
"Jangan ikut campur!"
"Jangan ikut campur!"
Ucapan itu terus menggema di telinga Bu Hamida bahkan ketika wujud dari wanita tua itu sudah tidak terlihat lagi. Beliau baru tersadar ketika tangis putranya terdengar semakin kencang dengan mata yang membelalak. Sontak saja beliau langsung mengantisipasi ketakutan putranya dengan menelungkupkan wajah sang Anak pada dadanya.
"Tenang, Sayang. Mama ada di sini bersama kamu. Wanita tua itu sudah menghilang," ujar Bu Hamida sambil menepuk-nepuk punggung putranya dengan penuh kelembutan lalu bibirnya tak henti-hentinya melafalkan doa demi keselamatan anaknya. Setelah tangis putranya mereda, barulah Bu Hamida bisa bernapas lega lalu segera membawa anaknya ke dalam kamar.
...----------------...
Hari yang dinanti-nanti oleh Aruna pun akhirnya tiba. Dia sudah bersiap-siap begitu juga dengan Kala yang kini sudah tampak rapi dan gagah dengan kemeja batik khas pekalongan yang begitu pas membalut tubuh kekarnya. Aruna menatap suaminya itu dengan pandangan mata memicing. "Kamu terlalu tampan pakai kemeja itu, Mas," ucap Aruna entah mengapa merasa kesal.
Kala justru terkekeh pelan lalu mencuri kecupan di bibir Aruna yang hari itu tampak merona karena memakai lipstik. "Aku bisa begini gara-gara kamu yang selalu menjaga dan merawat aku dengan baik," jawab Kala yang membuat Aruna mengulum senyumnya malu-malu.
__ADS_1
Namun, ekspresi wajah itu hanya sebentar karena kini wajah Aruna berganti dengan wajahnya yang gelisah. Hal itu membuat Kala segera mendekap sang Istri untuk memberikan semangat. "Aku akan selalu ada untuk kamu, Yang. Apapun yang akan kamu lakukan nanti, aku juga akan melakukannya demi kembalinya calon anak kita," ucap Kala yang membuat bibir Aruna kembali menyunggingkan sebuah senyum tipis.
"Terimakasih karena kamu masih tetap mau menerima aku terlepas dari hal buruk yang sudah menimpaku."
"Jangan katakan itu lagi. Ayo, kita harus segera berangkat agar tidak terlambat tiba di sana. Kita harus memanfaatkan waktu dengan baik agar bisa mencari apa yang kita inginkan," ajak Kala dan Aruna pun menyetujuinya. Keduanya pun pergi meninggalkan rumah untuk menuju rumah Sinta dimana acara empat bulanan kehamilan akan diadakan.
Ketika keduanya tiba, sudah banyak tamu undangan yang datang dan memenuhi ruang tamu, sehingga Aruna dan Kala pada akhirnya digiring untuk duduk di ruang tengah dimana ruangan itu bisa membuat Aruna melihat langsung bagaimana ruang dapur dan ruang makan di rumah Sinta.
"Aku berpikir jika kamu tidak akan datang bila mengingat beberapa hari yang lalu kamu baru saja kehilangan bayi kamu," ucap Sinta terlalu mendramatisir ucapannya seolah-olah begitu peduli padahal dari ucapannya itu tampak sekali dilebih-lebihkan dan seperti menyudutkan Aruna.
Walau merasa iba, tetap saja Aruna tidak akan goyah dan akan menuntut seseorang yang telah mencuri janinnya dengan paksa, dan Sinta adalah tersangka utamanya. Namun, Aruna masih berharap jika Sinta murni hamil karana pemberian dari Tuhan dan Aruna lebih memilih dia yang telah salah sangka dan mengira Sinta lah yang mencuri janinnya.
"Iya. Bagaimana pun, kamu harus mencari pelaku yang sudah memindahkan janin kamu. Kalau perlu, kamu harus rebut kembali janinnya," sahut seorang wanita paruh baya yang Aruna ketahui merupakan Bu RT di kompleks perumahannya.
__ADS_1
"Benar. Saya juga pernah dengar ada seseorang yang tiba-tiba kehilangan janinnya karena menjadi korban dukun yang membuka jasa pindah janin. Janin itu kembali sendiri ke rahim ibunya karena di rahim yang baru katanya panas." Kini giliran Bu RW yang menyahuti ucapan Aruna.
Tidak mau kalah, Bu Lurah pun ikut berbicara mengenai topik pembicaraan yang sedang begitu panas di kalangan ibu-ibu. "Panas? Mungkin karena hasil merebut dan menggunakan jasa jin ya? Semoga mereka bisa mendapatkan balasan yang setimpal."
Mendengar bagaimana ibu-ibu itu memberikan semangat kepadanya, Aruna pun terkekeh pelan dan merasa terhibur dengan semangat para ibu yang memperjuangkan seorang anak. "Pasti, Bu. Saya akan berusaha yang saya bisa agar calon anak saya bisa kembali," jawab Aruna sambil menatap wajah Sinta yang kini sudah tampak pias. Hal itu membuat Aruna semakin tersenyum lebar. Dia berpikir, jika Sinta bukan pelakunya harusnya dia akan ikut menyahut. Namun, temannya itu hanya berakhir diam dengan kondisi wajahnya yang pucat.
"Sinta? Kamu baik-baik saja? Mengapa pucat sekali?" tanya Aruna sengaja.
"Tidak apa-apa. Seketika aku merasa mual dan ingin muntah. Mungkin karena itu lah wajahku pucat," jawab Sinta berusaha bersikap santai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga ke karya teman othor di bawah ini yuk. ...
__ADS_1