
Bab 9
Mimpi Buruk
Uta mengigau berbicara tak jelas. Tubuhnya tak tenang berbalik ke kanan dan kiri tempat tidur dari dedaunan yang dibuatkan Sang Ibu menjadi tak karuan. Sebagian ada yang terkelupas. Sementara Sang Kakak masih di bawah rumah mengajari anak\-anak rumah berbagai macam keahlian.
Saat itu Uta.
__ADS_1
Ia bangkit untuk berlari sekuat tenaga. Uta memasuki sebuah hutan yang gelap. Ia terus berlari tanpa memperdulikan apa yang di belakanngya. Beberapa anak panah menghujani area hutan. Ia tidak sadar jika depan ada lumpur hidup yang membuatnya tergelincir hingga ia terjebak hebat di dalamnya. Ia berkeinginan keluar dari lumpur. Tapi kekuatan lumpur mengalahkan tanaga Uta sendiri. Lumpur itu semakin lama semakin kuat menarik Uta sehingga tidak dapat melakukan apa-apa. Bahkan tarikan lumpur itu melebih tarikan akar pohon. Uta pun tenggelam di dalam lumpur hidup. Beberapa benda yang ada di sekitar lumpur Uta pegangi tak cukup mampu menahan tarikan lumpur. Uta jelas sudah masuk lumpur. Badan dan wajahnnya sudah menyatu dengan lumpur hidup yang meletup-letup. Sehingga dirinya menghilang di dalam lumpur.
Di balik suasana sepi tiba-tiba beberapa orang tak dikenal dari ke area itu. Mereka membawa panah. Tombak dan senjata yang lain. Mereka mendekati area lumpur. Salah satu dari mereka mengenakan kain hitam yang menutupi separuh wajahnya hanya mata dan alis yang terlihat. Dua pengawal yang mengenakan baju dari bulu harimau mengawasi area lumpur dengan tajam. “kemana pergi anak itu,” tanya Sang wanita bertopeng.
“Mungkin dia sudah mati,” jawab Sang Pengawal yang membawa pedang.
“Anak Muda itu tidak mungkin melewati lumpur selebar ini. Jejak kakinya masih sedikit terlihat di sini,” Sang pengawal kedua menimpali sambil meraba jejak kaki Uta.
“Tapi yang paling jangan sampai ada siapa-pun yang memasuki area hutan milik kita ini,” Sang Wanita bertopeng menambahkan lagi.
“Setuju Tuan,” jawab Sang Pengawal berpedang.
__ADS_1
Sementara itu Uta di balik lumpur hanya menyaksikan dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mereka. Ia sangat khawatir dan curiga jangan-jangan mereka adalah mata-mata dari pasukan Batoza. Mereka seperti mengincar Uta. Dengan sedikit takut-takut mereka menyentuh lumpur yang bergelembung-gelembung. Lumpur seperti meletup kecil. Itu yang membuat mereka takut. Banyak di dedaunan kering kecoklatan di atas lumpur sehingga membuat penyamaran alami Uta menjadi sumpurna sehingga tak terlihat batang hidungnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi.
Uta yang berada di dalam lumpur terheran bukan main. Mengapa mereka segera pergi. “Apakah ada suara auman mahkluk besar.” Uta sendiri masih tak dapat melihat apa pun karena masih berada dalam lumpur.
Hebusan angin berlahan tapi cukup kencang. Semakin lama-lama angin semakin kencang. Langit mulai berbunyi untuk mengeluarkan petir, hujan pun berdatangan. Hujan inilah yang menyelamatnya dari mata-mata itu.
Hujan disertai angin membuat beberapa pohon bergoyang hebat. Tak perlu waktu lama untuk melihat pohon besar tumbang dalam hitungan detik pohon sudah beserakan. Pohon itu menimpa lumpur yang menjebak Uta. Pohon besar yang tumbang hampir meremukkan tulang dan dagingnya. Pohon tersebut terhenti oleh gundungan tanah. Semua yang ada dipohon itu remuk tinggal akarnya yang menjuntai ke tanah. Tak pikir panjang Uta meraih akar itu untuk mendarat.
Sangat pelan dan akhirnya ia dapat lepas lumpur hidup. Nafasnya seperti terkekik dan itu benar-benar membuat suaranya tak karuan. Ia menyangka bahwa itu adalah akhir dari segalanya. Uta mulai mengusap lumur yang melekat di bagian matanya. “Ya Tuhan terima kasih telah menyelamatku,” itu ucapannya ketika melihat pohon tumbang di depannya.
Di saat itu Uta terbangun dan terkejut. ” Oh mengapa itu seperti nyata,” ujarnya ketika ia bangun dari tidur sambil mengusap matanya yang berat.
__ADS_1