
Bab 22
Kapal Putih
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri bukit. Tak ada tanda mencurigakan. Uta beberapa kali menyetuh rerumputan hijau yang halus. Ia mulai menatapi bukit dengan jalan berbatu runcing. Maung mengikuti Uta dengan lincah. Ia sepertinya tidak ada kendala untuk melompat dari satu batu ke batu lain. Tanpa ia sadari sebuah batu besar menggelinding ke arah Uta. kecepatan batu itu tak dapat diperkiraan Uta. Batu mengenai badannya. Uta tak dapat menahan laju batu besar yang cepat. Dalam posisi yang sulit. Tidak mungkin menghentikan batu itu dalam hitungan menit. Akhirya Uta mengalah batu membuatnya terjungkal dan terhempas. Maung yang akan menolong pun terpental jauh ke pinggir bukit. Entah, datangnya dari mana. Ketika batu besar akan menimpa Uta. Bukit bergerak hebat menghentikan batu besar. Dengan tangan besar Sang bukit menahan laju batu besar yang hampir menghantap kepala Uta. Batu besar terpental jauh ke sungai. Uta dengan nafas terngeah\-ngeah seperti kuda berlari, sambil menahan sakit di tangannya yang tergores karena menahan batu besar.
“HeI, orang tidak dikenal kau memasuki wilayahku,” Sang Bukit mendadak mengeluarkan suara dengan nada yang suara berat.
“Oh.. Ternyata kau dapat bicara,” sahut Uta.
“Kau meremehkanku,” jawabnya dengan intonasi tersingung.
“Tentu, tidak Kawan. Aku cuma heran,” jawab Uta.
Matanya membesar. Uta terkejut bukan main.
“Tunggu-tunggu jangan salah paham!” tegas Uta.
“Kami sedang melakukan perjalanan,” terangnya lagi.
Tak disangka hujan berderu-deru dengan cepat. Kilat menyambar di sana sini. Nampak hari sudah mulai gelap. Petir menampar hebat bukit yang kokoh tadi.
__ADS_1
‘Cepat berlindung,” ujar raksasa batu besar.
“Maung ayo berlindung!”
Dengan cepat Maung berlindung di bawah bukit yang terdapat seperti sebuah terongan kecil. Uta dan Maung memperhaikan hujan yang deras.
“Sepertinya kita harus berhenti di sini. Biarkan kita istirahat ditemani rintikan hujan. Aku akan menyalakan api.” Uta bicara dengan menatap Maung.
Beberapa kayu kecil yang sedikit basah Uta kumpulkan. Uta menyalakan api yang kecil. Berbunyilah api kecil dimakan kayu basah bergemeretak. Api semakin cepat memakan ranting kayu yang mulai kering.
Maung duduk nyaman sambil berpangku di kedua kaki depannya. Ia menatap Uta.
Dari atas bukit Uta hanya memperhatikan hujan rintik-rintik. Ia menyetuh air hujan yang terasa dingin seperti menyetuh bongkahan es. Ia menaikkan pandanganya lagi ke atas. Kali ini ia melihat langit yang terang. Bintang seperti bergandangan tangan dengan cahaya bintang lainnya. Semakin lama cahaya bintang itu membentuk sebuah wajah.
Entah kebetulan atau tidak. Tapi dengan bantuan rintik-rintik hujan ia menyaksikan bintang itu membentuk sebuah wajah yang sangat indah. Terang dan putih. Matanya menatap indah, rambutnya terurai, bibirnya tersenyum indah. Senyuman itu mengingatkan Uta pada Sang Ibu. “Oh.. Ibu.”
Mungkin itulah gambaran terindah yang pernah ia lihat selama ini. Hal itulah yang membuatnya kembali bergelora. Uta menyimpan gamabr cepat itu ia kembali keperapian. Ia mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Ia membentangkan kulit kayu yang jadi bajunya. Tapi untuk malam ini kulit kayu jadi kasur empuknya. Ia mulai memejamkan mata sambil menatap bebatuan yang berada di atas kepalanya.
Manusia batu berujar. “Tidurlah anak muda. Waktumu tidak banyak. Tunaikan janjimu.” Uta pun terlelap di dekat Maung.
Hujan terus berjalan mengitari bukit berbatu. Untuk ketiga Kali petir dengan kilatan besar mengeluarkan bunyi sangat keras. Petir manyambar tempat peristrahatan Uta dan Maung. Uta sudah masuk dalam mimpi-mimpinya.
__ADS_1
Uta meronta-ronta. Deburan ombak menghantam sisi kapal berwarna putih. Kapal hanya berisi barang-barang bekas bungunan. Ia menatap di balik kaca kapal. Tidak ada satu orang pun di dalam kapal. Begitu juga ketika ia melemparkan pandangan ke keluar kapal tidak ada apa pun. Kecuali hujan, awan hitam dan tentunya air laut yang tidak bersahabat. Uta berada di dalam kapal. Ia seperti terkunci di dalam ruangan. Sempat mendobrak pintu kapal. Tapi tak kuasa. Ia hanya mampu berdiri di dalam kapal dalam tatapan keputusaan. Kapal itu melaju dan melaju tak mau berhenti. Kapal menuju tengah laut. Sementara badai hujan yang menyapa di tengah laut, membuat kapal terombang -ambing ke kanan dan kiri. Tanda detik-detik akhir dari sebuah kehidupan. Sekali kali kapal berada di ujung ombak. Oh dashyatnya laut ini. Siapa yang mampu melawan kehebatan makhluk ciptaan Tuhan ini. Ditambahi suara kilatan yang semakin garang di tengah gelapnya malam membuat suasana laut semakin sempurna dengan ketakutan. Begitulah kira jika alam ini mengamuk sesuai jati dirinya. Mereka dapat marah dan membinasakan siapa saja.
Uta bergerak tidak beraturan di dalam kapal. Terpontang-panting. Terhempas ke dinding membentur dinding kapal yang membuatnya heran badannya tidak dapat bergerak dan kakinya dan hanya mengikuti kehendak kapal tersebut. Untuk ke sekian kali. Ombak tanpa ampun tanpa peringatan. Membinasakan kapal berwarna serba putih. Tak dapat dibayangkan lagi. Masuk ke dalam laut. Kapal terbalik. Barang-barang bawaan kapal berhamburan di atas laut yang berombak. Uta berada di dalam kapal ia tidak mampu keluar dari kapal seperti terkunci. Air yang laut asin mulai masuk ke rongga mulutnya, mulai menyusuri lidah menuju tenggorokan melaju deras ke perut membuatnya mual ingin memutahkan sesuatu.
Uta mengeluarkan udara berbentuk bulat seperti bola-bola kecil. Sudah berapa banyak air laut yang masuk ke dalam perutnya. Saat itulah matanya mulai terpejam. Ia merasa tidak memliki kekuatan dan harapan semua seperti hilang dan meninggalnya dalam keadaan menggenaskan.
Saat itulah ia terbatuk keras dan terbangun. “Oh Tuhan ini hanya mimpi.” Yang membuatnya lebih terkejut lagi keadaan Sang Maung sendiri yang didapati tidak berada di dalam sudut Goa.
tarrrrr.tarrrrrrrr. bunyi kilatan petir seperti suara yang menggelegar.
Maung yang terkejut. Terbangun. Ia melompat keluar ia tidak menyangka jika lompatan itu membawanya terjungkal bebas ke jurang. Ia berteriak. “Aung.aung.” Berkali-kali.
Uta terkejut bukan main. Ia segera bangun. Menatap Maung tidak ada di sisinya ia melihat ke pinggiran Goa. Dari pinggir Goa Uta menyaksikan Maung hayut terbawa air yang sangat deras. Uta dengan tergesa-gesa turun ke bawah bukit.
Hujan semakin deras. Ia melompat ke sebuah batu untuk mengejar Maung. Yang terjadi keseimbangan badannya tidak stabil ia pun terjatuh. Badannya menggelinding bebas dari bukit. Ia coba menahan dengan tangannya yang keras justru semakin deras ia tergilincir.
"Maung bertahan. Aku akan menolongmu," teriaknya yang melihat Maung terbawa arus.
Sementara Uta pun tidak dapat menghentikan lajunya sendiri. Ia terbentur ke batu besar.
Ia baru ingat dengan seorang teman yang besar dan memiliki kekuatan. Uta coba mengeluarkan suara untuk meminta pertolongan pada pohon besar bernama Seru. Tapi sayang uara itu kalah dengan derasnya hujan. Sia-sia panggilan itu. Akhirnya kaki tangannya tidak bisa digerakkan. Ia terjepit di bebatuan. Kekuatan Uta pun habis tangan yang memiliki kekuatan super tidak dapat menolongnya. Sambil menahan rasa sakit ia hanya menatap Maung dari kejauhan yang terhayut.
__ADS_1