu seperti aku. Aku kaya dan hidup dia akan bergelimang harta," ucap Sinta begitu percaya diri saat mengucapkannya.
"Ayo, Mbah. Mainkan bonekanya. Biarkan Aruna memiliki kenangan indah bersama kita sebelum dia masuk ke dalam neraka," ucap Sinta lagi dan yang bisa Aruna lakukan hanyalah memejamkan mata sambil bibirnya sibuk melafalkan doa-doa yang bisa digunakan untuk penangkal sihir. Dia berharap, Tuhan masih berbaik hati untuk melindungi dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga ke sini karya teman othor di bawah ini yuk.. ...
__ADS_1