Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 27. Ketidakhadiran Sinta


__ADS_3

Acara empat bulanan kehamilan Sinta pun sedang berlangsung dan para tamu undangan yang hadir sedang turut membacakan doa-doa baik agar kehamilan Sinta bisa selamat sampai proses melahirkan. Namun, di saat acara doa yang harusnya dihadiri oleh Sinta itu ternyata, Aruna tidak menemukan sosok temannya itu di sudut manapun.


"Kemana Sinta, Mas? Kenapa tidak kelihatan? Harusnya kan dia hadir karena kehamilannya sedang didoakan," tanya Aruna pada Kala sambil setengah merendahkan suaranya agar tidak mengganggu jalannya doa yang sedang berlangsung.


"Harusnya dia hadir. Apa perlu kita selidiki?" jawab Kala yang akhirnya tersadar jika orang yang harusnya mendapatkan doa justru tidak hadir di acara doa tersebut.


"Biar aku aja, Mas. Aku akan cari alasan yang tepat sekalian aku bisa mencari sesuatu yang aku cari selama ini." Setelah berkata demikian, Aruna pun beranjak lalu melewati beberapa orang yang hadir dan tiba di ruangan dimana ada televisi dan beberapa barang lainnya. Ketika Aruna menatap sekeliling, suasana tampak sepi. Mungkin karena orang-orang sedang sibuk untuk memanjatkan doa di ruangan depan dan ruang tengah. Aruna tersenyum dan akan menggunakan kesempatan itu dengan baik.


"Sinta?" panggil Aruna lalu melihat ada tiga pintu ruangan yang masih tertutup. Dia pun mulai mencari keberadaan Sinta lalu mengetuk salah satu pintu yang terletak di paling ujung ruangan. Namun, sudah tiga kali Aruna mengetuk pintu tersebut, benda di depannya tak kunjung dibuka. Akhirnya, Aruna memberanikan diri untuk membukanya dan ternyata tidak terkunci.


Sejenak, Aruna ragu apakah harus masuk atau mengurungkan niatnya. Namun, pada akhirnya dia memilih masuk dan bisa melihat jika ruangan tersebut digunakan sebagai gudang bila diperhatikan dari banyaknya barang dan rak-rak yang tinggi.


"Tidak ada apapun di sini," ucap Aruna yang berniat untuk keluar lagi, tetapi urung ketika ekor matanya menangkap sebuah benda seperti kendi kecil yang berjejer rapi dan mungkin ada sekitar sepuluh biji.


"Apa itu?" monolog Aruna lalu memutuskan untuk memeriksanya. Ketika mengambil salah satunya, kendi itu kosong, tetapi aroma yang dihasilkan membuat perut Aruna rasanya ingin mual. Bau yang... entahlah. Seperti bau busuk tetapi tidak terlalu, seperti amis, tapi tidak terlalu.


akhirnya, Aruna menyalakan senter pada ponselnya agar bisa melihat lebih jelas lagi isi dari kendi tersebut dan mencari tahu mengapa baunya begitu menyengat. Ketika senter telah diarahkan ke dalam kendi tersebut, mata Aruna seketika membelalak lebar karena yang dilihatnya kali ini adalah sebuah gumpalan darah tetapi sudah mengerut mungkin karena sudah kering.

__ADS_1


"Pantas saja. Lalu, kenapa Sinta menyimpan ini semua." Aruna sampai harus menekan hidungnya menggunakan kedua jari agar tidak merasakan mual akibat bau yang ditimbulkan.


Aruna kembali meletakkan kendi tersebut pada tempatnya dan berniat untuk keluar. Namun, suara percakapan di depan ruangan yang sedang Aruna tempati, membuatnya cukup terkejut hingga memecahkan salah satu kendi di depannya. "Aduh," lirih Aruna lalu segera mencari tempat persembunyian dan pilihannya jatuh kepada sebuah lemari besar yang bisa menampung tubuhnya.


Bersamaan dengan tubuhnya yang sudah masuk ke dalam lemari, pintu ruangan itu terbuka dan terdengar suara Sinta yang sedang berbincang dengan seseorang yang tidak Aruna kenali. "Apakah tikus yang sudah memecahkan kendi ku ini? Seingat ku, di ruangan ini jarang ada tikusnya," ucap Sinta yang masih bisa Aruna dengar dengan jelas.


"Sebaiknya kamu harus segera menyingkirkan kendi-kendi itu sebelum ada orang lain yang melihatnya," ucap suara seorang pria yang membuat kening Aruna berkerut dalam.


"Tidak akan ada yang melihatnya, Mbah. Ini gudang dan Mas Bowo tidak mungkin datang ke sini apalagi pembantu di rumahku. Aku sudah melarang mereka untuk datang ke ruangan ini."


Aruna pun langsung memasang telinganya dengan baik agar bisa mendengar percakapan kedua orang di luar sana. Apalagi ketika nama ari-ari disebutkan dalam percakapan tersebut.


"Sebenarnya, kemarin-kemarin saya taruh di sini, Mbah. Hanya saja, Mas Bowo mulai curiga karena baunya terlalu menyengat. Akhirnya, saya terpaksa menguburnya di halaman depan bersama dengan wadah kacanya. Bila tiga hari sekali, saya akan mengganti airnya agar ari-ari itu bisa tetap menghidupi janin dalam kandungan saya."


Mendengar penjelasan panjang lebar dari Sinta itu pun membuat Aruna seketika tertegun. Sejak kemarin dia masih meragukan Sinta karena menuduhnya tanpa bukti. Namun hari ini, semua terjawab dengan gamblang tentang kehamilan Sinta yang terasa janggal.


Aruna menghela napasnya kasar untuk menenangkan diri dan tidak ketahuan jika dia sedang bersembunyi apalagi sampai ketahuan sedang menguping pembicaraan Sinta.

__ADS_1


Aruna lun meraup wajahnya pelan untuk melihat ketegangan pada otot-otot di sekitar wajahnya. Namun sialnya, saat Aruna kembali menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya, tidak sengaja bagian siku tangannya terbentur lemari yang menimbulkan bunyi gedebuk.


"Aduh! Bagaimana ini," lirih Aruna merutuki dirinya sendiri yang telah ceroboh. Apalagi, suara Sinta kini terdengar keheranan yang membuat Aruna hanya bisa berdoa semoga dia tidak ketahuan.


"Siapa itu? Kenapa aneh sekali?"


"Apa ada orang yang masuk ke ruangan ini?" tanya Mbah Sumanto yang membuat tubuh Aruna semakin kaku dan sulit bergerak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Mampir juga ke karya teman othor di bawah ini yuk.. ...


...



...

__ADS_1


__ADS_2