
Bab 1
Suku Bui Menyerang
Di sebuah hutan yang sangat makmur. Berbagai pohon baik kecil dan besar tumbuh sangat tentram. Banyak pula hewan kecil dan besar yang hidup di hutan itu. Di hutan tersebut ada sebuah suku yang rapi, hidup bahagia mereka tinggal di atas pohon. Mereka sering disebut sebagai suku rumah pohon. Dengan membuat berbagai macam kegiatan seperti berlari di atas pohon. Menembak di atas pohon dengan peluru dahan pisang, memanah, duduk santai sambil berayun diatas pohon. Mereka termasuk suku yang makmur karena di dekat rumah pohon ada sungai besar yang tidak jauh dari mereka. Dari situ mereka dapat mengambil ikan yang ada di sungai tersebut. Tapi suatu hari yang gelap sebuah suku yang berada dibalik bukit berwarna cream menyerang rumah pohon.
Bab 2
Olige
Panah berapi Olige berucap, “Ayo cepat lari Dik.!” pasukan Bui sudah mulai masuk ke kampung kita. Adiknya pucat bukan main, seluruh tubuh bergetar hebat, dilanda ketakutan mendengar suara anak panah yang melesat cepat di atap rumah Olige. Panah berapi semakin besar ia melahap dengan sangat cepat atap pohon berserta rumah dan isinya.
“Kau masuk hutan dulu. Cari tempat persembunyian.” Ibu ingin menyelamatkan sesuatu.
Ratusan meter dari mereka tinggali beberapa orang ditangkap diikat kaki dan tangannya mereka dikumpulkan dibawah pohon besar. Benar-benar ini sangat mencekam. Saat itulah Sang Komadan Batoza membombardir desa rumah pohon dengan panah, batu berapi. Ia mengeluarkan sinar di tangannya sinar itu mengarah ke rumah pohon yang lain. Rumah tersebut hancur lebur rata dengan tanah.
Olige melihat orang-orang menyimpan ketakutan tapi juga tidak dapat melakukan apa-apa. Suara orang menjerit-jerit terdengar nyaring. Ada yang menangis yang melawan menggunakan senjata tradisional. Ada yang melempari pakai batu. Ada yang tak dapat berbuat lagi. Olige harus berlari dan benar-benar harus berlari.
Adik kecilnya tungang langang mengikuti Olige berlari. Tiba-tiba terjatuh. Terdengar rintihan dari Sang Adik.
“Kakak sakit," ujarnya. Olige menatapnya serius dan khawatir.
“Kamu kenapa Dik,” Olig bertanya.
“Perutku Kak?” Sang Adik menjawab sambil meringis menahan sakit.
__ADS_1
“Ia kenapa?” Olige bertanya lagi.
Dengan keadaan yang mencekam itu. Ia berusaha menyelamatkan Sang Adik. Antara panik dan takut terkena anak panah dan batu berapi. Ia melihat adiknya mengelus perutnya. Terdapat cairan yang membuatnya terkejut bukan main. Ya Tuhan. “Dik, kamu terkena benda kecil yang tajam bentuknya seperti jarum yang diujung terbulu hewan," ucap Olige dengan menatap serius dan lirih. Benar-benar ia tak dapat berbuat apa-apa.
Sementara itu pasukan Bui terus menggeledah penduduk Rumah Pohon satu persatu. Seisi rumah dihancurkan tanpa sisa kecuali asap yang mengepul.
Sang Ibu sambil berlari kearah Olige dan Sang Adik berkata, “Cepat lari Nak," mereka berlari lagi. Tanpa banyak perduli walaupun suara teriakkan di mana-mana. Olige yang mulai beranjak besar badannya lebih besar dan memiliki tenaga yang lebih dari Sang Adik. Ia mengangkat Sang Adik membawanya lari tak tahu kemana. Semua hama berduri, kayu kecil, tunggul, akar pohon. Mungkin semua itu sudah bertancapan di badan dan kaki Olige. Ia terus berlari seperti orang kerasukan tanpa ia sadari terperosok ke dalam sebuah lubang seperti sumur. Olige dan Sang Adik berteriak, “auwwww.” Adiknya kembali merintih. "Kakak darah," ucapnya.
“Perutku perih kak," tegasnya lirih. Di bajunya darah mulai mengalir. Dengan cepat ia melepaskan baju. Olige menutup luka yang mengenai perut Sang Adik dengan kain bajunya. Olige menyandarkan ia tanah lembab dalam lubang.
“Dik, kumohon tahan sebentar. Kakak akan keluar dulu dari lubang ini, “ ujar Olige pada Sang Adik.
“Kakak mau kemana. Aku sendiri di sini. Aku takut Kak. Ini gelap sekali. Aku tak ingin Kakak pergi," sahut dengan memohon dan memasang wajah sedih pada Olige.
“Ingat Dik Kakak ke atas untuk mengambil daun untuk mengobati lukamu," jawab Olige singkat.
“Kau pegang ini," sambil menyerahkan benda kecil yang berkilau seperti pisau kecil suruh Olige pada Sang Adik.
Olige berkata, "jika ada yang menyerangmu lawan pakai ini," Sang Adik hanya mengangguk pelan.
“Kakak akan bawa ibu ke sini. Karena masih tertinggal di balik pohon," Olige beberapa kali aku terjatuh untuk menaiki lubang tersbut.
Walaupun tenaganya hampir habis ia tetap berusaha untuk mengapainya bibir lubang yang terletak di atas. Ketika akan sampai di atas Olige salah memegang sehingga membuatnya tergelincir. Akar kecil yang dipegangnya terlepas membuatnya terhempas ke tanah. Ia mengaduh kesakitan Sang Adik hanya terpaku menatapnya. Ia memulai lagi mengambil acang-ancang yang lebih siap kemudian ia fokuskan pikiran dan tenaganya. Dengan susah payah ia dapat naik dari lubang tersebut. Napasku tersendat-sedat seperti ikan kehabisan air.
Ia tatap dari balik dedaunan di area rumah pohon yang sudah tinggal reruntuhan. Semua sepi seperti kota mati. Asap kecil mengepul dari rumah yang ia tak mengetahuinya.
__ADS_1
Beberapa orang tergeletak seperti manusia tak berharga. Pasukan Batoza sudah menghancurkan seisi rumah pohon dengan hujan api. Olige coba menuju rumahnya yang telah luluh lanta terkena ledakan api berkali-kali, sudut rumah pohon yang ia susuri.
Tapi belum menemukan apa-apa. Ia masih menatap rumah pohon dan beberapa orang dilanda nestapa dengan mata sangat basah. Mereka pun berteriak kelangit tanda minta pertolongan.
Olige medapati diantara mereka ada anak kecil yang menangis tersedu-sedu. Aduh malang benar nasib anak itu. Tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Ketika ia sedang melamun meratapi kampung kesayangannya. Terdengar suara dibalik reruntuhan rumah pohon. “Olige,” panggil seperti tak percaya karena dapat selamat dari serangan Batoza.
“Tolong ibu Nak," pinta Sang Ibu sambil melepaskan kayu-kayu kecil yang menimpa tubuhnya dengan suara tak jelas.
Olige menoleh mencari dimana sumber suara. Ternyata suara itu berada di balik tumpukan rumah pohon. “Cepat angkat kayu ini nak,” pinta Sang Ibu pada Olige.
Segera ia mengangkat kayu yang menimpa tubuh ibunya.
“Pasukan itu biadab tidak berprikemanusian. Tak tahu diri. Datang ke negeri orang hanya untuk menjajah dan menghancurkan." Sang Ibu mengomel terhadap kejahatan bangsa suku Bui.
“Ibu kita harus segera masuk hutan. Bisa jadi pasukan negeri Bui akan kembali menangkap orang-orang yang dituduh pemberontak," Olige berujar Sang Ibu dengan was-was. Sang Ibu cepat berdiri.
“Adikmu bagaimana keadaannya?” tanya Sang Ibu sambil menahan rasa sakit karena tertimpa reruntuhan kayu rumah pohon.
“Adik terkena panah Bu," jawabnya.
“Sekarang dimana?” Sang Ibu mulai khawatir.
Tak ingin membuat Sang Ibu tambah khawatir Olige berujar cepat, “Dia di dalam lubang sedang bersembunyi.”
__ADS_1
Bergegaslah mereka pergi memasuki. Pasukan Bui masih tersisa mereka kembali datang dengan menembakan panah berapi yang mengeluarkan ledakan sangat keras. Kerasnya tebakan sampai menggentarkan seluruh rumah pohon.