Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
Bab 6 Dan Bab 7


__ADS_3

Bab 6


Aktivitas Pagi


 


Pagi menjelang suara ayam hutan nyaring terdengar. Terlihat dengan jelas dahan yang disambar petir semalam. Hitam legam seperti arang yang terbakar. Dahannya tumbang ke tanah. Olige dapat menyaksikan itu setelah terbangun oleh suara ayam dan hentakkan parang menghantam kayu yang di lakukan Sang Ibu, "Kalau sudah pulih. Bisa bantu Ibu Nak," ajak Sang Ibu pada Olige yang sedang menatapnya.


Sambil memalingkan badan ia melihat Sang Adik masih meringkuk di pojok rumah pohon. Ia tak mau membangunnya karena luka diperutnya masih parah. Beberapa kain masih terbalut untuk mengeringkan lukanya. Ia membiarkan Sang Adik beristrahat. Harapannya Sang Adik segera sembuh. Tentunya, Olige ingin bermain dengan Sang Adik di sini, yaitu rumah baru.


Rumah yang menyatu dengan pohon. Rumah pohon membuat mereka aman dari beberapa serangan hewan\-hewan buas. Rumah pohon ini adalah persembunyian mereka. Entah sampai kapan mereka di situ. Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Nantinya rumah pohon itu akan bersambung ke pohon\-pohon besar lainya. Ia seperti bangunan tinggi yang memiliki jembatan kecil terbuat dari akar.


Beberapa orang datang untuk berlindung dengan mereka. Akhirnya penduduk bertambah banyak. Dan membuat suatu desa yang terdiri dari beberapa kepala kelompok terdiri dari kaum muda dan tua.


 


“Jangan terlalu lambat Nak. Sesuatu itu terkadang harus dikerjakan dengan cepat jika terlambat hilang peluangnya nanti,” ucap Sang Ibu. Sang ibu tidak hanya mengerjakan dua hal saja melainkan beberapa hal yaitu memasang perangkap ikan, "Cepat kau lihat perangkat ikan yang Ibu pasang tadi. Jangan sampai ikannya mati di dalam bubu,(perangkap ikan yang terbuat dari bambu bentuknya seperti roket)”


Olige berlari menuju sungai yang tak jauh dari rumah pohon dengan kecepatan yang tak bisa dihitung. Tiba di bibir sungai ia terkejut sungai yang terlihat kecil dari atas pohon tapi kenyataannya lain ia lebar dan memiliki arus deras yang tajam.


Dalam pertanyaannya sendiri, “Dimana Ibu meletakkan bubu itu.” Dari ujung ia susuri tapi belum ditemukan. Ia melangkah di pinggiran sungai yang ada hanya hama, kayu hutan yang beranjak besar dan bebatuan.


Terdengar pula suara burung yang terus berkicau sambil melihat ikan yang dijadikan buruannya. Beberapa jenis ikan pun banyak sekali di dasar sungai. Olige hanya dapat menatap sang ikan yang turun naik dari dasar sungai ke atas permukaan air untuk menghirup udara.


Saat itulah dengan kecepatan dan fokus yang luar biasa seekor burung berparuh panjang menerkam ikan sebesar lengan. Ikan tersebut berontak dari Si Burung. Si burung oleng dibuatnya. Tapi sekali lagi pengalaman burung dalam menangkap ikan bukan sekali dua. Ia lepaskan ikan di darat sang ikan seperti sekarat karena tak ada air. Di saat itulah Olige melihat ikan disantap oleh makhluk berparuh orange. Ia menyebutnya pemangsa ikan dengan gigi gergaji. Konon juga burung itu pemarah dia akan terkadang menyerang burung lain jika berada di are sungai.


Burung berparuh orange yang besar memperhatikan Olige. Dengan tatapan mata yang mengancam. Setelah lama ia berada di sungai baru Olige sadar jika Sang Ibu membuat jalan setapak di pinggir sungai untuk memasang bubu.


Ia mengikuti jalan itu baru ditemukan bubu yang terpasang di dasar sungai dengan arus sungai tak begitu deras. Di atas bubu sengaja diletakan rerumputan untuk membuat kamuflase agar bubu tidak dihancurkan oleh para burung pemakan ikan.


Di dalam bubu terdapat ikan yang kebingungan mereka seperti terkena penjara tak dapat kabur kemana-kemana. Olige mengangkat bubu tersebut berlompat-lompat ikan di dalamnya. Entah, kecil besar, gemuk, pendek, bentuknya macam-macam. Untuk hari ini rumah pohon akan penuh dengan bau ikan bakar.

__ADS_1


Bergegas Olige kembali ke rumah pohon. Setibanya ia di rumah pohon ia membuat api kecil. Olige menyalakan api di bawah rumah pohon. Ia meletakan ikan putih bernama toman mirip ikan gabus.


Hari ini mereka dapat makan ikan segar. Olige dibantu anak-anak yang lain memasak ikan-ikan. Sedangkan Sang Ibuku mencari ubi-ubian di hutan yang dapat dijadikan makanan. Makanan itu cukup untuk menambah vitamin dalam tubuh mereka. Hari itu merupakan acara besar dengan makan besar pula. Semua gembira dengan perkumpulan itu. Anak-anak yang kemarin sempat trauma dengan kejadian banyak senyum yang tersurat di wajah mereka, dan tentunya, itu saling menguatkan mereka. Olige menatap anak-anak itu dan keluarga yang tersisa yang sedang berkumpul. Ini menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin baru di suku rumah pohon.


Bab 7


Burung Berotot


 


Uta berangsur\-angsur mulai membaik ia dapat bergerak dan sedikit sudah bisa memakan makanan yang disajikan Sang Kakak. “Habiskan makanan ini,” seru Sang Kakak.


Ia coba menatap keluar rumah pohon. Uta menyapa dengan senyuman beberapa anak\-anak yang duduk di dahan rumah pohon. Mereka melambaikan tangan. Uta memejamkan mata untuk merasakan kehangatan sinar mentrai pagi. Dunia baru sedang menyambutnya.


 


“Kak Uta bagimana keadaanmu. Seperti sudah pulih,” ujar Sang Anak perempuan kecil berambut panjang dengan mata bulat hitam menyapa Uta.


Uta menuruni tangga secara perlahan-lahan. Ia menghampiri Sang Ibu yang sedang sibuk di bawah rumah pohon. “Bu, aku ingin ke sungai itu," Uta menunjukan sungai yang di depan matanya tanda ia berpamitan pada Sang Ibu.


“Untuk apa ke sana. Kondisimu belum cukup pulih,” terang Sang Ibu. Uta melihat Sang Ibu dengan tatapan kelelahan karena harus mengurus dirinya dan Sang Kakak. Mungkin beban itu agak sedikit ringan dengan adanya Sang Kakak yang cukup cergas dalam berbagai hal.


“Hanya ingin menghibur diri Bu,” tegas Uta pada Sang Ibu.


“Tapi tidak boleh lama,” jawab Sang Ibu.


Uta mengangguk kepalanya pelan. Segera ia bergegas menuju sungai yang tidak jauh dari rumah pohon yang mereka tempati. Ia terheran bukan main. Sungai memiliki arus deras. Pohon-pohon besar berdiri tegak di sampingnya. Rumput-rumput kecil yang jadi tempat persembunyian burung pemakan ikan ada di sana. Dan satu yang membuatnya agak sedikit takut burung besar dengan paruh besar. Apalagi tatapan matanya menusuk hati, lahernya keras seperti akar kayu raksasa. Di lehernya tidak terdapat bulu seperti burung biasa. Terlihat jika dia burung berotot yang mirip dengan otot yang ada di lengan manusia. Sekali-kali dia menatap Uta. Ia mulai curiga dan waspada. Di pinggiran sungai terdapat beberapa belas telapak kaki yang besarnya beberapa centi meter melebih kakinya. Mungkin jejak kaki Sang kaki yang kemarin ke sungai.


Burung itu ternyata mirip raksasa. Matanya melotot seperti ingin menangkapnya. Paruh Sang Burung terlihat sangat kuat. Sang Burung terbang kearah Uta dengan cepat dan menyerang. Uta terkejut sehingga terjatuh ke sungai. Sang burung kembali menyerang Uta. Padahal posisinya tercepit karena arus sungai sangat deras. Sungai itu terus membawaku entah, kemana.


Ketika burung besar itu akan mematuk dengan paruhnya. Uta dengan cepat menghindar yakni menyelam. Tapi tak bertahan lama Uta muncul lagi kepermukaan air sungai. Ia kembali menyerang, kali ini dengan kukunya yang tajam seperti pisau.

__ADS_1


Ia mencengram baju Uta menariknya sampai berbunyi krekkk. Uta meronta-ronta sementara arus deras terus membawanya. Sang Burung merasa gagal mencengram baju Uta ia coba pergi. Sang Burung sangat tercerdik ternyata ia sedang menunggu Uta di sebuah pohon tua yang mati. Ia menunggu Uta jatuh dari air terjun. Dengan mata yang sangat awas dan tajam. Mungkin Sang Burung berotot berkata,”akhirnya mangsa satu ini aku dapatkan. Kau tak bisa lari lagi.” Dengan tatapan optimis ia mulai mengayunkan paruhnya kearah Uta dengan cepat untungnya serangan paruh itu meleset. Uta melesat terjun ke air dari daratan tinggi yang membawanya hanyut seperti batang pohon yang mati.


Pandangannya gelap. Ia tidak dapat berkata apa-apa kecuali pasrah. Ya itu yang bisa. Kalimat yang dapat membuatnya tenang setenang mata angin menghampirinya. Setelah itu Uta tak dapat melihat apa-apa lagi. Uta berjam-jam dibawa aliran sungai. Benar-benar arus sungai telah membawanya jauh. Mulai hari-hari itu Uta mengalami rasa sakit lagi yang membuatnya tak berdaya. Ia terdampar di pinggiran sungai. Walaupun burung berotot telah menyerah untuk menyerangnya.


Sudah banyak ia terkena benturan batu dan kayu ditambah dengan cuacan dingin menjadi lengkap sudah penderitaannya. Meriang mulai menghantui malam-malam. Bahkan Uta tak sadar siapa dirinya yang sebenarnya. Sobekan anak panah yang berada di perut membuatnya sakit lebih dalam lagi.


Perih tak terkira bahkan Uta merasak seperti di sayat-sayat. “Ya Tuhan ini benar-benar sakit,” terucap dengan mata terpenjam.


Ia coba bergerak untuk menyandarkan badan di pohon dekat sungai.


Datang pula halusinasi yang datang ia tak tahu dari mana. Ia terbujur di sungai itu. Sungai itu membuatnya seperti terhempas ke dasar sungai. Ranting-ranting pohon seperti memukul-mukulnya sangat keras bahkan melebihi kerasnya besi. Uta berteriak minta tolong tak ada yang menyahut kecuali derasnya air. Panasnya sinarnya menyayati. Burung berotot seperti tersenyum dengan keadaan Uta yang tak berdaya. Ia masih berusah mencari Uta.


“Tidak untuk kali ini. Aku tidak boleh mati sia-sia. Aku akan melawannya,” ujar Uta terbangun dari halusasinya.


Ia menggerakan seluruh tangan, Kaki dan Badannya. Entah, apa yang terjadi ia seperti melayang kemudian terhempas dengan sangat keras sekali.


Ternyata itu bukan burung berotot. Tapi hewan berlorek yang menyerang Sang Kakak di waktu malam itu. Hewan berlorek yang menunggu Uta beberapa kali meraung seperti ingin mengatakan sesuatu. Ia menarik baju Uta dari pinggiran sungai. Ia menatap mata Uta dengan tatapan kasihan ada persahabatan yang ingin dia tunjukkan. Sejak saat itulah Anjing hitam menjadi sahabat Uta. “Terima kasih kawan telah menyelamatkanku,” ucap Uta dengan mengelus kepala Anjing hitam.


Sang Anjing Hitam seperti mengerti dengan kalimat itu. Ia kasihan dengan tatapan iba ketika melihat Uta yang pucat dengan badan bergetar-getar.


Tanpa disangka Sang Anjing Hitam merobek baju Uta. Setelah itu berlari menuju rumah pohon. Kecepatan yang luar biasa ia sampai di bawah rumah pohon. Semua anak-anak yang sedang main terkejut melihat Anjing Hitam datang.


Olige dengan cepat menghadang Sang Anjing Hitam. “jika dia menyerang lagi maka dia akan berakhir di sini.” Olige pun terkejut dikala Sang Anjing Hitam meletakan baju yang terbuat kulit kayu yang tipis terdapat lumuran darah. Olige mencium darah tersebut. Ia baru sadar bahwa Sang Adik dalam bahaya. Olige membawa panah berlari ke sungai bersama Anjing Hitam.


Betapa terkejutnya Olige melihat Sang Adik terdampar di dekat air terjun. Akhirya segera ia melompat ke pepohonan yang ada di pinggiran sungai.


“Uta apa yang terjadi denganmu?” Sang Kakak bertanya.


Dengan suara yang berat Uta menjawab, ”aku diserang burung berotot Kak,” sambil memegang lengan Sang Kakak.


“aku akan membawamu pulang,” dengan segera Olige mengangkat Sang Adik ke punggungnya untuk dibawa ke rumah pohon.

__ADS_1


__ADS_2