
Bab 21
Pertarungan Sengit
Pohon Raksasa yang Uta dan Maung tinggalkan tadi sudah jauh tidak telihat lagi. Uta dan Maung sampai di sebuah perbatasan bukit yang menjulang tinggi. Mereka turun ke tanah. Uta menatap bukit yang ada di depan mereka. Mereka sudah tidak dapat lagi melompat dari satu ke pohon lain. Sekarang mereka harus berjalan dengan menyusuri bukit.
Terlihat terjal bukit tersebut. Bukit itu senyap tidak ada suara tidak ada hewan yang melintasi. Semua seperti belum terjamah oleh jejak manusia. Pinggiran jalan yang terlihat sangat bersih. Uta justru curiga tempat yang akan ia lewati memiliki jebakkan yang ia sendiri tidak tahu.
Uta dan Maung masih menunggu waktu yang tepat untuk menyusuri bukit berwarna cream dan terjal dipenuhui dengan batu keras. Uta masih memperhatikan keadaan sekitar. Kemudian Uta coba membaut pancingan. Ia merobohkan pohon besar. Setelah robohkan pohon tersebut. Pohon ia angkat dengan kekuatan tenaga dalam. Dengan kekuatanya ia melemparkan pohon tersebut ke arah bukit besar. Apa terjadi ketika pohon itu jatuh di depan bukit. Beberapa anak panah dengan meluncur deras. Stuuut..suuuut.suut.
Uta dan Maung terkejut bukan main. “Pasti ada seseroang di balik bukit itu,” ucap dalam sambil menoleh ke Maung yang sigap untuk beraksi. Sekali lagi Uta dengan kekuatan mata Api menghancurkan pohon yang berada di depan bukit tadi. Kayu hancur seperti terkena ledakan besar. Muncul seseorang bertopeng menggunakan panah disertai pengawal. Pakaian yang kenakan terbuat dari kulit harimau. Tangan dan kaki mereka terbungkus kulit kayu yang sangat kuat. Begitu degan perut mereka. Kecuali yang mengenakan cadar dari kain hitam. Kepalanya terbungkus dengan topi yang terbuat kulit kayu. Yang terlihat hanya mata hitam yang tajam. Tangannya terbungkus kuat dengan kulit kayu. Badannya kokoh. Mungkin sangat sulit untuk melumpuhkannya, diikuti dua pengawal yang menggunakan pedang dan tali.
Uta seperti mengenal seseorang mereka. Ia melangkah sedikit ke depan dengan Maung. Maung seperti biasa mengeluarkan suara keras dengan mata yang tajam. Ia seperti ingin segera menyerang. Uta masih santai untuk memperhitungkan pergerakan mereka. Uta melihat mereka dari kejauhan yaitu di bawah pohon sedangkan Sang Musuh masih berada di dekat bukit.
“Siapa Kau berani masuk area ujung hutan ini?” ia bertanya pada Uta.
“Ternyata aku baru sadar di belahan ujung hutan ini ada orang kuat seperti anak muda ini,” terang lagi sambil menatap Uta.
Uta masih menatap mereka dengan tajam dengan siaga penuh.
“Tak ada urusan dengan kalian semua. Kami hanya ingin melewati bukit itu.” Sambil menunjukan bukit yang ada di depan nya.
“Kau seperti harus diberi pelajaran anak muda.” sambil menunjuk mata Uta Sang Pengawal mengacam.
“Jika berani beri aku pelajaranmu!” tantang Uta.
Sebelum ia mengeluarkan pedangnya. Uta menyerangnya lebih dulu menggunakan sinar panas yang kelaur dari telunjuknya. Pedang musuh tepental dan jatuh.
Dua Sang musuh menghidar dan memasang siaga.
Sangat pimpinan yang bertopeng terheran. Owwww.
“Ia memiliki kecepatan dan kekautan yang mematikan,” ucapnya.
Maung melompat ke pohon dan melompat lagi ke arah dua musuh tadi ia mengeluarkan ketut yang mengarah ke dua pengawal. Setelah itu ia kembali mendekati Uta dengan memasang badan untuk siap menghadapi serangan.
Dua pengawal menghirup ketut yang berbunyi brubut.,brubut..
Bau ketut yang menyengat menyebar cepat seperti virus. Dua pengawal terkapar dengan nafas naik turun. Melihat dua pengawalnya terjatuh hampir tidak bernyawa Sang Musuh bertopeng marah besar.
“Kau membuat masalah besar anak muda,” ucapnya mengancam sambil mengeluarkan panahnya dan mengarangkan kepada Sang Maung.
“Maung cepat menghindar di balik pohon. Biar aku yang menghadapinya!” perintah Uta pada Maung.
Maung segera melompat untuk menghindar dari anak panah yang meluncur deras. Sebelum anak panah itu meluncur Uta dengan tangan mengeluarkan kekuatan angin yang membaut anak panah terpental mengenai pohon. Uta melompat ke atas pohon.
__ADS_1
Ketika kakinya akan menyentuh dahan kayu beberapa panah yang lain diarahkan Sang Musuh bertopeng ke Uta. Panah mengeluarkan api meleset tajam dengan segera Uta menghindar dengan kecepatan kilat. Tiba-tiba ia sudah berada di pohon lain yang jauh. Sang musuh memanah tanpa beraturan mengenai beberapa dahan pohon. Yang mengeluarkan ledakan. Sementara Uta terus menghindar. Uta belum dapat melakukan serangan jarak deket. Uta kembali bersembunyi di balik pohon lain. Sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Beberapa pohon tumbang dengan cepat terkena oleh serangan panah Sang Musuh. Uta tidak menyangka bahwa seseorang yang bertopeng memiliki kekuatan panah yang dapat meledak.
Uta menatap Sang Musuh di balik pohon ia mengarahkan telunjuknya ke arah musuh bercadar kain hitam. Telunjuk mengeluarkan sinar putih. Ketika Sang Musuh akan berbalik memanah. Sinar panas mengenai tangannya. Panah terlepas dari tangannya Sang Musuh. Saat itulah Uta mendekat dengan cepat untuk menyerang dengan jarak dekat. Uta melayangkan tinju berkali-kali Sang Musuh dapat menghidar cepat. Ia melompat ke atas pohon untuk menghindari serangan Uta.
Maung tiba-tiba datang dari balik pohon yang tadi berjatuhan ia mengongong ia menatap tajam. Tatapan tajam tersebut mengeluarkan sinar panas yan g mengarah ke musuh bertopeng dengan cepat berbalik untuk menghindar. Ketika akan berbalik sinar panas sedikit mengenai penutup wajahnya. Penutup wajah terbuka. Wajah putih bersih dengan hidung kecil bermata hitam dan beralis bulan sabit berada di balik cadar tersebut. Betapa terkejutnya Uta menyakiskan itu.
“Maung tunggu!” perintah cepat.
Maung berhenti.
Uta berujar dalam hati, ”Aku seperti mengenalinya. Ohh. Tidak!”
“Dia perempuan yang menyerang kita di sungai,” ucap Uta pada Maung.
Ia terheran. “Apa hubungannya perempuan tersebut dengan bukit itu. Apakah ia yang menjaganya atau bagian dari pasukan Batoza. Oh. Tidak mungkin,” ujar sendiri keheranan.
“Ia membuat konsentarsiku buyar,” ucap Uta dalam keheningan.
Uta berujar sambil tetap menjaga jarak khawatir di serang tiba-tiba. “Aku sudah mengira pasti Kau yang menggunakan panah itu dan waktu kau juga yang menyerangku di sungai.”
Sang perempuan bercadar hanya mamandang dengan tatapan kebencian.
“Beruntung kau masih dapat menahan panah itu. Jika tidak nyawamu akan melayang di sungai itu,” balasnya.
“Sekali lagi kukatakan tidak memiliki masalah denganmu. Lalu untuk kau menghalangi jalanku,” jawab Uta.
“Aku adalah penjaga bukit ini. Siapa-pun yang melewati bukit ini harus di panah,” ucapnya.
“Sampaikan pada Batoza aku akan datang,” tegas Uta.
Perempuan bertopeng sambil melompat dan bersembunyi di balik pohon. Tertawa.
Hahhahhahhha.
“Kau kira sanggup melawannya. Kau belum tahu siap Batoza yang sesungguhnya,” balasnya.
Uta kembali terheran.
“Kekuatan sinar mata dan kekuatan di tanganmu hanya satu kekuatan yang dimiliki Batoza,” terangnya lagi.
Tambah terkejut Uta mendengar itu.
“Sepertinya dirimu hanya membual saja,” Uta membalasnya.
Ketika Uta bercakap\-cakap dari kejauhan. Dua pengawal yang tadi pingsan terbangun. Mereka terkejut melihat pohon\-pohon tumbang. Mereka berteriak. ”Tuan Putri. Tuan Putri,” teriaknya berkali. Uta baru sadar bahwa Sang perempuan bercadar adalah tuan putri.
__ADS_1
Sang perempuan bercadar menghampiri Sang Pengawal.
“Tuan Putri baik-baik saja.” seperti ingin memastikan keadaan Tuannya.
“Aku baru saja bertarung dengan anak muda itu,” tegasnya.
“Apa dia sudah kalah Tuan Putri?” tanya pengawal.
“Belum. Ia memiliki kekuatan dahsyat,” imbuhnya.
“Baiklah biar aku saja Tuan Putri untuk menghadapinya dengan pedang ini,” balas Sang Pengawal dengan menundukkan kepalanya.
Dua pengawal mengeluarkan senjata masing-maisng. Yaitu pedang dan cambuk.
“Hai anak muda mari bertarung denganku,” ia sambil melompat ke atas pohon untuk menantang Uta.
Uta hanya tersenyum.
“Dasar pengawal bodoh. Kau baru saja terkapar dengan ketut Sang Maung. Kini kau akan menantangku. Dasar kau tak tahu malu,” terang Uta.
Uta mendekat ke arah pengawal. Dengan segera ia mengarakan pedang ke arah Uta. Hanya menghindar sekali saja. Uta dengan kekuatan tenaga dalam mengangkat sebuah pohon yang tumbang dengan jarinya. Pohon berada di udara kemudian dilemparkan ke arah pengawal. Sang pengawal membelah kayu tersebut menjadi dua dengan pedangnya.
Maung tidak tinggal diam. Berlari ke dahan pohon yang tinggi kemudian menyerang Sang Pengawal dengan menggunakan sinar matanya, yang mengeluarkan sinar panas. Sinar panas tersebut mengenai badan Sang Pengawal. Kulit kayu yang melekat di badannya yang berwarna coklat tertembus sinar panas milik Maung. Ia berteriak kesakitan.
“Aaaaaaaa," ucapnya.
Sinar panas perlahan menggores kulit Si Pengawal. Darah merah sedikit-demi sedikit mulai keluar dari badannya. Tangannya coba menahan darah tersebut. Ia seperti terbakar kulitnya terkelupas terkena panas yang mengeluarkan asap kecil.
Dengan serangan berikutnya Sang Maung akan menggigit dengan taringnya yang runcing seperti tusuk gigi.
Sang pengawal satunya meleparkan tali yang mengenai Maung. Maung terlilit hebat sambil meraung-meraung. Dengan cepat pengawal menarik tali tersebut dan melemparkan ke pohon lain Maung terpental membentur pohon. Maung tidak sadarkan diri. Bulu-bulu halus di tubuhnya berterbangan ke udara. Ia tehempas di bawah pohon besar. Anjing hitam yang malang. Menyaksikan itu Uta sakit ingin menangis tapi ia mencoba menahan itu. Ia menyimpan marah di balik wajahnya yang putih.
Uta dengan kekuatan di tangannya menghantam Sang pengawal dengan kekuatan angin. Hingga Sang Pengawal pun terpental sangat jauh. Uta segera mendekati Maung yang tergeletak di bawah pohon, sambil meraung-meranung kecil menahan sakit. Dengan tatap kasihan Uta melihat Maung.
Uta menempelkan tangan di perut Maung. Ia mengusapnya dengan penuh kasih sayang. yang membuatnya kembali bernafas. Akhirnya Sang Maung dapat bergerak secara perlahan. Maung menarik bernafas dan kembali menyala seperti sakit tak pernah hadir di badannya.
Uta tersenyum.
“Saatnya menghabisimu,” ucapnya sambil menatap Sang Musuh.
Dengan kekuatan angin di tanganya yang berotot beberapa pohon terbang ke udara. Pepohonan tersebut ia buat berputar-putar di udara. Semakin ke atas semakin cepat.
Setelah kecepatannya bertambah pohon-pohon itu ia hempaskan ke arah Sang Pengawal. Di saat itulah dua pengawal Batoza berlebur jadi cacing dan masuk ke dalam tanah.
Mata Uta dengan cepat kembali mencari sosok wanita bercadar tadi. Sang wanita sudah menghilang. Maung ingin cepat mengejar. Tapi Uta segera menghentikannya.
“Biarkan dia pergi,” perintah Uta.
Sang Maung kembali ke Uta.
__ADS_1
“Kita akhirnya jadi tahu bahwa beberapa tempat yang kita lewati ini sudah menjadi kawasan yang diawasi pasukan Batoza. Untuk selanjuntya kita tidak boleh gegabah,” ujarnya pada Maung dengan menatapnya.