
Bab 20
Pohon Raksasa
Uta bersama Maung menyusuri tanah bebatuan yang curam. Bahkan sempat beberapa kali mereka tergelincir tapi karena Uta dan Maung memiliki kaki yang kokoh dan keseimbangan tubuh yan bagus mereka dengan mudah melompat dari satu batu ke batu yang lain. Mereka berdua menaiki anak gunung. Semakin berjalan mereka semakin naik keatas. Mulailah dari setengah pendakian tersebut tampak beberapa pohon yang yang lembat dan hijau. Uta menghirup udara segar yang dikeluarkan oleh pepohonan. Dengan tangannya yang kuat Uta meninju satu pohon yang ada di depannya hingga pohon bergetar hebat. Kraaak.. Terbentuklah kepalan tangan tangan Uta yang kuat di batang pohon. Kempalan yang mirip dengan sebuah cap. Inilah ada penanda agar mereka dapat mengingat jalan pulang.
Uta ingin meninju untuk yang sekian kali pada pohon. Pohon bergerak pelan terasa seperti gempa. Akar pohon tiba\-tiba tercabut. Tanah muncrat dari dasar. Uta dan Maung terkejut. “Awas Maung dia pohon hidup.” dengan terkejut Uta memberitahu Sang Anjing Hitam.
Ia melompat dan berbunyi keras. Aung..aung.. Mata Maung memerah. Tanda bahwa dia akan melawan. Terdengar suara yang berat, “ Beraninya kau memukulku.” suara berat muncul dari pohon yang sangat besar. Uta kembali terkejut dan heran.
“Aku hanya memberi tanda sebagai penunjuk jalan Kawan.” jawab Uta.
“Kau jangan mengangapku remeh anak muda. Aku dengan cepat dapat ******* tubuhmu.” jawabnya tegas.
Maung tidak sabar ingin menyerang ia menggeram dengan tatapan tajam. “Baik-baik. Aku salah. Aku mint,” sahut Uta.
Ia tak ingin menimbulkan kekacauan di hutan ini. Karena walaupun bagaimana pun hutan ini adalah tempat hidup mereka bersama. Apa jadinya jika terjadi perang besar antara pohon dan Uta berserta keluarganya.
Sang Pohon Besar seperti tak terima.
Ia mengibas dahannya yang besar dan kuat kearah Uta dan Maung. Uta dengan kecepatan menghindar sehingga serangan tersebut mengenai pohon-pohon yang lain. Pohon yang berada disekitar area tumbang bergelimpangan. Uta melompat lebih tinggi dan mendekat kepada Sang Pohon Besar dan berkata. “Kita adalah teman bukan musuh,” ucapnya dengan keras di dekat mata Sang Pohon besar.
Serangan terhenti seketika.
“Apakah ucapanmu itu tulus?” ia bertanya.
Uta segera menjawab sebelum terjadi murka pada Sang Pohon. Ia melihat gelagat Sang Pohon besar mudah marah. “Apakah di balik mataku ada kepalsuan dalam sebuah kata pertemanan,” ucap dengan nada yang kuat. Kata itu membuat hening suasana hutan. Sang Maung terdiam ia pun mengerti dengan ucapan itu.
“Baik anak muda, atas nama pertemanan aku tidak akan membalas perbuatanmu,” balasnya dengan sedikit tenang.
Uta menjadi lega dengan jawaban tersebut. Ia mengelus dada. Kemudian duduk ditemani Maung berada di sampingnya. Pohon Besar kembali ke tempat semula. Ia pun duduk di dekat Uta. Uta sebaliknya Ia baru merasakan seperti menghadapi rakasa mengamuk.
“Sudah berapa lama Kawan tinggal di hutan ini?” Uta membuka percakapan.
__ADS_1
“Sebelum hutan ini ada aku sudah ada sejak dulu. Aku hampir lupa kapan,” jawabnya.
“Perkenalkan aku, Uta anak hutan yang tinggal sebelah hutanmu. Sedangkan itu adalah Maung, anjing hitam berbulu loreng di bagian Mata. Ia termasuk dari sahabatku. Dan sebentar lagi akan menjadi sahabatmu,” ucap Uta minta persetujuan kepada Sang Pohon Besar. Matanya Sang Pohon berkali-kali berkedip
"Boleh kau kupanggil Pohon Seru?" Uta menawarkan nama baru darinya.
"Nama yang aneh," jawabnya seperti bertanya sendiri. Mungkin apa maksudnya nama itu.
Uta menerangkan itu nama sebuah pohon yang sangat kuat ia banyak digunakan penduduk Rumah Pohon untuk membuat rumah.
“Bukankah itu hebat Kawan? kuat, bermanfaat dan dikenal." Sang Pohon Besar seperti merasa sangat berarti mendengar itu.
“Aslikah itu ucapanmu Kawan?"
Uta dengan segera menjawab. “Mengapa tidak asli. Karena kau sahabatku yang nantinya akan melindungi hutan ini dari berbagai macam keburukan.”
Sang Anjing Hitam mendekati Sang Pohon besar. Ia mengesek-gesekan badannya. Tanda persetujuan.
"Baiklah Kawan demi persahabatan kita."
Tanya Sang Pohon Seru. “Aku sedang mencari suku Bui. Menurut Kakakku mereka pernah melewati area ini.” Terang Uta.
Seakan mengingat sesuatu sangat pohon diam sejenak. "Aku pernah melihat seseorang yang berpakaian dengan bulu harimau. Ia membawa senjata yang besar. Badannya tegap. Raut wajahnya menggambar kebengisan.” Tegas Sang Pohon Besar.
Uta sedikit heran dan bertanya dalam hatinya apakah itu pasukan Batoza. "Kemana perginya mereka?" tanya Uta.
"Naik ke atas." sambil mengarahkan telunjukknya.
“Beberapa banyak pasukan mereka?” Uta bertanya lagi.
“Cukup banyak tidak sampai sebelas orang. Mereka seperti memiliki berbagai keahlian dan mereka sangat kuat. Ada satu orang berbadan besar menggunakan baju kulit harimau. Mata sangar ia membawa pedang besar.” Terang Sang Pohon.
Uta berpikir sejenak. “Tidak salah lagi itu ada pasukan Batoza. Mereka sudah membuat rute perjalanan sampai ke sini. Pantasan mereka sulit ditemukan.” Uta berujar dalam hati,
__ADS_1
“Aku senang bercakap-cakap denganmu, Seru. Kau teman terbaik di hutan ini. Kapan-kapan kita akan bertemu lagi.” Uta mengatakan itu untuk menghargai sebuah pertemanan mereka karena tidak mudah untuk mencari sahabat atau teman yang gemar diajak bercakap-cakap.
“Aku dan Maung mungkin tidak akan lama di sini. Karena perjalananku sangat jauh.” Terang Uta pada Seru.
“Akan pergi kemanakah kalian?” tanyanya penarasan.
“Kami sedang mencari musuh kami yang sangat kuat,” jawab Uta.
“Siapa musuhmu itu kawan. Apa yang membuatmu menjadikan ia musuh?” seru bertanya lagi. Sang Anjing Hitam seperti mengerti dengan pertanyaan beberapa kali ia mengeluarkan suaranya.
Seru menatap Maung dengan heran. Uta menenangkannya dengan mengacungkan telunjuknya. Tanda bahwa cukup Uta yang memberikan penjelasan.
Uta menjawab. ”Mereka yang membakar rumah kami dengan api. Api itu menghabisi rumah-rumah kami, dan banyak yang mati akibat ulah orang-orang itu.”
“Oh, kejam sekali dia,” jawabnya dengan penuh simpati.
“Siapa dia?” bertanya Sang Seru.
“Batoza.” Balas Uta singkat.
“Ijinkan aku membatumu Kawan?” seru menawarkan diri kepada Uta.
“Aku memiliki kekuatan untuk menangkap mereka dengan akarku yang kuat. Aku dapat mengempaskan mereka sampai ke dasar tanah samapi mereka tak bernafas,” terangnya.
Kemudian ia mengeluarkan akarnya. Berbunyi krak..krakk,..Uta melompat ke dahan pohon untuk menghindar begitu pun dengan Maung. Akarnya yang besar seperti lilitan ular keluar dari bawah tanah. Akar tersebut membentuk gumpulan besar seperti bola. Dari bentuk tersebut muncul akar-akar kecil yang dapat melumatkan apa yang ada depannya.
“Cukup. Cukup. Kawan aku percaya dengan kekuatanmu. Jangan kau tunjukan di depan kami. Kami bisa mati dengan lilitan akarmu,” ucap Uta coba menenangkan.
Pohon Seru kembali seperti semula.
“Suatu saat aku akan membutuhkan pertolongan. Jika kau mendengar ini segera datang. Itu panggilan,” ucap Uta tanda memberi kepercayaan kepada Pohon Seru.
Uta mengeluarkan suara seperti lolongan yang tidak biasa.auuuuuuuuuuuuung.
__ADS_1
“Ingat itu panggilanku. Akan aku kirim melalui angina,” terang Uta.
Uta dan Maung berpamit. Mereka melompat ke pohon lain. Mereka terus melompat dari satu pohon ke pohon lain. Sambil melambaikan tangan. Tanda mereka meninggilkan pohon raksasa bernama Seru.