
Bab 8
Musuh Mengintai
Di saat Uta terbaring di rumah pohon. Banyak sekali suara seperti orang mengerjakaan sesuatu. Uta merebahkan badannya. Entah kapan ia bangun, hari nanti yang menentukannya.
Sang Ibu dan Olige membuat jalan tersebut tersusun berdasarkan tinggi rendahnya sebuah pohon. Maka tak heran jalannya naik dan turn. Dan yang lebih mengherankan lagi. Sang Ibu kembali membuat rumah pohon. Entah, untuk apa. Olige belum tahu. Dan rumah pohon itu terhubung ke jalan rumah pohon lain. Dari kejauhan Sang Ibu melambaikan tangannya dengan penuh senyuman. Olige hanya membalas senyuman walaupun hanya menatap di balik rumahnya. Mata Olige beralih melihat ke bawah pohon. Ia menyaksikan Si Anjing Hitam. Meloncat\-loncat kegirangan sambil menyala\-nyala. Mungkin Si Anjing Hitam bahagia karena dapat melihat itu.
Setelah pingsan dua hari dua malam. Akhirnya Uta dapat merasakan cerahnya mentari pagi. Cahaya pagi itu diselingi suara burung hutan yang merdu. Ia tersenyum melihat kejadian yang membuatnya bahagia. Sederhana tapi membagiakan bagi yang melihat pagi dan orang\-orang terkasih. Kebahagiannya bercampur keheranan. Setelah menatap keluar rumah pohon. Rumah pohon yang ia saksikan seperti memiliki jalan ke pohon yang lain. Semua jalan itu terbuat dari kayu dan dikuatkan dengan akar pohon.” Ini luar biasa bagus,” ucapnya dengan terheran. Ingatan itu membawanya pada rumah pohon yang dulu pernah ia tempati.
Badannya tak berhenti mondar\-mandir. Ia hanya dapat berkata. ” Terima kasih Tuhan sudah memberiku penglihatan dan hati untuk melihat dan merasakan kebahagian dari orang\-orang terdekatku.”
Anjing hitam yang melihat Uta sehat lagi ia pun bahagia. Uta coba menyentuh kakinya dengan pelan. Untuk memastikan bahwa ia baik\-baik saja. Walaupun diliputi dengan meringis karena menahan sakit. Ia kembali meraba kakinya. Setelah digerakan kembali sedikit demi sedikit sakit di bagian betisnya berkurang. Ia memaksa untuk berjalan sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Hidup itu melelahkan jika tidak sabar. Badannya tak kalah hebat dengan rasa ngilu. Baru saja ia menggerakannya sedikit. Ia merasakan seperti terjepit, badannya tak bisa bersandar pada benda keras.
Sang Ibu membawa dedaunan kering yang banyak. Daun tersebut dimasukan ke rumah pohon. Secara berlahan ia tumpuk dan rapikan dengan rata. Hingga membuat seperti kasur dari daun. Ini adalah tempat untuk Uta merebahkan dirinya dalam rangka pemulihan.
Ia duduk dihadapan Sang Kakak. ”Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirimu Uta?” Sang Kakak membuka pertanyaan.
Uta membenarkan posisi duduknya sambil meminum beberapa teguk ramuan yang telah dibuat Sang Ibu. “Waktu itu aku sedang berjalan di pinggiran sungai. Memang ada burung besar tapi ia sangat jauh dariku. Dan aku tidak memperdulikanya. Aku hanya menikmati arus sungai yang deras dan kehijuan dedanun. Tapi entah mengapa secara tiba\-tiba ia menyerangku. Sehingga membuatku terjatuh ke sungai. Ia terus menyerangku sampai aku harus menyelam beberapa di sungai untuk menghidar. Aku pun tak sadar jika di depanku ada air terjun hingga aku masuk ke area itu. Aku Mulai mendarat pelan di pinggir sungai. Walaupun tadi aku pingsan aku terbangun dengan terik panas yang menyengatku,” terang Uta dengan serius.
Sang Kakak coba memahami cerita Sang Adik. Setidaknya sudah mendapatkan pengalaman yang berharga dalam hidupnya. Hidup diluar memang keras dan butuh keahlian untuk beradaptasi.
“Tapi Kak yang membuatku heran beberapa orang yang aku lihat mereka seperti mengawasi sungai itu. Mereka sangat asing bagiku, ” ucap Uta.
Sang Kakak menyimak dengan serius dan berujar. “Berarti kamu diserang dua kali Dik, pertama oleh burung berotot. Kedua pasukan itu. Apa mereka membawa senjata?”
__ADS_1
“Untuk hal itu aku tak tahu Kak, saat aku melihat mereka. Mereka hilang dibalik bukit,” tegas Uta lagi.
“Dapatkah kamu jelaskan mereka seperti apa,” pinta Sang Kakak dengan penasaran.
“Mereka hanya mengenakan pakai dari kulit kayu. Salah satu dari mereka mengenakan pakain hewan harimau. Melingkar beberapa taring di dada mereka. Tak jelas apa yang ia serukan. Seorang yang di sebelah mengangkat kedua tangan seperti orang yang membidik sesuatu. Yang aku tahu bidikan itu mengarah ke diriku. Panah tersebut melesat beberapa centi meter hampir mengenai kakiku. Yang terkena adalah dahan yang kunaiki dahan tersebut kecil dan patah saat itulah aku terjatuh di pinggiran sungai,” jelas Sang Adik.
“Tak lain tak bukan mereka ingin menangkapmu,” Sang Kakak menambahkan.
“Mulai saat ini kita harus siaga penuh untuk melindungi negeri rumah pohon,” ujar Sang Kakak.
Terdapat juga pikiran mulai was-was yang mengetahui mereka jika pasukan Batoza datang kembali untuk menyerang mereka. Guratan keseriusan itu terpancar dari wajah Sang Kakak. Uta dapat merasakan itu. Ia pun memiliki tanggung jawab yang sama dengan Sang Kakak. ”Aku akan cepat belajar Kak. Aku berjanji akan membalas perbuatan mereka,” ujar Uta sambal bersandar di dinding rumah pohon.
“Ia, Kakak mengerti. Kamu jangan memikirkan itu terlalu serius,” jawab Sang Kakak ingin meringkan rasa berat Sang Adik.
Mereka asyik sedang asyik bicara dari bawah rumah pohon suara memanggil lantang muncul. “Kak Olige, apakah kita akan berlatih panah lagi,” tanya seorang anak kecil dengan tatapan fokus ke rumah Olige.
__ADS_1
Olige berpamitan kepada Sang Adik. “Baiklah kamu di sini aku akan melatih anak-anak di bawah rumah pohon,”