Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
bab 28


__ADS_3

BAB 28


Kekuatan Hati


Percakapan malam itu tidak berkesudahan. Dibalik sebuah pecakapan yang panjang ada maksud yang ingin disampaikan oleh Sang Kakak tapi masih ragu. Ia menyimpan pertanyaan itu sampai waktu yang belum dipastikan kapan diluncurkan. Sebagai Sang Kakak Olige menghargai Sang Adik yang beranjak dewasa.


Hal tersebut terlihat dengan beberapa guratan kening Uta yang serius dan cukup kritis ketika berdiskusi dengan Sang Kakak. Terutama mengenai penyerangan yang akan Uta lakukan. Ia pun memberikan strategi agar bisa menghadapi pasukan suku Bui yang dipimpin oleh Batoza.


"Uta apakah kamu melirik seseorang yang kamu sukai di sini?" Sang Kakak bertanya.


Uta dengan polos dan tertawa kecil menjawab."Tentu banyak sekali.” Uta melirik anak kecil yang lucu sedang belajar memanah. Ia sedikit kesal dengan wajah tertekuk."


Sang Kak menyahut. "Dasar bodoh." Uta sedikit terheran.


"Bodohnya di Mana?"tanya Uta.


Maung dan Burung Paruh Tajam terheran dan berkata."Tuan bodoh. Tuan bodoh." beberapa kali.


"Ingat Uli (Nama Burung Paruh Tajam) aku akan menghukummu," seru Uta.

__ADS_1


Sang Kakak kembali menimpali. "Maksudku seorang gadis." Uta terdiam mematung. Matanya seperti menatap sesuatu di balik bukit.


Ada seseorang yang selama ini membuatnya terkejut. Apalagi setelah perkelahian itu. Seorang wanita bercadar membuatnya penasaran. Walaupun sebenarnya itu tindakan sangat berbahaya dia adalah musuh Uta sekaligus seorang teman yang misterius pergi tanpa pamit.


Itu sebenarnya yang Uta ingin ucapkan tapi entah mengapa seperti ada sesuatu yang mengganjal di bibirnya. sehingga ia menjawab sangat singkat. "ada."


Sang Kak penasaran.” Siapa beritahuku!”


"Mau apa?” balik bertanyanya.


"Aku akan menemui orang tuanya. Apalagi di suku rumah pohon orang sangat mengenalku. Tentu suatu kehormatan bersaudara dengan keluarga kita."


“Uta, kamu jangan membuatku kesal." Sang Kakak berucap dengan nada kesal.


"Itu penting dalam hidupmu. Agar kamu memiliki kekuatan hati."


Uta terpojok dengan pernyataan itu. Tak kehabisan akal dia menjawab."Beri aku waktu," pintanya.


Sang Kakak terdiam dan pasrah.

__ADS_1


"Oke." hanya itu jawabnnya.


Uta kembali ke rumah pohon ia menuju kamarnya.


"Aku ingin tidur kak. Mataku sudah tidak kuat lagi menahan ngantuk." Ucap Uta dengan mata yang mulai redum.


Sang mempersilakan.


Uta memasuki kamarnya.


Ia merebahkan tubuhnya di atas tumpukan daun kering yang dijadikan kasur. matanya Menatap langit yang terang dibalik jendela kecil rumah pohon.


Masih terbayang-bayang pertanyaan Sang Kakaknya tadi.


"Ada benarnya apa yang disampaikan Sang Kakak. Bahwa ia harus memiliki seorang pendamping. Tapi siapa dan bagaimana.


Uta coba menghalau pikirannya yang liar. Bagaimana jika wanita itu menjebakku. Matilah aku. Ucapnya sendiri dalam keheningan. Itu tidak boleh terjadi.


Pikirnnya terus menerawang ke atas langit yang menyisakan sedikit sinar rembulan. Saat itulah ia memejamkan matanya dan terlelap dibawa arus mimpi yang panjang.

__ADS_1


teman-temannya seperti Uli, Maung mereka sudah terlelap lebih awal dari tadi. bisa jadi karena mereka juga tidak akan mengerti tentang isi percakapan Uta dan Sang Kakak. dan mereka tidak perlu tahu karena itu merupakan privasi Uta. yang mereka perlu lakukan adalah menemani Uta sampai Uta menyelesaikan misinya. apalagi mereka tahu bahwa menjadi sahabat sejati tidak semudah yang dibayangkan. jika tidak ada kesamaan atau kecocokan sulit untuk bersatu. walaupun tidak semua harus sama.


__ADS_2