Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
bab 29


__ADS_3

Esok hari, mengingat masa itu


Uta dan beberapa temannya mmepersiapkan diri untuk menuju bukit putih.


Bukit putih berada di ujung sungai yang bebrentuk bulat. Sungainya pun berwarna biru tua jika terliaht dari jauh. Mirip danau Te Anau di Austrlia. Seblum menuju ke sana terdapat bebatuan besar. Bisa jadi diseberang sana sudah ada pengawal Batoza yang berjaga.


Uta kembali ke rumah pohon. Ia merasa sudah cukup untuk berdiam diri menikmati kehidupan yang santai. Pada malam hari ini lebih banyak menatap bintang-bintang. Ia kembali teringat tetang ayahnya yang lama pergi. Dalam benaknya tergiang bahwa bersama seorang ayah di saat ini adalah paling tak ternilai harganya. Tapi sang ayah telah pergi bersama Sang Penutup waktu.


Pada waktu itu di gelap rumah pohon. Malam yang mencekam. Petir berkilat-kilat menyambar rumah pohon. Angin kencang mendorong-dorong dengan keras. Beberapa penduduk terjatuh dari atas pohon yang sangat tinggi. Ternyata dibalik perlindungan rumah yang kuat terdapat kelemahan yang tidak terelakan lagi yaitu pohon yang tinggi akan membuat mereka terjatuh dengan cepat jika ada angin kencang disertai hujan dan petir. Mereka tidak bisa mengindar jika sang petir menyambar rumah mereka. Itulah yang terjadi petir-petri tersebut menyambur beberapa rumah pohon. Dengan suara petir yang keras. Petir membelah rumah pohon.


Mereka berada di dalam terkena sambaran petir. Sang ayah Uta sibuk menyelamatkan Olige(Kakak Uta) yang masih kecil. Sang ibu ketika sedang mengandung Uta. Sang ayah mengambil tali untuk menyelamatkan Olige.


“Olige pegang tali ini.” Perintahnya.

__ADS_1


Dengan wajah yang basah terkena air hujan disertai hawa dingin yang merayap ke seluruh tubuh Sang Kakak dengan kedingan ia menyambut tali yang diberikan ayahnya. Sang Ayah mengikat kuat tali tersebut ketubuh Olige. Ia di dorong supaya berayun menuju dasar tanah. Setelah ia mendarat dengan selamat berserta ibunya. Ia bersembunyi di balik pohon untuk berlindung dari petir.


Untuk kesekian kalinya petir menyambar beberapa rumah pohon bebrapa rumah hangus terbakar. Beberapa orang berteriak minta tolong karena terbakar oleh petir. Sebagain lagi menyelamatkan penduduk lain untuk berlindung. Ketika ayah Uta akan memegang tali akar pohon petir menyambar rumah Uta dengan keras membuat kobaran yang besar. Cetarrr cetraarrr..aaaaa… suara seseorang berteriak karena tersambar petir. Seseorang tersebut jatuh.


Olige berlari menuju arah tersebut. Ia menatap dengan sangat jelas wajah ayahnya berbentuk persegi dengan rahang yang kuat. Dengan wajah yang hitam mata yang sebentar terlagi tertutup. Ia melihat olige berlari ke arahnya. Ia mengeluarkan gelang putih dibalik baju kayunya yang sudah hampir terlepas dari badan. Ketika olige akan mendekat. Sang ayah sudah memejamakan mata.


Ia tidak dapat menahan kesedihan tersebut. “Ayah bangun. Ayah bangun!" Serunya dengan memasang wajah khawatir.


Sang ayah sudah tidak bernafas.tubuh yang diigerakan Olige hanya seperti kapas. Tidak ada pergerakan sedikit pun.


Sementara tubuh sang masih tidak bergerak sedikit pun. Tiba-tiba tangan Sang Ayah?sedikit begerak dengan memegang sebuah gelang perak.


Olige melihat benda itu. Ia mengambilnya. Ini untukmu dan adikmu. Dengan suara yang lirih hampir tidak terdengar suara Sang Ayah karena kalah dengan suara deru hujan deras.

__ADS_1


Olige memegang gelang tersebut.


Sang Ibu mendekat perlahan melihat Olige menangis Sang Ibu memiliki firasat yang sama. yaitu sebuah kepergian yang tidak bisa ditolak oleh seluruh penduduk langit dan bumi.


Sang Ibu berusah tegar. Ia sambil mengusap kepala Olige. "Ayahmu sudah berada disana Nak. Tenang saja ia masih menjaga kita." Terang Sang Ibu padanya.


Olige memeluk Sang Ibu.


Sang Ayah ia coba sandarkan dibawah rumah pohon. Ia menutupi tubuh Sang Ayah dengan dedaunan besar.


Sampai esok pagi. Embun pagi mulai menyapa seluruh penduduk rumah pohon. Kejadian semalam membuat mereka harus merapikan banyak hal. Dari mulai atap rumah yang hancur, dindin rumah yang tinggal separuh karena dihantam petir.


Semua penduduk rumah pohon sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing terutama tentang tempat tinggal mereka.

__ADS_1


Olige dan Sang Ibu mempersiapkan pemakan ayahnya. Temani para tetua rumah pohon setelah berdoa dan kemasi dg rapi. Sang Ayah dikuburkan deket rumah pohon. Ia dimasukan ke dalam pohon. Olige memberikan sebuah tanda bahwa itu adalah makan sang Ayah yg ia cintai. Dengan derai air mata ia mengucapkan." selamat jalan ayahku. Aku selalu merindukanmu."


__ADS_2