Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 31. Berhasil


__ADS_3

Aruna mengerjapkan matanya ketika merasakan sebuah cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Perlahan, kelopak matanya terbuka dan langsung menyadari jika saat ini dia sedang berada di dalam kamarnya. Aruna menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri dan memang benar jika dia berada di dalam kamarnya.


"Yang? Kamu sudah bangun," sapa sebuah suara di samping Aruna.


Aruna pun menoleh dan mendapati Kala yang tersenyum dengan kelopak matanya yang masih tertutup. "Mas? Sinta? Mbah Sumanto?" tanya Aruna ketika sudah mengingat hal apa yang sudah menimpanya belum lama ini.


Kala tidak langsung menjawab karena kini dia sedang berusaha untuk bangkit dan duduk dengan menyandarkan bahunya. "Jenazah keduanya sudah di urus dan dimakamkan di hutan tempat Mbah Sumanto tinggal. Seluruh warga menolak jika jenazah Sinta dan Mbah Sumanto dimakamkan di tempat pemakaman umum," jelas Kala yang membuat mata Aruna membulat sempurna. Dia langsung bangkit dan berniat duduk, tetapi niatnya urung ketika menyadari jika ada yang berbeda dari perutnya.


Setelah melihat kondisi perutnya, mata Aruna semakin membelalak lebar seperti akan keluar dari tempatnya. "Mas! Aku... Ini... " tunjuk Aruna pada perutnya yang kini sudah membuncit seperti orang yang sedang hamil.


"Kamu berhasil, Yang. Kamu ibu yang hebat," jawab Kala sambil mengacak rambut Aruna lembut.


"Hah!" Aruna membuka mulutnya lebar dan mulai menyentuh perutnya yang membesar dan itu adalah sebuah kenyataan. Aruna membekap mulutnya tidak percaya lalu matanya mulai berkaca-kaca karena merasa begitu terharu.


"Aku berhasil, Mas," lirih Aruna yang mendapatkan sebuah anggukan dari Kala.


"Kamu hebat." Dan Kala langsung membawa Aruna ke dalam pelukannya. Sejenak, Aruna menikmati pelukan itu karena begitu menenangkan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama saat ingatan Aruna tentang kebakaran di sebuah gubuk itu terjadi. Dia merenggangkan jarak dan menatap Kala untuk bertanya.

__ADS_1


"Mas? Bukannya di gubuk itu terjadi kebakaran ya?" tanya Aruna keheranan.


"Bukan gubuknya yang terbakar, tetapi tubuh Sinta dan Mbah Sumanto yang mengeluarkan api. Kata Pak Hasan sih, itu berasal dari kekuatan doa yang kamu ucapkan."


"Hah? Jadi, kamu berhasil menemukan aku di gubuk itu bersama Pak Hasan? Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Aruna kebingungan.


"Dengan bantuan insting Pak Hasan, aku dan beliau bisa tiba tepat waktu dan menemukan kamu. Aku begitu takut saat kamu tidak bisa dihubungi setelah berniat untuk menjelajahi rumah Sinta. Aku jug memiliki kecurigaan besar pada Sinta walau kecurigaan itu tanpa adanya sebuah bukti. Hingga aku benar-benar menemukan kamu di gubuk itu dengan kondisi pingsan dan perut kamu sudah membesar. Ada perasaan panik dan haru yang menjadi satu. Aku—"


Melihat Kala yang tampak begitu terguncang, Aruna pun langsung memeluk Kala dengan cukup erat. Lalu, air matanya luruh begitu saja tanpa bisa dibendung lagi. "Maafkan aku karena sudah membuat kamu khawatir. Maafkan aku," gumam Aruna sambil menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Kala.


"Tidak apa-apa. Aku memahami bagaimana perasaan kamu saat itu. Akhirnya, usaha kamu tidak sia-sia lagi. Anak kita bisa kembali karena usaha kamu. Terimakasih, Yang. Kamu sudah berjuang dengan begitu banyak."


"Yang, ini mirip kamu banget. Cuma hidungnya yang mirip aku," ucap Kala sambil menatap bayi mungil yang untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang sangat besar dan harus terjadi pertumpahan darah.


Aruna terkekeh dan menjawab. "Katanya sih, kalau anak cowok biasanya mirip ibunya. Kalau anak cewek barulah mirip bapaknya. Nanti, kita akan produksi lagi yang cewek biar mirip kamu."


Kala justru tergelak mendengar jawaban dari Aruna itu. Walau demikian, rasa bahagia di saat itu tidak berkurang sedikitpun. Kala justru sangat bersyukur karena putranya bisa lahir dengan selamat dan sehat.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Yang. Aku benar-benar beruntung bisa melihat anak kita lahir dalam keadaan tampan dan sehat. Semua itu karena kamu," ucap Kala sambil menatap Aruna penuh cinta.


"Kita masih ada tugas lagi untuk menjaga dia, Mas. Bagaimana pun, anak kita dulunya seperti sebuah tawanan. Dia sudah pernah diambil dan—"


"Aku akan menjaganya dengan lebih baik lagi. Kita juga akan tinggal di rumah ibu agar kamu selalu memiliki teman untuk merawat anak kita. Kita bisa melindungi anak kita dengan doa dan beribadah rajin. Aku yakin, kita pasti bisa," cegah Kala sebelum Aruna menyelesaikan kalimatnya yang seperti menyimpan prasangka buruk.


"Ya. Kamu benar. Kita harus melindungi anak kita dengan selalu memanjatkan doa," jawab Aruna pada akhirnya disertai sebuah senyuman penuh keyakinan.


Karena dari kejadian yang dia alami selama ini, cukup membuat Aruna paham jika semua itu hanyalah tentang iman dan keyakinan kepada Tuhan. Semua akan baik-baik saja jika pegangan seorang manusia adalah Tuhannya.


Selesai...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Aruna pamit dulu ya🥰...


...Terima kasih untuk kalian yang sudah setia membaca sampai di bab akhir. terimakasih juga atas setiap dukungan yang kalian berikan selama ini. Bye bye.. sampai jumpa di novelku selanjutnya yah.. ...

__ADS_1


...MAMPIR JUGA KE KARYA TEMANKU DI BAWAH INI YUK... ...



__ADS_2