Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
Bab 27


__ADS_3

Bab 27


Sang Idola


Dari kejauhan Uta, Maung dan Burung Paruh tajam mulai sampai di perbatasan rumah pohon. Mereka melompati sungai yang jadi perbatasan hutan bebas dan rumah pohon. Beberapa pengawal yang pernah berjaga dengan sikap menyambut Uta.


Tuan akhirnya Anda kembali,” dengan wajah penuh harapan Sang Pengawal berucap.


“Bagaimana di sini aman?” tanya Uta.


Sang Pengawal tanpa diragukan lagi kapasitas dalam menjalani tugasnya menajwab dengan mantap. “Aman Tuan.”


“Baik Tuan silahkan masuk,” ucapnya dengan hormat.


Uta dan teman-temannya berhenti sejenak. Ia menatap lekat-lekat rumah pohon. Berangur-angsur tapi kehidupan rumah pohon kembali hidup. Hidup dengan banyak senyuman. Hidup dengan banyak tawa dan hidup dengan berbagai keakraban. Tak terasa beberapa tahun yang sangat melelahkan hampir dapat dilewati. Ketakutan yang dulu menghantui rumah pohon kembali muncul harapan besar untuk hidup. Tatapan hidup yang ambradul kembali tertata dengan harapan kemanusian. Generasi kebanggaan siap mempertahankan negeri rumah pohon. Uta berjalan memasuki area rumah pohon yang berjajar. Tali-temali terikat kuat ke rumah satu dan yang lain, dari kejauhan yang nampak sedikit samar dari padangan Uta anak kecil semangat belajar memanah sambil berlari. Ada yang semangat belajar berpedang, ada yang semangat bela diri di atas pohon. Ada yang semangat bermain pisau cepat dengan kecepatan meleparnya. Ada yang menggunakan tombak.


Seorang anak kecil berteriak tanpa disengaja melihat Uta berjalan dengan Maung dan Burung paruh tajam.


“Ada orang asing, siapkan senjata,” ucap sambil melepar wajah serius ke teman-temannya yang sedang berlatih panah.


Ada seorang anak remaja belaasan tahun menyahut, “Hai sobat kecil itu Uta. Saudara tetua kita,” ujarnya dengan senyuman dengan menatap wajah polos Sang Anak Kecil yang hampir siap melepaskan busur panah ke Uta.


Yang memekik keras. “Kak Uta.’


Begitu pun anak-anak remaja yang lain berhamburan ingin menyaksikan Uta.


“Uta kembali. Uta kembali,” seru mereka sangat gembira seperti melihat permainan sirkus.


Para orang tua yang sedang berada di balik rumah pohon ketika mereka duduk santai mendengar nama itu segera berlari melompat di pohon dna turun ke tanah.


“Hai, Pahlawan,” ucapnya dengan memberi hormat dan mengelilingi Uta dan teman-temannya.


Uta benar-benar merasa terharu. Ia tidak menyangka jika kedatangannya memang ditunggu. Sebab kepergian waktu dulu memang sangat berat. Karena sebuah tugas dan itu menjadi ujian anak laki-laki bagi suku rumah pohon. Utalah yang terpilih. yaitu menyuruh anak mereka berkelana dengan satu tugas berat. Uta seperti pahlawan di rumah pohon. Apalagi waktu itu yang tersisa hanya Utalah satu-satunya yang dapat diandalkan, mengingat ia adalah anak kepala suku rumah pohon.


Ia membuka sedikit baju kulit kayu ia kenakan tanda penghormatan kepada mereka semua. Ia melempar senyuman ke seluruh warga yang hadir melihatnya. Tak luput anak-anak tersebut. Baik yang masih balita atau pun yang sudah remaja. Teriakkan semakin kencang penduduk rumah pohon terkejut bukan main.


Mereka mengira ada keributan hebat.Ternyata Sang idola baru datang. Maung dan Uli tertinggal di belakang mereka terhimpit oleh para remaja yang berkerumun seperti semut di dekat Uta. Mereka mengangkat Uta. Dengan nyayian. “Uta kembali. Uta kembali, anak-anak yang sedang membantu ibu di rumah, mengerjakan tugas rumah, melompati ke jendala dan turun untuk melihat Uta.


Keramaian tersebut membuat Olige keluar dan bertanya. ”Siapa itu?” ia tidak mengenali sesosok pemuda itu dengan rambut panjang terurai.

__ADS_1


Ia membuka gagang pintu rumah pohon supaya pandangannya lebih jelas lagi. Ia menatap ke bawah rumah pohon betapa terkejutnya seakan tak percaya dengan apa ia saksikan. Seorang pemuda yang gagah, berambut panjang, berbadan kekar dengan jari-jemari yang kuat. Dengan cepat ia melompat ke bawah rumah pohon.


“Oh..Uta,” ucapnya.


Ia terdiam sejenak menatap Uta. Ada kerinduan yang dalam terhadap Uta. Terbayang pula bagaimana perjuangannya menyelamat Uta dan Sang Ibu dari serangan Batoza dan pasukannya. Ia meraba wajah dan Uta. Dengan cepat ia memeluknya. Itulah pelukan hangat Sang Kakak kepada Uta seumur hidupnya. Dan pada saat itulah Uta menjadi patung tak bersuara hanya menatap sangat dalam. Mungkin dalam hati berkata. ”Apakah ini arti sebuah saudara. Ya Tuhan betapa beruntungnya aku merasakan ini. Ternyata dunia ini tidak sepedih yang aku bayangan. Walaupun ada banyak luka di sekujur tubuhku. Dialah yang menyembuhkanku.” Ia tidak menyangka waktu berjalan sangat cepat. Uta sudah akan menjadi remaja yang tumbuh dewasa.


Sang Kakak kembali teringat bagaimana sulitnya mengajari Uta untuk memanah. Bangun pagi yang selalu telat, dan tidak suka tradisi berburu. Bahkan Uta pernah terluka parah di perutnya. ketika ia masuk lubang dan harus bersunyi di lubang bersama ibunya.


Semua menyiratkan keharuan yang dalam bagi Sang Kakak. Apalagi penerus rumah berikutnya ada di pundak Uta. Harapan besar selama ini sudah mulai terwujud Tuhan mengijikan Uta untuk memikul tangung jawab itu.


Seorang tua beruban dengan mengenakan pakain kulit kayu. Keluar dengan batuk-batuk. Wajahnya sedikit keriput.


Uta menatap wanita itu di bawah rumah pohon. Lalu ia meminta seluruh remaja berdiam karena suara mereka yang ramai.


Ia melompat ke rumah pohon miliknya. Uta mendudukan kepalanya dan duduk memberi hormat. Ia memeluk wanita yang tak lain adalah Ibunya. “Uta,” ucapnya lirih sekali.


“Ibu,” balas Uta.


Setelah itu keduanya saling berpelukan erat.


Semua yang menatap terharu dan bahagia baik di bawah pohon di atas ranting, di atas daun pohon, di dahan mereka terhayut dengan suatu penantian yang panjang dalam sebuah pertemuan yaitu pertemuan anak, Ibu dan Sang Kakak.


Uta menyaksikan bahwa rumah yang ia tinggalkan sejak dulu tidak berubah semua masih sama. Ia coba masuk ke kamarnya untuk melihat beberapa menit. Ia masih mendapati tulisan di langit-langit kamarnya. tembok yang ia ukir. Terdapat ukiran dari kulit kayu. Gambar rumah pohon. Dan dia, kakak dan ibunya.


Sang Ibu membawakan makanan untuk Uta.


Uta duduk di depan Sang Kakak bernama Olige mereka bercakap-cakap ringan setelah itu Uta memberi tahu bahwa kekuatan yang dimiliki Batoza tidak main-main ia sudah menyiapkan penjagaan yang ketat sebelum orang-orang asing masuk ke wilayahnya.


Percakapan terhenti sejenak karena Uta akan bersitrahat untuk mempersiapkan agenda hari esok.


“Istrahtlah dulu, kamu pasti lelah Dik,” ucap sang kakak.


Ia seperti hidup kembali ketika melihat rumah pohon semakin banyak. Ini sama dengan yang dulu ia pernah alami. Semua masyarakat rumah pohon bahagia tertawa tersenyum dan dapat hidup berdampingan.


“Uta, kita tidak mengitari negeri rumah pohon ini?” Seru Sang burung paruh tajam yang terbang menghampiri Uta di sebelah jendela kamarnya, yang sedang memandangi segala aktifitas orang rumah pohon.


“Ayo kalau begitu. Maung mana. Sekalian berangkat bersama,” ajak Uta pada temannya.


Mereka mulai melompat ke dahan pohon melewati tali-temali yang bergelantung seperti akar pohon. Kejar-kejaran terjadi di antara Maung, Burung Paruh Tajam dan Uta. Mereka melintasi beberapa rumah. Uta melihat anak-anak remaja yang sedang latihan memanah. Ia turun ke bawah. “Panahlah dengan kefokusan agar tepat sasar,” ucap. Mereka semua bersemangat mendengar ucapan Uta Sang idola baru. Uta kembali ke atas pohon. Ia berada di atas pohon di ujung ke sunyian tak ada orang kecuali Burung Paruh Tajam dan Maung. Ia menatap jauh ke bukit tunggi yang menjulang. Bukit yang ia tinggalkan sejak. Entah, kapan mereka akan ke sana lagi.

__ADS_1


Dari kejauhan Sang Kakak menyusul melompat dan bergelantung melalui seutas tali.


"Ah, ternyata kalian di sini rupanya di sini," mengambil posis duduk di sebelah Uta.


Maung bersuara kecil dan Burung Paruh Tajam berkicau tak jelas.


"Apa yang kamu pikirkan Uta?" Sang Kakak bertanya.


"Kita harus mempersiapkan rencana untuk mengahancurkan pasukan Batoza Kak," ujarnya memasang wajah serius.


Angin semilir menyapa pelan dalam pecakapan mereka.


"Tunggulah beberapa hari lagi agar kita dapat melihat kesiapan seluruh warga kita," jawab Sang kakak.


"Apakah kita perlu berkumpul untuk bicara pada para tetua kita Kak?" Tanya Uta.


"Itu pasti, karena dari mereka kita minta saran dan kebijaksaan. Mereka harus dihormati mereka peletak dasar konsep rumah pohon," terang Sang Kakak.


Uta terdiam sambil memikirnya. Bahwa ada benernya dengan ucapan Sang Kakak. Bisa jadi mereka memiliki pandangan lain mengenai masalah ini.


"Tapi apakah mereka setuju Kak dengan rencana kita untuk membalas kekejian Batoza?" tanya uta lagi.


"Tentu, karena mereka masih menyimpan luka yang dalam. Terhadap menyerang itu. Tak dapat dibayangakan sanak dan keluarga mereka hangus tebakar dan tertimpa bangunan rumah. Aku dan yang tersisa membangun kehancuran untuk hidup kembali," terang Sang Kakak beberapa saat menatap rumah pohon yang sedang banyak melakukan aktivitas.


"Baik Kak," jawab Uta singkat.


"Uta, perlu kamu ingat. Kamu adalah penerus dari ayah. Bukan aku. Jadi harapanku dan semua orang yang ada di Negeri Rumah Pohon tertuju padamu. Mereka menganggap kamu satu-satunya harapan negeri ini." Mendengar itu Uta antara bingung dan tidak enak.


Bingung karena ia sudah ditunggu dengan sebuah tangung jawab yang besar menjaga Negeri Rumah Pohon. Terbayang senyum-senyum penduduk Negeri Rumah Pohon di benak Uta. “Oh beban hidup mengapa kau tak mau berhenti menghampiriku." itu mungkin yang dirasakannya.


Tak enak karena keinginan Uta hanya satu berada di samping Sang Kakak dan Ibunya. Uta tidak meninginkan apa-pun. Bukan pula untuk menjadi memimpin penduduk Negeri Rumah Pohon. Dan satu lagi keinginan terbesarnya yaitu membalas perbuatan Batoza.


“Selagi aku hidup aku ada untuk Kakak dan ibu," ucap Uta.


Sang Kakak terharu.


"Maaf jika ini membuatmu terberatkan Dik," balasnya.


"Ah sudahlah. Kita harus menjalani dan melakukannya saja kan Kak," seru Uta santai dengan sedikit senyuman. Senyuman yang menyimpan beban dan tetap optimis.

__ADS_1


__ADS_2