Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
Bab 12


__ADS_3

Bab 12


Maung


Sementara itu Uta dan Maung berada di pinggir sungai

__ADS_1


Uta duduk di pinggiran sungai menatap air yang mengalir deras. Sungai yang luas dan bebatuan. Ia sangat menikmati suara arus air yang mengeluarkan bunyi. Matanya sesekali menatap pepohonan yang lebat di depannya. “Inilah alam Kawan mereka sedang bicara pada kita,” ucap Uta pada Anjing Hitam yang duduk di sebelahnya.


Sang Anjing Hitam hanya menatap Uta sambil menjulurkan lidahnya. “Aku akan memberimu nama agar itu terlihat keren. Bagaimana jika nama itu Maung.” Sang Anjing Hitam sedikit mengeluarkan suara dan menunduk menatap ke arus sungai.


“Karena kamu berlorek, cepat dan cergas nama tadi sangat cocok untukmu Kawan,” dengan senyuman kecil Uta memberi tahu Sang Anjing hitam. Ia pun sepertinya setuju.

__ADS_1


“Kau harus cepat Maung jika tidak akan dapat menyelamat orang-orang di rumah pohon.” Sambil menunggangi Maung Uta terus menatap rumah pohon yang dari jauh ada api besar menyala. Pikirannya membayangkan hal yang menakutkan apakah Negeri Rumah Pohon akan hancur lagi dan diserang oleh para bandit-bandit tidak bertanggung jawab. jika itu terjadi sungguh alangkah malangnya nasibnya. mereka sudah berusaha dengan sangat keras membangun Rumah Pohon agar kokoh dari segala sisi, baik segi mental dan kekuatan fisik para penduduk. Tidak mungkin itu berantakan dalam hitungan menit. bukankah di sana Ada Kak Olige yang sangat kuat. Ia juga sudah mempersiapkan pasukannya, yang ia latih berbulan-bulan lamanya.


Baru Uta akan sampai di bibir sungai Maung yang ia kendarai tergelincir. Ia merengek, membuat Uta terpental ke sungai yang deras. Arus sungai membawanya terhanyut. Ini kejadian kedua kalinya ia hanyut di sungai ini. Burung berotot yang dulu mengincar ia datang lagi. Seperti biasa rupanya sangat buruk tak pernah berubah. Matanya penuh dengan kebusukan. Sama persis dengan perbuatannya. Ia melempari Uta dengan batu sebesar gempalan tangan. Dengan cepat Uta menyelam untuk menghindar. Tak kenal burung berotot melempari Uta. Uta memanggil Maung. Ia berlari ke arah Uta. Burung berotot menyerang dengan cakarnya lebih dulu. Sehingga mengenai pelipis mata Si Maung. Maung tak berdaya. Maung terluka ia kembali merengek kesakitan. Uta menyaksikan dari kejauhan di bagian matanya mengeluarkan darah.


Uta mengeluarkan tali yang terikat di pinggangnya. Ia memutar-mutar ke udara sambil mengarahkan ke Burung berotot. Tali tersebut mengenai kaki burung berotot. Uta menariknya sekuat tenaga.

__ADS_1


Burung berotot menariknya lagi dengan kuat hingga Uta tertarik dari arus sungai. Itu lebih baik menurutnya. Sehingga Uta dapat melompat dan melepaskan tali yang ia pengang tadi. Burung Berotot kehilangan keseimbangan ia menabrak bungkit batu yang ada di depan sungai, yang membuatnya terhempas ke tanah. Uta lega bukan main melihat itu.


Dengan kondisi tenaga yang hampir habis karena harus melawan arus dan Burung berotot. Uta dapat mendarat di bibir sungai dengan selamat. Di bawah awan ia coba menatap langit biru dengan nafas naik turun. Ia menatap rumah pohon dari kejauhan yang sudah terbakar hangus. “Jangan-jangan orang-orang di rumah pohon sudah pergi lagi,” ujarnya sendiri dalam kesedihan


__ADS_2