
Bab 15
Pertemuan yang Mengharukan
Uta merasa ada yang hilang dari dirinya. Ia merasa tak sempurna apalagi ia berjauhan dengan Sang Kakak dan Ibu. “Maung apakah dirimu merasa kehilang seseorang? Uta bertanya pada Maung yang menatap matanya. Maung hanya terdiam dan menunduk kepalanya.
“Aku tahu kamu mengerti dengan perkataanku kan?” terangnya lagi dengan tersenyum kecil. Maung hanya membalas dengan tatapan malas.
Terkadang sebuah pertemuan yang kecil terhadap orang yang kita cintai membawa energi cinta yang luar biasa. Ini pertemuan Uta dengan Sang Kakaknya. Pertemuan yang mengharukan. Setelah berhari-hari ia terdampar di hutan sendiri ia ingin kembali ke rumah pohon. Rumah pohon yang dahulu sempat hancur. Karena diserang oleh pasukan Batoza. Saatnya ia kembali menjemput rindu yang tersimpan.
“Kau sudah siap Kawan,” ucap Uta pada Maung.
Maung berdiri tegak. Uta mempersiap diri untuk melompat. Sambil berteriak.” Aku datang,” ucapnya sambil pindah dari satu pohon ke pohon lain dan diikuti oleh Maung.
Uta tidak menyangka ia dikejutkan dengan pengawal yang sedang berjaga di area perbatasan hutan. Mereka dengan sangat cepat menjegat Uta. Tapi alangkah terkejutnya para pengawal itu, ketika mereka menyaksikan bahwa yang datang adalah Urkhon Uta, adik dari Olige kepala Negeri Rumah Pohon.
“Maafkan kami Tuan,” ujar cepat dengan memasang wajah bersalah.
“Tenang saja. Kalian telah melakukan tugas dengan baik. Aku hanya ingin pulang ke rumahku,” tegas dengan tersenyum kepada para Penjaga hutan.
Beberapa orang mendatangi Uta dan memeluknya. “Masih ada harapankah bagi kita,” ujarnya dengan tatapan berbinar-binar.
Uta dengan tatapan yakin ia tujukkan pada matanya. “Semua ini boleh tak bersisa. Tapi harapan itu masih bergunung-gunung dalam jiwa kita. Terutama jiwa rumah pohon.”
“Silahkan lanjutkan Tuan,” sambil pergi kembali bertugas Sang Penjaga. Uta hanya membalas dengan senyuman persetujuan. Ia melanjutkan langkahnya bersama Maung.
Uta dan Maung sampai di rumah pohon. Sang Kakak sedang mengerjakan sesuatu. Olige merasakan seseorang ada yang datang tapi karena jarak pandang yang begitu jauh yang membuatnya tidak begitu begitu mengenali Sang Adik. Maung berlari dengan cepat ke bawah rumah pohon. Saat itulah Olige tahu bahwa itu adalah Uta. Olige berayun melalui akar pohon, segera ia mendatangi Uta.
Sang Kakak memegang pundaknya. “Ternyata sekarang Kau tinggi, badanmu lebar, matamu coklat, dan rambut keras seperti sapu,” ungkapnya sambil mengusap badan Uta.
Sang Kakak diselingi menatap mentari yang mulai meninggi di pinggir sungai. “Kau tak tahu. Kau orang yang sangat menyebalkan dengan sebuah pertanyaan yang tak penting seperti dulu waktu kau masih kecil. Sering kau membuatku kesal. Karena kau sulit kuajari tentang kehidupan dan kebiasaan di rumah pohon,” terangnya sambil bergerak memutar badannya dan membelakangi Uta.
Uta hanya terdiam. “Itu kan dulu. Wajar jika aku banyak bertanya. Karena perbuatan Kakak menurutku, banyak tak penting. Termasuk waktu Kakak menjebakku dengan akar pohon,” jawab Uta sedikit ketus dan manja.
“Kuharap kejadian itu tidak membuat persaudaraan kita rentak dan tidak bekerjasama. Aku butuh kamu Dik,” jawab Sang Kakak pelan.
“Kita perlu bersatu untuk membangun rumah pohon. Lebih besar lagi. Ini sangat penting,” ungkapnya lagi dengan tatapan serius.
Olige berujar. “Aku hampir tidak dapat melawan mereka saat itu. Masih ingat kan? Mereka sangat kuat. Mereka juga memiliki pasukan yang hebat yang berjumlah tujuh orang. Dengan memakai baju berkulit harimau dan beruang. Setiap mereka memiliki kekuatan yang berbeda pula. Saat mereka menghancurkan rumah pohon. Mereka menggunakan api yang keluar dari tangan dan mata mereka.” Uta hanya terus mendengarkan Sang Kakak.
“Siapa mereka. Pasukan Batoza?” Uta bertanya.
“Kakak tidak melawan mereka?” Uta menyahut lagi.
“Kau tidak melihat bagaimana bagian tangan dan perutku masih terluka.” Menunjukkan goresan di bagian tangan dan perut, kulit Sang Kakak seperti terkelupas terkena panas api, dan baju kulit kayu yang ia kenakan pun sedikit terbakar.
“Sebenarnya ingin aku menghabisi mereka tapi pada sisi lain aku harus menyelamatkan anak-anak dan yang di bawah dasar rumah pohon. Aku harus menyembunyikan mereka secara aman. Jika tidak penduduk rumah pohon akan musnah selama-lamanya,” ujar Sang Kakak serius pada Uta.
Sang Kakak melanjutkan. ”Dan tidak mudah membawa anak-anak ke dalam lorong bawah tanah. Karena harus menggunakan obor. Di lorong sangat gelap dan anak-anak pun diliputi rasa takut.” Mendengar itu Uta tertunduk lesuh. “Ini salahku Kakak aku terlambat datang.” Uta memasang wajah bersalah.
“Tak perlu menyalahkan dirimu karena keadaanmu saat itu berbeda,” jawab Sang Kakak untuk menenangkan Uta.
Sang Kakak melanjutkan
“Sebelum aku keluar dari lorong di bawah rumah pohon. Mereka tujuh pasukan berkulit harimau membabat habis dengan panah berapi. Penduduk panik. Bahkan ada yang berlari tetap terkena anak panah yang menyesar ke pemukiman. Sedang aku tak dapat keluar dari tumpukan rumah pohon di lorong bawah tanah. Karena harus menunggu waktu yang tepat.” Uta menyimak dengan sedih
Uta hanya terdiam pilu mendengar ucapan Kakaknya. Dia berjalan pelan menatap dari pandangan terdekat sampai yang terjauh untuk menyaksikan pepohonan yang sudah hancur lebur. Tergambar dalam kepala betapa ngerinya penyerang itu. Ia berkali-kali memejamkan matanya. Airnya matanya menetes. Hanya Tuhan yang tahu tentang hatinya yang hancur lebur. Tangannya pun berkali-kali terkepal seakan-akan menahan marah. Rumah pohon tinggal puint-puint dan asap. Beberapa rumah hanya menyisahkan arang.
Uta tanpa mengajak Sang Kakak melompat menaiki rumah pohon miliknya. Dia bukan seperti yang dulu. Lamban dan lunglai. Sekarang ia berjalan tegap dan sangat cepat ditambah tangkas matanya selalu awas. Tumbuhnya pun bertambah tinggi. Ia menjadi sosok pemuda yang gagah dan perkasa. Tangannya pun keras terlihat urat-urat keras dari tangannya. Menandakan ia banyak berlatih segala hal di hutan.
Nampak pula kepalan hitam kecil di jari tengah dan telunjuknya. Karena ia banyak melakukan pus-up. Kepalan tangan itu tambah perkasa ketika ia mengeluarkan sebuah energi kekuatan dari dalam dirinya. Ketika menatap dengan kemarahan matanya merah menyala. Ia keluarkan kekuatan itu untuk menghancurkan pohon yang jauh dari area rumah pohon miliknya. Terdengar dentuman keras seperti suara bom.
Sang Kakak terkejut bukan main. “Adikku jangan kau lakuan itu. Tahan emosimu kita sudah kehilangan banyak hal. Cukup, cukup. Ku mohon,” pintanya dengan wajah memelas.
__ADS_1
Urkhon Uta terhenti dengan nafas-nafas tersengal-sengal.
Kembali ia menatap rumah pohon. Tergambar pula keadaan dirinya yang dahulu pernah pingsan terkapar berhari-hari di rumah itu. Uta masih dapat menyaksikkan pahatan Sang Kakak.
“Kak, apakah masih ada yang tersisa dari penduduk kita?” tanya Uta pada Olige.
“Mereka aku sembunyikan di bawah rumah pohon,” jawab Olige singkat.
Keluarlah beberapa anak kecil dan remaja beserta para orang tua. Wajah mereka menandakan kepolosan yang luar biasa. Wajah mereka penuh dengan ketakutan. Ada di antara mereka yang sangat sedih karena kehilangan anggota keluarganya. Ia tak dapat menyembunyikan air matanya.
“Kak Olige selamatkan orang tua kami,” pinta Sang anak dengan pakaian lusuh.
Mereka belum mengenal siapa Urkhon Uta karena Urkhon Uta waktu itu belum mashur.
Sang Kakak menerangkan. “Mereka dari Suku Sai. Teman ayah dahulu mereka juga pernah menolong kita. Tidak ada salahnya jika kita kembali menolong mereka,” ujar Olige pada Uta.
Ketika Urkhon datang mereka heran dengan rambut Uta yang panjang menutupi matanya. Ia menggunakan baju setengah kain yang terlihat bagian pundak kirinya. Tapi wajah Uta nampak bersih berbentuk oval.
“Siapa dia, Kak Olige?” tanya bocah laki-laki yang heran.
“Aku tak pernah melihatnya di kampung kita. Apakah ia orang tidak baik.” yang lain menimpali.
Tak perlu waktu lama dan akan menimbulkan perdebatan.
“Ini adalah Urkhon Uta Adik Kakak,” jawabnya tangkas
“Ah...,!” salah satu remaja terperanjat hebat.
“Ini Urkhon Uta yang tidak pernah ikut berburu.” jelas seorang remaja belasan tahun dengan sedikit sinis.
“Hai, bocah. Tahu dari mana kamu tentang diriku?” Uta sedikit kesal.
Sang Anak terdiam ketakutan.
“Uta mereka masih bocah dan remaja. Jangan kau anggap serius,” ungkap Sang Kakak coba menjelaskan.
“Tentu Kak,” jelasnya dengan hormat
“Mereka tahu tentangmu karena para tetua rumah pohon menceritakan kisahmu ke mereka.”
“Tapi sepertinya dia hebat.” Sang Bocah perempuan berujar spontan melihat Uta.
Uta tersenyum manis.
Dari kejauhan Anjing hitam besar dengan bulu badan berloreng seperti zebra dengan kuping menyuntai. Berlari menuju Uta. Sang pengawal Olige terkejut bukan. Ia segera ingin menghajar Anjing Hitam itu karena berani datang dan tidak undang. Ia mengira itu Anjing musuh. Ia pun berlari untuk menghalau anjing hitam tersebut. Di luar dugaan anjing hitam tersebut mengeluarkan kentut yang biasa bau. Siap-pun yang menciumnya akan pingsan.
Sebelum semua hal terjadi Uta denga kecepatan dan ketangkasan. Membuat Anjing Hitam itu terhenti tak bisa bergerak. Uta hanya menunjuk Anjing itu. Sang Anjing terjatuh.
Sang Kakak dan pengawal tadi berhenti dan menatap heran.
“Jangan kau bunuh dia, dia temanku,” terang Uta pada Pengawal.
Sang pengawal mundur bertambah heran. “Jadi Anjing Hitam ini temanmu. Mengapa kau tak memberi tahuku. Untung aku tak menyerangnya,” ucapnya.
‘Jangan remehkan dia Pengawal, dia anjing hebat”
Mendengar Pengawal dan Sang Kakak ternganga dengan heran.
“Mana ada di hutan belantara ini Anjing Hitam yang hebat.” dalam hati mereka seakan tak percaya dengan semua itu.
“Suatu saat nanti Kakak dan yang lainnya akan melihat kekuatannya,” ucap Uta.
“Mulai sekarang panggillah dia, Maung,” tegas Uta lagi memberi tahu mereka.
__ADS_1
Sang Anjing Hitam terbangun dan mendekat Uta dengan manja. Uta memberi isyarat kepada Maung itu. Ia terdiam dan menurut.
“Kau tahu Kak. Anjing ini pernah menyerang kita waktu dulu,”
Tambah heran Sang Kakak. ”Kapan di mana?” sambal mengingat sesuatu.
“Kau ni, Kak, sangat menyebalkan baru beberapa tahun saja. Kau sudah lupa,” seru Uta.
“Maaf tak sempat mengingatnya karena bentuk tubuh Anjing Hitammu begitu besar. Tingginya hampir satu meter ia mirip singa. Tapi ia tunduk padamu,” sedikit memuji Sang Kakak kepada Uta.
“Dengan apa kau menaklukkannya?” tanya Olige.
“Kasih sayang Kak,” jawab Uta singkat dan berdehem.
“Ketika semua orang di kapung ini membenciku jika aku bersamanya.” Terangnya dengan suara pelan.
“Tapi di balik hutan. Kak…” Uta menghentikan suaranya sejenak.
“Aku banyak belajar dari Anjing Hitam itu. Apalagi saat ibu tak bersamku lagi. Dialah yang memaniku,” ucapnya lagi.
“Kau ini masih terbawa dengan masa lalu. Sudahlah,” Sang Kakak menimpali.
“Waktu kita sedang membangun rumah poohon. Kau sedang tertidur. Kak dengan tetua rumah pohon membangun sebuah terongan di bawah ruma pohon. Untuk tempat persembunyian. Di dalam persembunyian itu kita sudah menyiapkan banyak hal. Tempat tidur yang terbuat dari bambu, dan kulit kayu,” tegas Sang Kakak.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Kak?”
“Kita harus menyerang suku Batoza di balik dua bukit itu,” jawab Olige singkat.
“Aku akan mempersiapkan semuanya. Jangan lupa kau harus ikut denganku,” ajak Sang Kakak.
“Baik Kak,” jawab Uta.
Setelah percakapan yang panjang dan mengurus ingatan Uta dan Kakak. Mereka kembali memasuki lorong, sebesar sumur. Hari mulai gelap. Beberapa hewan melata malam mulai muncul. Suara khas mereka terdengar di mana-mana. Termasuk Anjing Hitam, kawan Uta berbunyi dan merebahkan diri di dekat reruntuhan rumah pohon. Ia lunglai dengan kepala bersandar di kakinya. Yang jelas ia kelelahan karena seharian bersama Uta dan Sang Kakak mengitari beberapa rumah pohon yang terbakar.
Di temani cahaya obor kecil Uta mendongengkan pengalaman bersama Anjing Hitam. Anak\-anak rumah pohon membentuk lingkaran bulat ingin mendengarkan kisah Uta. Yaitu ketika ia melawan burung berotot Si Buruk Rupa. Anak\-anak yang mendengarkan cerita tersebut sedikit takut. Karena burung berotot memakan anak manusia. “Waktu itu Kak Uta bagaimana menghadapinya?” Sang anak bertanya penasaran yang lain masih terbengong sambil menatap Uta.
“Aku menyelam. Sambil menghayut diri ke sungai. Tapi burung itu terus menyerangku. Bahkan ia sempat menerkamku. Tapi untung hanya bajuku yang terkena. Cakarnya.. Mau tahu siapa yang menyelamatkanku?” Anak-anak menggeleng tidak tahu. Uta sambil menunjuk Anjing Hitam dengan jarinya. Anak-anak menatap heran dan kagum. ”Hebat sekali dia Kak Uta.”
“Matanya dapat mengeluarkan sinar putih yang dapat membakar.”
“Tapi mengapa ia menolong Kak Uta? bukannya dia musuh Kak Uta awalnya?” seorang anak bertanya kritis dengan cengar-cengir.
“Karena aku pernah menolong Anjing itu Sobat. Ingat,” dengan nada serius.
“Anjing itu hewan yang setia dan patuh.” Ia memberi tahu anak-anak rumah pohon. Hewan yang hidup di hutan kita ini. Mereka adalah teman kita. Ia harus kita jaga. Setuju?” Uta menanyai mereka.
Yang lain menyahut. “Setuju Kak.”
“Kak Uta, setelah Kak Uta selamat dari serangan burung berotot. Kak hidup dengan siapa?” Munculah pertanyaan itu.
“Besok Kakak akan lanjutkan ceritanya. Hari sudah malam. Tidurlah,” perintah Uta pada mereka.
Beberapa dari anak-anak itu ada yang sudah pulas lebih dahulu. Uta lekat menatap mereka. Dalam hatinya Uta berkata. “Mereka adalah perwaris rumah pohon. Jika aku tidak melatih dan mempersiapkan mereka di masa yang akan datang. Akan timbul petaka yang tak bisa kuduga.” sambil merebahkan badan Uta menatap ke langit gelap yang sedikit ditunggangi bulan sabit.
Uta melepaskan baju yang terbuat dari kulit kayu. Ikatan tali yang mengikat kepalanya ia lepaskan juga. Dari kejauhan ia menatap Sang Kakak yang tertidur lebih dulu. Uta sangat menghormati Sang Kakak walaupun bagaimana pun dia, dia adalah darah daging Uta.
Mata Uta mencari seseorang yaitu Sang Ibu ia melihat Sang Ibu sedang berada di luar rumah pohon menatap langit yang ditemani cahaya bintang. Uta mendekati Sang Ibu di sampingnya. Sang Ibu berujar. ” Ibu bahagia kamu kembali Nak.”
“Aku jelas lebih bahagia lagi Bu,” jawab Uta.
Uta berucap lagi. “Ibu semoga kebaikan Tuhan selalu bersamamu di sana.” Sambil merasakan angin malam.
“Hari semakin larut. Tidurlah Uta,” perintah Sang Ibu kepada Uta. Ia terdiam dan pergi ke dalam rumah Pohon.
__ADS_1
Beberapa kali Anjing Hitam merenge. Uta memberikan isyarat dengan jari telunjuknya kepada Maung dan ia mulai tertidur.