
Bab 4
Hewan Bertaring
Olige adalah kakak dari Urkhan Uta yang tegas dan cergas. Ia mewarisi keahlian berburu dari ayahnya. Seperti menombak, memanah dan melompot dari pohon ke pohon lainnya. Badannya kekar berisi bajunya terbuat dari kulit kayu berwarna coklat. Ia juga pintar memahat kata\-kata di kulit pohon. Matanya sedikit biru dan jika marah akan mengeluarkan sinar putih yang dapat menghancur benda keras. Urat\-urat di tangannya seperti akar pohon. Betisnya gempal dan keras. Celana yang kenakan persis dibawah lutut.
Urkhon Uta \(sang adik\) adalah seorang anak kecil yang tak pernah ikut tradisi berburu. Ia selalu telat bangun pagi. Rambutnya selalu berantakan sampai menutupi matanya yang coklat. Ia terlihat lemas ketika berjalan. Baju yang ia kenakan adalah kulit pohon yang tipis. Ia selalu menjadi sasaran ketika ada masalah terutama kakaknya, tapi pintar mencari cela. Ia memiliki sahabat bernama Maung. Sang anjing hitam. Awalanya anjing hitam adalah musuh Uta. Bentuknya seperti haina bulunya berlorek, ia memiliki lari yang sangat kencang. Kupingnya panjang ia berwarna putih dan hitam. Dipinggiran mata terdapat bulatan hitam yang melingkar bulat. Ia memiliki kentut beracun jika seseorang menghirupnya akan pingsan. Ia juga pintar menaiki pohon. Sang Ibu wanita biasa yang telah ditinggal Ayah Uta. Dengan raut wajah keras, kepala terikat dengan kulit kayu.
Olige, Urkhon Uta dan Sang Ibu menyusuri hutan belantara mereka sedang mencari tempat yang lebih aman.
Mereka bersama Sang Ibu dan Sang Adik terus berjalan menyusuri semak-semak. Ia menebas dengan pedang hama-hama liar yang coba menghalangi jalan mereka. Suara-suara burung menemani langkah mereka. Semakin mereka berjalan suasana semakin senyap dan sepi. Tak ada lagi suara orang berteriak dan bunyi dentuman keras yang membuat mereka takut.
Sang Ibu menghentikan langkahnya, “Stop disini,” suruhnya pada Olige. Keadaan memaksa mereka untuk membuat keputusan dengan tinggal di dalam hutan. Setidaknya mereka dapat selamat dari serangan Batoza dengan seperti itu mereka lebih mudah untuk kembali menyatukan orang-orang yang tersisa. Tentunya untuk menyusun kekuatan baru.
Hari mulai gelap dan terlihat awan hitam disertai kilat yang beradu seperti memercikkan cahaya putih.
“Sepertinya hujan akan turun.” Sang Ibu mereka berkata sambil menatap langit yang siap menumpahkan air.
Sang Ibu menarik nafas pelan sambil menatap Olige dan yang lain. ”Kita harus rela menjalaninya. Walaupun kita harus gagal berkali-kali,” Olige dan Urkhon hanya terdiam.
“pohon besar itu tempat kita,” ujar Sang Ibu melihat pohon besar di depan mereka yang menjulang tinggi. Pohon tersebut ditumbuhi dengan dahan-dahan yang kuat. Terdapat akar pohon yang melilit sampai ke dasar tanah.
Sang Ibu toleh kanan dan kiri dengan waspada untuk mengawasi daerah sekitar takut ada hal yang mencurigai. Setelah dipikirnya cukup aman. "Kita akan tinggal di sini," perintahnya.
Olige yang sedang menggendong sang adik. Berhenti sejenak. “Ibu bagaimana kalau pasukan Batoza melihat kita dari atas pohon lain. Mereka dapat menghujani kita dengan panah api," ujar Olige pada Sang Ibu.
"Kita akan buat rumah di atasnya," sahut Sang Ibu.
Olige seakan terpercaya dengan itu. Tapi itu ide bagus menurutnya. Sementara waktu mereka akan aman dari hewan buas. Jika ada sesuatu yang mencurigakan mereka bisa tahu dengan segera karena berada di atas pohon. Bahkan mereka akan dapat mengetahui orang yang sedang berjalan dari kejauhan melalui teropong kecil yang terbuat dari bambu.
Olige menyandarkan sang adik di pohon besar berdaun lebat. Dia tidak dapat mengukur pohon berapa tinggi pohon itu dengan pasti yang jelas pohonnya besar, kulitnya keras berwarna cream. Untuk merobohkannya butuh puluhan orang. Maka tak salah jika Sang Ibu memilih sebagai tempat persembunyian. Ada beberapa akar menjuntai ke bawah bahkan menyelinap ke dalam tanah bersatu padu dengan tanah hampir menyerupai tanah.
“Nak kamu cari yang dahan pohon lembut," perintah Sang Ibu.
Tak perlu berpikir lama apalagi protes segera Olige mencarinya. Tak begitu sulit pula mencarinya sebab pohon itu tak besar paling hanya sebesar lengan anak kecil. Itu termasuk pohon yang dapat tumbuh dimana saja. Olige menebasnya dengan cekatan. Beberapa batang dikuliti karena kulitnya untuk tali. Dari kayu putih itu dia akan membuat tangga kecil untuk naik ke pohon. Sedang Sang Ibu membuat kerangka rumah kecil untuk berada di atas.
Olige lihat banyak sekali ikatan untuk membuat rumah kecil itu. Sang Ibu naik ke atas sendirian. Dengan kepala terikat kain di kepala dia mirip tokoh Ibu Malin Kundang. Tangannys begitu gesit memputar, menebas, mengingkat dahan untuk dirangkai menjadi rumah.
__ADS_1
“Naik, " perintahnya dari atas.
Olige dengan segera menurutinya perintah Sang Ibu. “Jangan sampai lepas ikatan talinya!” Olige perlahan mulai naik.
Suara ayam hutan menyala. Matanya tak kuat menahan aku ngantuk. Ini adalah sore berhujan yang malas karena ada gangguan ngantuk.“ Hai,Olige jangan kalah dengan ngantuk. Ia menjadi musuhmu saat kau bekerja. Gerakan badanmu supaya kau terhindar dari ngantuk," seru Sang Ibu menyemangati sambil menyaksikan matanya merah beberapa kali terpejam-pejam. Sebagian anggota yang lain mulai menaiki persinggahan yang sudah jadi rumah di atas pohon. Tinggal Olige dan Sang Adik berada di bawah Pohon.
Ketika menundukan kepalanya ke depan. Ada suatu hal mencurigakan di depannya. Bersuara tak jelas. Ia bermuncung dengan lonjong. Taringnya keluar seperti kita menggigit. Di sampingnya terdapat sang adik yang sedang melihatnya. Sang Adik mulai ketakutan. Dalam hati Olige berkata, "Jika kau macam-macam kuhabisi kau dengan kayu putih ini," sebuah kayu yang sudah terkepulas kulitnya ia terlihat putih seprti tulang.
Sang hewan mendekat pelan. Dia mulai berkali-kali memamerkan taringnya.
Olige dihantui was-was melihatnya bertaring putih dan tajam seperti mata pisau. Kuku-kukunya tajam. Dan yang membuatnya terkejut dia tidak sendirian. Dibelakangnya terdapat hewan yang lebih besar lagi. “Ini benar-benar gawat. Bahkan darurat. Apa maunya mahkluk satu ini. Tiba-tiba datang dan ingin menyerang,” terka Olige dalam hati.
Secara mengejutkan ternyata benar dugaannya ia terbang untuk menyerang kearah Olige dengan taring yang mengangah. Olige refleks menghindar. Ia terjerembab sendiri ke tanah hampir terkena gigitan. Yang satu menggigit Olige. Dengan tarikan seperti buaya mengempaskan buruan.
Olige tak tinggal diam. Tangannya memegang kayu putih menghantamkan kearah kepala Si Hewan bertaring. Hingga mengenai matanya. Ia menjerit kesakitan. Dia pun sama masih meringis terkena gigitnya.
Hewan itu tidak sendiri ia membawa gerombolan lainnya. Yang satu mendekati Sang Adik yang ketakutan. Melihat mengarah pelan kearah dirinya.
“Pukul dia pakai kayu cepat!” perintah Olige Sang Adik bingung kayu mana yang di maksud karena depanya tidak ada kayu yang dapat dijadikan tameng. Ia coba melihat ke kiri dan kanan. Tangannya meraba dedaunan coklat tua dan bertemu tangan tersebut dengan kayu seukuran lengannya.
Bulu hewan itu sangat halus. Berwarna lorek hitam putih seperti zebra. Tapi warna hitam lebih dominan.
Dengan posisi duduk bersandar di pohon Sang Adik berusaha sekuat tenaga menghalau terkaman hewan berlorek. Entah, datangnya dari mana. Sebuah kayu runcing mengunjam dari atas pohon dengan kecepatan seperti kedipan mata.
Dari atas pohon ternyata Sang Ibu yang melemparkan sebuah tombak yang terbuat dari kayu. Tak ada kata lain hewan itu terkapar tewas. Satunya kabur.
Sang Adik dengan nafas terngengah-ngengah naik turun. Melihat kejadian itu. Mungkin itu adalah kejadian kedua yang mengerikan yang ia alami oleh Olige dan Sang Adik di awal kehidupannya.
Lain kali kau harus selalu awas. “Kau memimpin. Harus jeli dengan areamu sendiri," ujar Sang Ibu sambil turun dari tangga pohon yang sudah ia buat.
“Ajak adikmu ke atas pohon. Bisa jadi akan datang hewan buas lebih banyak lagi,"perintahnya pada Olige.
Bab 5
Bintang- Bintang
Hari menuju malam
Sang Ibu mengitari pohon tersebut dengan serbuk berwarna putih mirip seperti garam. Bentuknya seperti kerikil. Ia berjalan lagi menuju semak-semak hutan. Tidak tahu apa yang dilakukan Sang Ibu. Dari atas pohon Olige seperti melihatnya membuat sebuah perangkap hewan. Beberapa daun, kayu dan akarnya diambil. Akar tersebut ia hancur dengan tanganya kemudian ia campurkan dengan air.
Sang Ibu menaiki tangga menuju rumah pohon yang sudah dibuat tadi. Ia mengeluarkan daun dan akar yang tadi ia bawa dari bawah pohon. Sang Ibu memberikan sebuah ramuan untuk Uta. Badannya masih terluka. Olige perlahan mengobati Sang Adik menggunakan ramuan itu.
__ADS_1
Beberapa kali ia meringis. "Tahan, jangan bersuara walaupun sebenarnya itu sakit Nak. Kau harus mampu menahan sakit," seru Sang Ibu pada Sang adik. Sedang Urkhon Uta benar-benar harus menahan rasa sakit itu. Sampai matanya terpejam semakin lama pandangannya semkain gelap sampai pada akhirnya Uta (Adik Olige) tak sadarkan diri.
Olige sebagai kakak panik takut adiknya mati.
“Ibu mengapa dia seperti ini,” Olige beberapa kali menempelkan tanganya ke dada Uta. Sang ibu masih menatap dengan tenang. “ramuan yang kamu berikan tadi akan membuat badannya lemas. Biarkan Adikmu istrihat besok mungkin dia akan segera pulih,” ujar Sang Ibu menenangkan Olige.
“Esok kita akan melihat perangkap yang Ibu buat tadi. Siapa tahu ada napo (sejenis kancil hutan) masuk lubang itu. Dagingnya bisa kita makan. Sekarang tidurlah. Itu penting untuk membuat tenagamu pulih kembali,” sambil menatap Olige.
“Tidurlah dengan tulus lupakan semua yang terjadi. Jangan pikir kejadian itu," sambil mengusap kepala Olige yang sudah siap mengambil posisi tidur menghadap ke langit-langit rumah pohon.
Dibalik lubang bilik kecil Olige mendapati cahaya bintang yang sangat terang. Bintang itu sangat indah. Apalagi ia melihatnya di balik rumah pohon. Ia merasa begitu dekat dengannya. Cahaya bintang-bintang itu di selangi suara hewan melata di bawah rumah pohon. Mengeluarkan bunyi-bunyian yang begitu banyak. Tapi tidak membaut bising. Inilah yang membuat Olige terheran-heran. Padahal jumlah mereka ribuan yang hidup di hutan. Ini adalah alam yang luar biasa di ciptakan yang Maha Kuasa. Memang tak ada yang sia-sia.
Dalam cahaya bintang ia melihat gambar ayahnya. Entah, karena perasaannya saja atau memang itu benar-benar nyata. Ia tak tahu apa yang ayah lakukan di balik langit sana. Kesakitan kah. menangis, yang pasti di sana serba susah.
Tiba-tiba bintang yang bersinar tadi cahayanya menghilang. Aku tahu apa sebab seperti. Langit tiba berkumpal membentuk lingkaran awan hitam. Muncul kilatan tajam dengan suara yang keras. Berkali-kali saat itulah hujan turun lagi dengan pelan. Petir tersebut menyambar batang pohon. Menyebabkan ia patah menimpa atap rumah pohon yang baru dibuat. Olige yang baru saja terlelap terbangun dan terkejut. Ia coba keluar untuk melihatnya.
“Ibu biar aku yang melihat. Itu seperti dahan pohon yang terkena petir.” Ia membukakan pintu rumah pohon. Angin kencang yang menyambut. Walaupun dengan tiupan angin yang kencang Olige tetap keluar dari rumah pohon.
Ia merayap pelan menyusuri dahan yang bisa dijadikan jalan. Sementara hujan bercampur angin tak pernah berhenti. Tatapannya mulai tak jelas. Ketika akan melangkah ke dahan pohon berikutnya. Kakinya tergekilir. Jatuh tak dapat dielakan.
Teriakannya muncul nyaring, “aaaaaaa....ibu..!” tak tahu lagi apa yang bisa Olige lakukan. Ia mencoba memegang akar pohon yang menjuntai supaya tidak terhempas ke tanah. Akar tersebut bergerak maju mundur. Ia menjerit-jerit. Yang paling menakutkan lagi hewan yang tadi menyerangnya datang kembali.
Ia sudah menunggu Olige dibawah. Ia mungkin sudah menantikan moment ini tepat untuk membalaskan dendam dan merobek-robek tubuhnya. Dia sangat ingin sekali melahap daging segar hal itu terlihat dari beberapa kali gigi taring ia nampakan. Mungkin itulah makan malam favoritnya daging mentah.
Sang Ibu mendengar teriakkan Olige walaupun sedikit terganggu dengan suara hujan. Sang Ibu tergesa-gesa keluar dari rumah pohon dengan membawa bambu kecil yang sudah terikat dengan dedaunan kering. Ia menarik akar pohon yang tadi digantungi Olige. Kemudian dia menyalakan api melalu obor kecil. Di tengah hujan yang deras ia melemparkan obor kecil terbuat bambu kecil. Obor itulah yang gunakan untuk menyerang hewan tadi.
Hewan itu melompat untuk menerkam kaki Olige yang sebentar lagi mendarat di tanah. Dengan refleks ia mengangkatnya. Jantungnya berdebar-debar melihat taringnya yang hampir memakan kakinya. Matanya menyala walaupun hari sudah malam. Untuk yang kedua kali Olige berayung melalui akar karena ia masih belum bisa menggapai anak tangga.
Olige merasa ia tak bisa diserang terus. Tak ada kata lain ia harus melawannya bahkan wajib mengalahkanya. Pada kedua itulah kakinya menendang muncung mulut hewan bertaring. Duuk..dukk.dukk. Brakkkkk.. Hewan itu jatuh ke tanah. Dengan ia segera melemparkan obor kecil yang berada di tangnnya. Obor itu membuat hewan itu kabur kalang kabut.
Olige dapat merasa lega dengan nafas dan denyut jantung yang mulai tenang. Ia kembali melompat ke tangga rumah pohon. Ia tidak menyadari kakinya terluka. Setelah ia akan sampai di depan rumah pohon barulah merasakan perih di kaki, kakinya bergetar. Ternyata ada darah melukai betisnya.
Sang Ibu menariknya ke atas. Setelah ia membuang dahan yang menimpa rumah pohon. Hawa dingin dan kehiningan mulai terasa dikala hujan tak kunjung reda. Tidak ada suara apa-pun kecuali hewan melata yang akan berotasi berubah profesi ke malam. Ditemani Hujan di hari ini begitu deras.
Sang Ibu seperti bernyanyi.
Jika gagal hari ini esok mungkin ada kejayaan
Ada saatnya nanti kamu-kamu akan menjadi penakluk yang hebat. Kegagalan memang selalu bertubi-tubi. Tapi sekali lagi bahwa semua harus direlakan.
Hal tersebut disimak dengan baik oleh Olige dan Sang Adik.
__ADS_1
Dalam lamunannya sendiri Olige dan Sang Adik mulai memejamkan matanya terlelap untuk tidur.