
"Pak?" panggil Aruna yang kini telah memusatkan seluruh perhatiannya kepada Pak Hasan. Mendengar sebuah kenyataan jika Sinta adalah orang yang sudah membuat anaknya hilang adalah suatu hal yang begitu mencengangkan. Aruna tahu jika Sinta melakukan hal itu pasti bukan tanpa alasan.
"Kenapa, Mbak?"
"Apakah saya bisa mengambil anak saya kembali? Rasanya, saya tidak bisa menerima semuanya begitu saja. Saya ingin anak saya kembali, Pak," ucap Aruna mengatakan permohonannya.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Mbak. Sebagai manusia, kemampuan saya tentang hal tersebut sangat terbatas. Namun, saya pernah menangani kasus serupa dan bayi itu kembali ke perut ibunya setelah usaha yang sang Ibu lakukan," ungkap Pak Hasan yang membuat Aruna dan Kala seketika menegakkan tubuhnya karena merasa tertarik dengan topik pembicaraan beliau kali ini.
"Usaha apa yang Ibu tersebut lakukan, Pak?" tanya Kala begitu penasaran.
"Saya tidak tahu karena Ibu itu tidak mau mengatakannya dan saya tidak mau memaksa. Namun, beliau memberitahu saya jika usaha yang beliau jalani tidak keluar dari jalur keagamaan. Beliau tetap memegang teguh pada prinsip hidup yang sudah Tuhan atur antara yang dilarang dan diperbolehkan," jelas Pak Hasan lagi yang semakin membuat Aruna penasaran dan ingin tahu siapa seorang ibu yang sudah melakukan hal sebesar itu.
"Bolehkah saya menemui sosok ibu itu, Pak? Saya ingin bertanya langsung kepada beliau barangkali beliau mau memberitahu caranya setelah saya menceritakan kisah yang sudah saya alami ternyata serupa dengan yang beliau alami? Boleh saya meminta alamat rumahnya?" Aruna sudah tidak ingin membuang-buang waktunya terlalu lama. Dia harus segera bertindak sebelum anaknya benar-benar akan pergi dan tidak akan kembali lagi.
"Baiklah. Saya akan beritahu alamat beliau. Semoga, hal itu bisa membantu kalian." Pak Hasan pun beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang mungkin adalah sebuah kamar. Tidak berapa lama, beliau kembali dengan membawa secarik kertas lalu menyerahkannya pada Aruna.
"Alamat yang saya tahu mengenai alamat beliau ada di sini. Silahkan datangi rumah ini dan semoga kalian bisa bertemu dengan beliau," ucap Pak Hasan kepada Aruna.
"Pesan saya, kalian jangan sampai keluar dari jalur kebenaran entah bagaimana pun caranya. Karena saya yakin, pasti akan banyak orang yang mungkin datang dan menawarkan lewat jalur kebatilan. Pasrahkan seluruhnya kepada Tuhan setelah apa yang sudah kalian usahakan karena hal tersebut adalah Sebaik-baiknya penerimaan," ucap Pak Hasan memberikan petuah kepada Aruna dan Kala.
__ADS_1
"Tentu saja, Pak. Terimakasih karena sudah membantu. Kalau begitu, kami pamit terlebih dahulu, Pak. Maaf juga karena sudah mengganggu waktu Pak Hasan." Lalu, Aruna dan Kala pun berpamitan untuk pulang karena harus mencari alamat yang sudah Pak Hasan berikan. Dalam perjalanan itu, Kala pun teringat sesuatu tentang Pak Hasan yang pernah memberikan peringatan kepadanya tentang Sinta.
"Oh iya, Yang. Setelah ibu meninggal, Pak Hasan pernah mengatakan jika beliau memiliki firasat buruk kepada Sinta. Saat aku tanya lebih jelasnya lagi, Pak Hasan tidak mau mengatakan alasannya karena penglihatan beliau masih samar-samar," ucap Kala panjang lebar yang membuat Aruna menatap suaminya dengan raut wajah yang begitu terkejut.
"Kenapa kamu baru mengatakannya, Mas?" tanya Aruna sedikit meninggikan suaranya karena merasa jika Kala sudah menutupi rahasia sebesar itu.
"Maafkan aku," ucap Kala menyesal.
Aruna pun menghembuskan napasnya kasar lalu menyandarkan bahunya pada kursi kemudi untuk memenangkan pikirannya sendiri. "Mas? Entah mengapa, aku merasa heran karena Sinta tiba-tiba hamil dan sudah berjalan empat bulan ini," ucap Aruna bersamaan dengan Kala yang sedang menginjak rem mobil karena lampu lalu lintas yang sedang menyala merah.
"Empat bulan?" tanya Kala sama-sama tidak percaya. Lalu, Aruna dan Kala pun saling melemparkan tatapan seakan sedang berbicara lewat telepati.
Aruna pun mulai menghubungkan kepulangan Sinta yang terlalu tiba-tiba dan memilih berada di satu perumahan yang sama dengan rumahnya. Belum lagi pembicaraan ibu-ibu ketika Aruna dan ibunya sedang membeli sayur hingga Sinta yang jadi sering berkunjung ke rumahnya. Aruna juga mengamati jika tubuh Sinta sebelumnya sama sekali tidak menunjukkan seseorang yang sedang hamil.
"Ya. Pikiran kita sama, Mas. Aku ingin segera menemui sosok Ibu hamil yang dimaksud oleh Pak Hasan itu, Mas. Aku juga akan menyelidiki kehamilan Sinta karena beberapa hari lagi kita harus menghadiri acara empat bulanan kehamilannya. Aku tidak mau berburuk sangka, tetapi aku juga tidak mau berpikir terlalu positif tentang dia terlepas dari status dia sebagai teman dekat aku. Bagaimana pun, dia juga patut dicurigai." Aruna berucap panjang lebar yang membuat Kala menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan tersebut.
...----------------...
Sejak tadi, Sinta tak berhenti mengulas senyum karena suaminya yang belum ingin beranjak dari mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit. Dia merasa bahagia karena akhirnya, Bowo membatalkan niatnya untuk menikah lagi setelah mengetahui jika ternyata dirinya sedang hamil.
__ADS_1
"Akhirnya sesuatu yang aku tunggu-tunggu telah hadir di rahim kamu. Aku bahagia sekali. Terima kasih karena selama ini sudah berusaha dengan begitu keras untuk bisa mengandung anakku," ucap Bowo dengan binar cerah di matanya.
"Sama-sama, Mas. Apapun akan aku lakukan agar bisa hamil. Aku jadi tidak sabar menantikan hari perayaan empat bulanan kehamilan aku," jawab Sinta dan Bowo kembali menegakkan tubuhnya dengan mata yang menatap Sinta dalam.
"Kenapa menatapku seperti itu, Mas? Apa ada yang salah dari penampilan aku?" tanya Sinta merasa tidak percaya diri karena ditatap sedalam itu oleh suaminya.
"Tidak. Aku hanya penasaran apakah kamu sudah mengetahui kabar tentang Aruna yang tiba-tiba kehilangan bayinya?" Pertanyaan dari Bowo itu pun berhasil membuat Sinta tersedak ludahnya sendiri hingga dia terbatuk-batuk dan membuat Bowo panik lalu segera mengangsurkan segelas air untuk istrinya.
"Kenapa? Kamu terkejut? Apakah kamu belum mengetahui hal tersebut? Maaf jika kabar itu terlalu mengejutkan kamu," ucap Bowo merasa bersalah dan mengira jika Sinta belum mengetahui jika Aruna baru saja kehilangan anaknya.
"Astaga, Mas. Aku tidak tahu tentang kabar tersebut. Kehilangan karana keguguran?" tanya Sinta pura-pura polos.
"Bukan. Aruna kehilangan bayinya secara mendadak. Di malam hari dia keluar dari rumah dan ditemukan sudah tak sadarkan diri di halaman rumah dengan kondisi perut yang rata," ungkap Bowo yang membuat telapak tangan Sinta seketika berkeringat dingin.
Sinta menelan ludahnya dengan susah payah untuk menjawab pertanyaan dari Bowo. Namun, dia berusaha untuk menguasai dirinya kembali dan menjawabnya seolah-olah tidak tahu apa-apa. "Bagaimana bisa hal itu terjadi, Mas? Itu terdengar tidak masuk akal," jawab Sinta pura-pura heran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga ke karya teman othor di bwah ini yuk. ...
__ADS_1