Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 19. Kesurupan


__ADS_3

Pada akhirnya, Sinta bisa menghembuskan napasnya dengan lega sesaat setelah Pak Hasan memutuskan untuk pamit karena baru saja di telepon oleh istrinya dan mengatakan jika ada tamu yang berkunjung ke rumah beliau. Dengan begitu, Sinta bisa menjalankan tugas yang sudah Mbah Sumanto berikan kepadanya. Karena bagaimana pun, kehadiran Pak Hasan di rumah Aruna nyatanya sangat mengganggu ruang gerak yang Sinta miliki. Kini, dia seperti telah terbebas dari dalam penjara setelah Pak Hasan pergi.


Dengan gerakan yang cepat, Sinta langsung menuju teras di samping rumah Aruna sesaat setelah Aruna dan Kala ikut keluar untuk mengantarkan kepulangan Pak Hasan. Setelah pintu terhubung itu terbuka, Sinta tersenyum manis dan segera mengambil sendok serta plastik bening berukuran setengah kiloan yang ditaruh di dalam tasnya. Dia segera mengeruk tanah di rumah Aruna dengan menggunakan sendok yang dibawanya itu. Setelah itu, dia memasukkannya ke dalam plastik hingga terisi setengahnya.


"Ini sudah cukup. Aku harus cepat," ucap Sinta lalu kembali meratakan tanah yang berubah cekung akibat telah diambil oleh dirinya. Beruntung, dia kembali sebelum Aruna dan Kala tiba di ruang tamu. Jadi, dia tidak akan ketahuan bila dirinya baru saja mencuri tanah di pekarangan rumah Aruna.


...----------------...


"Saya pamit dulu. Andai tidak ada tamu yang berkunjung, maka saya akan tinggal lebih lama lagi. Jaga diri Mbak Aruna baik-baik ya," ucap Pak Hasan ketika Aruna dan Kala memilih mengantarkan beliau sampai di depan pintu rumahnya.


"Pasti, Pak," jawab Aruna dengan tersenyum lebar.


"Mas Kala? Tolong diingat-ingat pesan saya ya?" ujar Pak Hasan yang kini tatapannya tertuju pada Kala. Segera Kala menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pesan yang sudah Pak Hasan berikan.


"Baiklah. Saya pamit dulu. Wassalamu'alaikum," ucap Pak Hasan berpamitan sebelum benar-benar meninggalkan pekarangan rumah milik Aruna dan Kala.


"Wa'alaikumussalam. wr. wb."


Setelah mobil yang dikendarai Pak Hasan sudah tidak terlihat lagi, Aruna langsung menatap suaminya dengan kedua alisnya yang bertaut. Dia merasa, Kala dan Pak Hasan seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Memangnya, Pak Hasan berpesan apa ke Mas Kala?" tanya Aruna penasaran setengah mati.


Bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Aruna, Kala justru terdiam dengan pandangan matanya yang tampak kosong. Kala pun masih belum mengerti mengapa Pak Hasan meminta dirinya untuk memberikan jarak di antara Aruna dan Sinta. Namun satu hal yang Kala tahu pasti, hal itu tidak jauh-jauh untuk melindungi Aruna. Kala percaya bila Pak Hasan memiliki firasat yang kuat.

__ADS_1


"Jangan sekarang. Nanti akan aku ceritakan," jawab Kala yang membuat Aruna langsung mengerucutkan bibirnya merasa kesal. Melihat perubahan ekspresi dadi istrinya itu, Kala pun langsung terkekeh dan mengacak rambut Aruna dengan gemas.


"Masuk lagi yuk. Sinta kan udah nunggu," ucap Kala mengajak Aruna untuk kembali ke ruang tamu. Baru saja Aruna dan Kala memasuki rumah, Sinta tiba-tiba berdiri dan sudah menyelempangkan tasnya di pundak.


"Loh, mau kemana? Katanya, mau pulang nanti," tanya Aruna ketika melihat gelagat Sinta yang ingin berpamitan.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu pun membuat Sinta terkekeh pelan dan menjawab. "Aku mau pulang dulu, Na. Mas Bowo baru saja telepon aku dan mengatakan jika dia baru pulang. Daripada nanti dia ngambek kalau aku terlalu lama di sini. Kamu tahu sendiri lah, suamiku memang nggak bisa jauh dariku terlalu lama. Baru berpisah selama beberapa jam saja sudah rindu."


Aruna mengedipkan matanya beberapa kali untuk mencerna ucapan Sinta yang terlalu panjang dan lebar itu hingga menjadi luas. Namun, Aruna hanya memberikan jawaban dengan sebuah anggukan kepala pelan.


"Aku pamit dulu ya, Na," pamit Sinta lagi dengan tersenyum simpul lalu menganggukkan kepala sebagai salam pamit kepada Kala.


"Ayo, biar aku antar sampai depan," ucap Aruna tersenyum manis yang segera mendapatkan anggukan kepala dari Sinta.


Dia sudah menyiapkan kelopak bunga mawar berwarna merah yang dibelinya tadi sebelum ke rumah Aruna. Dia akan mendatangi salah satu makam yang tanahnya masih basah lalu akan mengambil beberapa sendok tanah dari kuburan tersebut. Dengan alasan menebar kelopak bunga mawar, maka orang-orang yang mungkin melihat Sinta akan menganggap jika dia hanya sedang berziarah dan tidak terlihat mencurigakan.


Sinta berjongkok di salah satu makam yang di atasnya masih ditaburi kelopak bunga mawar yang masih segar. Dia menoleh ke kanan dan kiri lebih dulu untuk memastikan tidak akan ada orang lain yang melihat aksinya kali ini. Lalu, dia kembali mengeluarkan sebuah plastik bening yang masih kosong dan segera mengisinya dengan tanah yang dikeruk menggunakan sendok. Dia kembali mengisinya dengan volume setengah dari kepenuhan plastik tersebut.


"Akhirnya.. " Sinta merasakan hal yang begitu melegakan saat misinya kali ini begitu mudah dijalani. Walau di awal-awal ada sedikit kendala, setidaknya di akhir misi dia diberikan kemudahan.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Sinta pun menabur kelopak bunga itu di atas gundukan tanah lalu segera melanjutkan perjalanannya kembali. Dia sudah tidak sabar dan ingin segera tiba di kediaman Mbah Sumanto agar ritual bisa segera dilakukan dan kemungkinan besar usahanya akan berhasil untuk yang kali ini.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Sinta berada dalam perjalanan, akhirnya dia tiba di depan sebuah gubuk milik Mbah Sumanto. Bergegas Sinta masuk dan melihat Mbah Sumanto sedang membersihkan keris-keris sakti milik beliau. "Mbah?" panggil Sinta karena posisi Mbah Sumanto kali ini sedang membelakangi dirinya. Dengan begitu, dia berharap Mbah Sumanto akan menyadari kehadirannya.


Mbah Sumanto pun menoleh dengan tatapan mata yang begitu misterius sambil bibirnya mengulas senyum tipis. "Sebaiknya kamu menyerah saja. Kamu tidak akan berhasil," ucap Mbah Sumanto yang membuat Sinta mengernyitkan keningnya merasa heran.


"Mbah? Maksud Mbah apa?" Kini, Sinta pun kebingungan sendiri.


Mbah Sumanto tertawa pelan dan kembali menatap Sinta dengan tatapan meremehkan. Hal itu pun disadari Sinta jika sikap Mbah Sumanto itu terlalu aneh dan tidak seperti sosok Mbah Sumanto seperti yang selama ini Sinta kenal.


Namun, ketika pikirannya mengatakan jika Mbah Sumanto bisa saja kesurupan, seketika itu juga mata Sinta membelalak tidak percaya. "Mbah Sumanto?" panggil Sinta untuk memastikan.


"Saya bukan Sumanto." Jawaban itu membuat Sinta seketika merasakan ketakutan yang begitu besar.


"M?-m-m-maksud Mbah apa?" tanya Sinta terbata-bata karena tubuhnya kini telah gemetaran menahan rasa takut yang kini Menyerangnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Mampir juga ke karya teman othor di bawah ini yuk.. ...


...


__ADS_1


...


__ADS_2