Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 13. Mencuri


__ADS_3

Sinta hanya singgah sebentar di rumah Aruna yang setelahnya berpamitan untuk pulang dan berkata jika suaminya sudah menunggunya. Dia juga memberikan doa-doa terbaik untuk keselamatan Bu Gayatri serta umur panjang untuk beliau.


Setelah tiba di rumah, Sinta langsung disambut oleh Bowo yang sedang duduk dengan santai di kursi jati yang terletak di terasa depan rumahnya. "Mas? Kamu bikin kopi sendiri?" tanya Sinta ketika sedang menyalami tangan suaminya dan melihat ada secangkir kopi yang isinya tinggal setengahnya, yang ditaruh di atas meja.


"Nggak apa-apa. Kamu sudah bertemu ibu dari teman kamu itu?" tanya Bowo yang kini memilih meletakkan ponsel yang sejak tadi dimainkan olehnya. Sinta pun mengangguk kepala untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dia segera mengambil posisi duduk di sebelah Bowo sambil menyilangkan kakinya.


"Bagaimana? Apa kamu sudah memeriksakan ke dokter kandungan lagi? Apakah sudah ada tanda-tanda sebuah kehamilan?" tanya Bowo yang membuat Sinta seketika terpaku di tempat duduknya.


"Maaf, Mas. Kemarin aku baru saja pakai testpack dan hasilnya masih negatif. Aku sudah berusaha menjaga pola makan dengan baik juga mengonsumsi sayur serta buah yang bisa menyuburkan rahim. Namun, hal itu belum juga menemukan hasil," jelas Sinta panjang lebar.


Decakan kesal pun terdengar dari Bowo. Raut wajahnya sudah tampak jengah dengan alasan yang selalu Sinta berikan karena hanya itu-itu saja. "Apa kamu tidak periksa ke dokter? Aku kan tanya apa kamu sudah ke dokter kandungan?" tanya Bowo dengan nada suaranya yang sedikit meninggi. Hal itu sontak membuat Sinta menunduk sambil memilin jemari tangannya.


"Kenapa kamu selalu menolak setiap kali aku meminta kamu untuk memeriksakan ke dokter? Apa kamu takut jika hasilnya ternyata kamu nggak subur?" tanya Bowo menohok ketika melihat Sinta hanya diam tanpa menjawab pertanyaan darinya.


Mendengar itu, Sinta mendongak dan menatap Bowo dengan raut wajah kecewanya. Sikap Bowo saat ini tidak berbeda dengan sikap ibu mertuanya yang selalu berkata jika dirinya mandul. "Kamu tega mengatakan hal itu padaku, Mas? Bagaimana jika yang sebenarnya mandul itu kamu?" Sinta pun membalikkan pertanyaan nya.


"Tidak mungkin. Aku ini subur. Bukankah beberapa bulan yang lalu aku baru memeriksakannya dan kamu melihat hasil itu sendiri? Kamu sudah lupa ya?" tanya Bowo terkekeh mengejek mendengar pertanyaan dari Sinta.

__ADS_1


"Kalau dalam waktu dua bulan lagi kamu tidak hamil, maka aku akan menuruti permintaan Mama untuk menikah lagi. Bagaimana pun, perusahaan membutuhkan penerus di kemudian hari," putus Bowo yang membuat Sinta merasa nanar.


"Kenapa hanya dua bulan, Mas? Bukankah kita bisa mengadopsi anak terlebih dahulu sebagai pancingannya?" ucap Sinta memohon.


"Adopsi? Yang benar saja? Bagaimana pun juga aku tidak mau merawat seorang anak yang bukan darah dagingku. Enak sekali seandainya itu terjadi. Dia bukan anak kandung tapi bisa menguasai seluruh aset kekayaan keluargaku. Bagaimana pun, aku ingin anak kandung entah dari kamu atau dari istri keduaku nantinya," putus Bowo sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.


Sinta hanya bisa terdiam saat Bowo memilih pergi meninggalkan dirinya. Hatinya begitu remuk saat suaminya itu memutuskan akan menikah lagi. Tanpa terasa, air matanya jatuh membasahi pipinya dengan sangat deras.


"Ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Aku harus berusaha dengan lebih keras lagi agar seluruh usaha bisa memberikan hasil yang memuaskan." Setalah berkata demikian, Sinta pun kembali pergi dari rumah untuk menuju suatu rumah sakit besar dan mencari ari-ari bayi untuk dia konsumsi.


Sinta pun memutuskan untuk berjalan melewati lorong dan mengamati ruangan bersalin satu per satu sehingga, dia bisa melihat mana ibu hamil yang sedang dalam proses melahirkan.


Oek. Oek. Oek.


Sinta berhenti melangkah saat mendengar suara tangisan seorang bayi yang lumayan kencang. Bibirnya seketika mengulas senyum tipis dan memilih duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan itu. Tidak berapa lama menunggu, pintu ruangan itu terbuka dengan beberapa suster yang membawa bayi baru serta sesuatu dalam kain yang bisa Sinta duga adalah hal yang saat ini sedang diincarnya.


Sinta bisa melihat di keranjang bayi itu tertulis 'By. Ny. Susanti' dan dia terus mengamati suster itu berlalu masuk ke suatu ruangan yang bisa dia tebak merupakan ruangan untuk membersihkan sang Bayi. Dia segera beranjak dan berjalan menuju ruang tersebut. Dia pun mengintip dari balik kaca kecil yang berada di pintu masuk dan melihat suster itu meletakkan kain yang tadi di bawa pada sebuah kendi kecil.

__ADS_1


"Itu dia," gumam Sinta yang memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu untuk mengalihkan perhatian sang Suster. Tidak berapa lama, pintu di depannya terbuka. "Ada apa ya, Bu?" tanya suster tersebut sambil menelisik penampilan Sinta dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Suster? Saya diminta untuk mengambil ari-ari milik Kak Susanti. Katanya, suaminya mau pulang dan akan segera dikuburkan," ucap Sinta seolah-olah sangat meyakinkan.


Suster di depannya menganggukkan kepalanya cepat sambil mengulas sebuah senyum yang ramah. "Sebentar ya, Bu. Akan saya ambilkan terlebih dahulu," jawab suster itu lalu berjalan masuk dan tidak berapa lama kembali dengan membawa sebuh kendi kecil yang diserahkan kepada Sinta.


"Ini, Bu."


"Baiklah. Terimakasih ya, Suster," jawab Sinta tersenyum bahagia. Setelah suster itu mengangguk dan menutup pintu ruangan itu kembali, Sinta segera pergi dari rumah sakit untuk menuju suatu ruangan yang sepi. Dia harus segera memakannya.


Sedangkan dalam rumah sakit tepatnya di ruangan bersalin, suster itu kembali ke ruangan untuk menyerahkan bayi milik Ibu Susanti yang baru saja melahirkan. "Ini anak, Ibu. Lahir sehat dengan berat badan tiga kilo. Selamat ya, Bu."


Suster itu menyerahkan sang Bayi pada sang Ibu untuk segera memberikan Inisiasi Menyusui Dini. Ketika Suster itu berbalik, berniat untuk pergi, dia melihat suami dari Ibu Susanti masih berdiri di ruangan bersalin itu. "Loh, Bapak tidak jadi pulang?" tanya Suster yang membuat suami dari Bu Susanti mengernyit bingung.


"Mana mungkin saya pulang, Sus. Siapa yang mau menemani istri saya di sini?" tanya Bapak itu yang membuat sang Suster menautkan kedua alisnya merasa kebingungan.


"Loh, bukannya tadi ada saudara Bu Susanti yang datang ke ruang bayi dan meminta ari-ari anak Bapak karena akan segera dikuburkan? Lalu, dia siapa?"

__ADS_1


__ADS_2