
Bab 23
Ujian Pertemanan
Burung-burung pemakan serangga kecil bersuara indah seperti penyanyi modern. Suara burung memiliki nada bermacam rupa. Suara burung ditemani cahaya mentari pagi yang mulai datang dengan ramah. Tentunya menyapa dua bukit, burung-burung lain, semut, pohon hijau sampai pada Batu Besar, termasuk menyapa Uta yang pingsan terjepit di antara dua batu.
Burung kecil berparuh tajam dengan bola mata yang hitam. Berbunyi sangat berisik. Rupanya ia memberitahu Sang Batu Besar ada yang tidak sadar bersandar, sesosok manusia butuh bantuan. Sang Batu Besar berbalik. Ia mengangkat Uta yang masih terpejam.
Sang burung terbang menuju sungai deras dengan menghirup beberapa liter air. Ia semburkan ke wajah Uta. Ia terbangun dan terkejut bukan main. Ia mendapati batu besar ada di depannya. Uta berucap di depannya. ”Aku kehilangan seseorang kawan. Dapatkah kau menolongku?” Uta memohon dengan sangat. Tersirat di raut wajahnya sebuah kehilangan tentang seseorang kepada Sang Batu yang sempat bicara padanya di waktu sore kemarin.
“Siapakah yang hilang kawan?” tanya dengan suara berbass.
“Maung, Si Anjing Hitam,” jawab Uta.
“Ohh. Anjingmu itu.” Tegasnya dengan heran.
“Kapan dia hilang?” tanyanya lagi.
“Semalam ketika kami beristrahat di bibir gua bukit ini,” jawab Uta.
“Semalam hujan sangat deras kawan. Aku tidak dapat melihat apa-pun. Mungkin itulah kelemahanku. Apalagi aku sangat takut dengan petir,” imbuhnya batu besar sperti merasa bersalah.
__ADS_1
Uta pun terdiam. Ini perjalanan sulit baginya sebelum melalui bukit ini pun harus berhadapan dengan pasukan Batoza yang kuat. Ia pun hampir kalah dan Maung pun hampir terbunuh.
“Kawan, jangan bersedih. Aku siap membantumu,’” ujar Sang Batu Besar.
Uta tidak hanya meminta bantuan kepada Batu Besar. Ia pun meminta bantuan pada pohon besar. Ia melolong menghadap sebuah pepohonan di bawah bukit. Lolongan nyaring yang menitipkan pesan pada angina. “Tolong sampaikan ini pada kawanku Pohon Seru. Aku butuh bantuan datanglah aku berada di pinggir bukit, sebelah hutan.”
Dalam hitungan menit dari kejauhan Uta melihat pohon yang paling tinggi dan besar bergerak. Ia bergerak dengan langkah yang menimbulkan getaran hebat di sekitarnya. Penuh harapan dalam diri Uta ketika ada bantuan dari Sang Teman. Sang pohon melompat ke arah bukit. Dengan beberapa kali lompatan yang jauh ia sampai di depan bukit. Sang Batu Besar dan burung berparuh tajam dan bermata hitam terkejut. Ia menyangka akan diserang oleh raksasa pohon. “Tenanglah kawanlah. Ia teman kita.” Uta coba mengilang kepanikan pada kedua temanya tersebut. Ia berdiri tegak di depan Uta dan Ia membuat posisi selayaknya manusia. “Uta Sang Penakluk yang tulus. Ada apa gerangan?” ia mulai beratnya.
“Ada dua orang yang bertubuh keras di dekatmu dan seeokor burung nakal bermata ******. Apa mereka teman barumu?” ungkapnya.
“Apakah kamu ingin memberi tahuku jika memiliki teman baru, dan tidak perlu lagi berteman denganku, Pohon Besar yang jelek, berwajah keras, bersuara serak,” sambungnya lagi.
Uta hanya tersenyum.
Batu besar menimpali. “Selera humormu sangat kurang. Mungkin karena ia selama ini berteman dengan cacing tanah.” Sambil terkekeh.
“Oh apa maksudmu itu. Kau mengaggapku tak memiliki teman kecuali cacing tanah. Dasar Batu Besar keras kepala,” balasnya.
Uta langsung menengahi. “Sudah cukup kawan. Aku serius butuh bantuan kalian semua,” sergahnya.
Keheningan kembali mencuat.
__ADS_1
“Seperti apa kami harus membantumu?” seragam mereka bertiga menawarkan diri.
Sang burung berparuh tajam pertama kali berkata. “Maksudku aku bisa mencari temanmu itu melalui pinggiran sungai itu dan aku memiliki mata yang sangat awas,” ucapnya.
Sang Batu dengan suara bassnya. ” Aku pun dapat berlari untuk mencari Maung dan membawanya di hadapanmu,” ucapnya dengan tangkas.
Tidak mau kalah Sang Pohon Besar. ”Aku memiliki akar yang dapat menjangkau ribuan meter batas air yang paling ujung sekalipun. Aku yakin dapat menemukannya.”
“Baiklah. Alangkah baiknya jika kita saling berkerja sama untuk mencarinya,” sahut Uta.
Suatu saat kita akan saling membutuhkan lagi ini adalah ujian pertemanan kita.
Mereka memulai pencarian.
Sang Batu Besar berucap.” Bagaiman jika kita tidak menemukan Anjing Hitam.”
“Kau nih, belum mulai saja sudah berkomentar,” sahut Sang Pohon dengan mengibaskan akarnya yang kecil ke kepala Sang Batu Besar.
“Besar badanmu harusnya sama besar dengan keinginanmu.” Ia menimpali lagi.
“Ehh, Pohon Besar. Awas ya. Jika omonganmu tidak terbukti,” balas Sang Batu Besar.
__ADS_1
Mereka mulai menyusuri pinggiran sungai. Bebatuan besar dan tajam mengitari sisi sungai. Beberapa kayu pun berdiri di pinggiran sungai. Terdapat beberapa tanda seperti bulu halus Maung yang tercerabut dari badannya.