Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 23. Bersekutu


__ADS_3

Aruna terus mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil yang sedang ditumpanginya bersama sang Suami. Tujuannya tidak lain adalah untuk memikirkan cara apa yang harus dia gunakan untuk menuntut atas hilangnya calon anak yang masih berada dalam kandungannya, dan tujuan utama Aruna saat ini adalah menuju kediaman Pak Hasan untuk mendapatkan pencerahan.


"Yang?" panggil Kala terdengar sangat lembut, tetapi mampu membuat lamunan Aruna tersentak.


"Kenapa?" jawab Aruna tanpa berniat mengalihkan pandangannya.


"Aku lupa isi e-toll tadi pagi. Bisa kamu isi dulu pakai M-banking kamu? Nanti aku transfer gantinya. Soalnya, saldonya udah nggak cukup nih," ucap Kala memohon pada sang Istri.


Aruna hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas permintaan Kala barusan. Dia pun segera mengotak-atik ponsel miliknya dan melakukan yang sesuatu yang diinginkan Kala. "Sudah, Mas" ucap Aruna setalah berhasil mengisi kartu e-toll tersebut.


"Makasih, Yang."


Tidak berapa lama pun, mobil kembali berjalan menuju sebuah desa dimana Pak Hasan tinggal. Memang, Pak Hasan beserta istrinya itu tinggal di kota yang berbeda dari kota yang Aruna tempati. Walau demikian, bukan berarti Aruna harus menempuh perjalanan yang lama karena di zaman sekarang sudah ada jalan toll yang memudahkan transportasi.


"Yang?" panggil Kala lagi setelah berhasil memarkirkan mobilnya di depan pekarangan rumah milik Pak Hasan.


"Kenapa, Mas?" tanya Aruna dan dia bisa merasakan sebuah telapak tangan yang menyentuh jemarinya pelan. Aruna pun mendongak dan mendapati suaminya sedang menatap dirinya dengan pandangan yang dalam. "Kenapa?" tanya Aruna lagi karena Kala pun tak kunjung mengatakan keinginannya.


Kala pun menarik napasnya cukup dalam sebelum menjawab pertanyaan dari Aruna. Setelah itu, baru dia mengungkapkan sesuatu yang kini sedang mengisi dalam pikirannya. "Apapun yang terjadi nantinya, kita harus mencoba ikhlas dan pasrah dengan menyerahkan seluruh masalah kepada Allah."

__ADS_1


Tentu saja hal tersebut membuat Aruna menganggukkan kepalanya merasa setuju. Dia memang akan pasrah kepada Tuhannya setelah berusaha dan berdoa dengan semampu yang dirinya bisa. "Iya, Mas. Namun, manusia kan bisa mengusahakan dengan cara yang halal. Aku yakin, anakku pasti akan kembali. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak," jawab Aruna dengan sangat yakin.


"Semoga saja. Aku juga akan terus berdoa."


Lalu, keduanya pun keluar dari dalam mobil untuk bisa berjumpa dengan Pak Hasan dan mencari pencerahan atas sesuatu yang tidak bisa Aruna lihat dengan kasat matanya. Dia butuh Pak Hasan untuk menjelaskan keadaan yang talah menimpanya belum lama ini. Dengan begitu, dia bisa melakukan tindakan demi bisa berjumpa dengan calon anaknya lagi. Hal itu memang terdengar mustahil, tetapi di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.


"Assalamu'alaikum," ucap Aruna dan Kala secara bersamaan dan membuat pintu rumah di depannya tidak lama pun dibuka dari dalam.


"Waalaikumsalam. Eh, Mbak Aruna? Ya Allah. Ayo, masuk! Mas Kala, Masuk!" sambut Bu Asiyah yang tidak lain adalah istri dari Pak Hasan itu.


Aruna dan Kala pun menganggukkan kepalanya dan segera duduk di kursi yang telah dipersilakan oleh Bu Asiyah. "Silahkan duduk. Saya akan panggilkan Abah lebih dulu," ucap beliau lagi yang kemudian berlalu memasuki rumah.


Aruna masih sangat ingat jika terakhir kali dia datang, kursi itu sudah tampak lusuh. Namun kali ini, kursi itu seperti baru dicat kembali sehingga warnanya sudah lebih terang dan kembali seperti baru lagi. "Tidak apa-apa, Pak. Kami belum terlalu lama juga," jawab Kala ramah dan menjaga sopan santunnya.


"Jadi, bagaimana? Saya tahu tujuan Mas dan Mbak kesini pasti ada sebabnya bukan?" tanya Pak Hasan langsung kepada intinya.


Aruna menganggukkan kepala untuk membenarkan dugaan yang mungkin sudah Pak Hasan ketahui. "Mungkin, Pak Hasan sudah bisa membaca apa yang sebenarnya saya alami beberapa hari yang lalu. Namun, saya ingin menceritakannya lebih detail tentang kejadian di luar nalar yang saya alami di malam itu," ucap Aruna mulai membuka pembicaraan mengenai tujuannya ke rumah Pak Hasan.


"Baiklah. Silahkan, Mbak. Saya akan dengarkan baik-baik begitu juga dengan suami Mbak Aruna yang mungkin belum mengetahui kejadian yang sebenarnya. Mas Kala juga berhak tau," jawab Pak Hasan dan Aruna menyetujui ucapan dari beliau itu.

__ADS_1


Aruna merasa jika ceritanya kali ini akan sangat panjang dan begitu berat untuk diungkapkan. Jadi, dia pun menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali agar kondisi tubuhnya bisa lebih tenang dan ceritanya akan mudah dipahami.


"Jadi begini, Pak. Saat itu, saya sedang melamun memikirkan ibu. Mungkin karena saya juga rindu, akhirnya saya berdiri di tempat kesukaan ibu, dimana Ibu sering sekali melihat hujan dari balik jendela yang malam itu saya tempati. Saya sangat hafal jika Ibu sering sekali melamun di sana dan malam itu saya melakukan hal yang sama."


"Mas Kala sudah beberapa kali mengajak saya untuk beristirahat karena malam sudah semakin larut ditambah dengan hujan disertai gemuruh dan kilat. Namun, saya tetap keras kepala dan meminta waktu beberapa menit untuk tetap berada di sana. Hingga saya melihat ada sosok ibu di halaman rumah yang sudah basah kuyup karena diguyur hujan."


"Entah sesuatu apa yang membuat kaki saya pada akhirnya memutuskan untuk keluar dan menyusul ibu lalu melupakan jika ibu sudah meninggal. Saya dekati beliau dan saat sudah dekat, sosok itu berubah menjadi wanita tua yang selalu menganggu saya. Lalu, tangan dia pun masuk ke dalam perutku dengan sangat mudah dan mengambil anakku, Pak."


Setelah bercerita panjang lebar, Bu Asiyah pun datang dengan tangan beliau yang membawa nampan. "Minum dulu, Mbak," ucap beliau yang mengetahui jika kondisi Aruna saat ini begitu terguncang.


Ketika Aruna sudah lebih tenang dan Kala juga memeluk istrinya itu untuk memenangkan, Pak Hasan pun menghembuskan napasnya dengan kasar. "Dia Ummu Sibyan yang sudah mengambil anak kamu. Dia merupakan jin suruhan," ungkap Pak Hasan yang membuat mata Aruna seketika membelalak lebar.


"Jadi benar, Pak? Ada seseorang yang tidak suka dengan kehamilan saya?" tanya Aruna tidak percaya dengan sifat manusia yang seperti itu.


"Lebih tepatnya, dia telah mengambil anak kamu sehingga sekarang ini dia bisa hamil walau dengan cara bersekutu dengan setan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...mampir juga ke karya teman othor di bawah ini yuk. ...

__ADS_1



__ADS_2