Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
Bab 16


__ADS_3

Bab 16


Pertahankan itu


 


Mentari pagi yang hangat mulai menyapa penduduk rumah pohon. Maung bangun terlebih dahulu dengan memberi tanda suara. Uta dengan mata berat bangun dari tempat tidurnya. Uta mengenakan baju kulit kayu dan ikat kepala. Ia segera melompat menuju sungai bersama Olige dan Maung. “ Ayo Kak Olige kita ke sungai. Kita memburu ikan,” sambil berayun di atas akar pohon Uta mengajak Olige.


Olige dengan cepat berlari. Sementara Uta melompat dari pohon satu ke pohon yang lain. Tibalah mereka di sungai yang deras. Sesampai mereka di tepi sungai. Uta dengan sentuhan tangannya mengepakannya. Beberapa ikan melonjat ke atas sungai. Uta dengan kekuatan angin Uta mendorong ikan tersebut ke darat.


Maung berkali\-kali bersuara kecil tanda ia bahagia. Ikan melompat\-lompat. Uta dengan cepat memasukan ikan\-ikan tersebut. Ke dalam tabung berbentuk silinder yang terbuat dari batang kayu.


Dari kejauhan ditemani desiran suara air sungai. Muncul suara beberapa burung besar yang bertengger di atas pohon di pinggir sungai. Matanya besar, paruhnya tajam, yang jelas ia terus menatap Uta seperti ingin menerkam Uta dan Maung. Uta menghadapkan wajahnya dan menatap burung itu. Maung beberapa kali menggeram dengan mata bringas. Tanda ia tak suka masih ada dendam dari tatapan mata burung berotot. Ia tersebut menyerang Uta. Maung tidak tinggal diam. Ia mengeluarkan ketut yang menyebar ke seluruh area. Tapi dengan lincah burung berotot menghindar dengan terbang tinggi ke udara. ” Siap\-siap Dik dia menyerang,” Sang Kakak berujar.

__ADS_1


 


“Aku percayakan padamu,” lanjutnya Sang Kakak lagi.


Burung berotot memekarkan cakarnya yang tajam. Uta menundukkan kepalanya ia memutar badannya. Dengan kekuatan tenaga dalam melalui jarinya yang mengeluarkan sinar panas. Sang burung besar terhempas ke tanah. Ia meraung kesakitan.


Sang Maung tanpa menunggu lama langsung menerkam burung berotot dan mengigitanya kuat. Tapi Uta dengan cepat melarangnya. “Maung jangan membunuhnya!” perintah Uta.


Burung berotot yang lain tak jadi menyerang Uta dan Maung. Mereka melesat kabur lebih dahulu berucap Sang Kakak. ”Sepertinya burung-burung itu adalah mata-mata dari seseorang,” Uta terkejut dengan pernyataan Sang Kakak. Bisa jadi itu masuk akal. Oleh sebab itu Olige membiarkan para burung itu pergi. “Aku ingin tahu siapa di balik bukit itu,” sahut Uta.


“Kita tidak bisa lama-lama di sini. Kita haru segera kembali ke rumah pohon,” ujar Sang Kakak.


Uta mengikat ikan-ikan tersebut satu persatu dengan tali akar. Ada puluhan ikan besar yang ia bawa tentunya, untuk anak-anak rumah pohon.

__ADS_1


Mereka segera kembali ke rumah pohon. Beberapa pengawal mereka lewati perbatasan hutan. Dengan cepat mereka mendekati Uta dan Sang Kakak, mereka memberi hormat kepada Olige dan Uta seperti layaknya menghormati Sang Raja. Beberapa ekor ikan Uta serahkan kepada mereka. “Bakarlah ikan ini bersama yang lain, dan ingat tetap waspada,” serunya dengan meletakkan ikan-ikan di depan mereka.


“Baik Tuan. Terima Kasih atas kebaikan Anda,” balasnya.


Uta bertanya lagi. “Seberapa jauh kalian mengontrol area hutan ini?” mata Uta sambil menunjukan ke area hutan belantara.


“Kami bersama yang lain mengontrol sampai ke sungai air terjun Tuan,” jawabnya singkat.


“Apakah ada hal mencurigakan?” tanya Uta lagi.


Sang Pengawal seperti mengingat sesuatu dengan menatap ke kiri. “Ia Tuan. Ada beberapa burung besar sering melintas di area seberang sungai. Tapi mereka tidak memasuki area hutan kita. Tentunya jika mereka masuk area hutan ini, aku dan yang lain tanpa ampun akan menghabisi mereka,” jawabnya dengan semangat.


Uta menoleh ke Sang Kakak mereka mencurigai sesuatu ada di balik seberang sungai. “Aku dengan suka dengan kerjamu pengawal. Pertahankan itu!” puji Olige memasang wajah bangga.

__ADS_1


__ADS_2