Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
Bab 11


__ADS_3

Bab 11


Suku Batu


 


Pada kondisi itu beberapa suku lain mendatangi rumah pohon. Mereka minta tolong agar diberi tempat untuk bersembunyi. Olige menatap wajah mereka yang penuh dengan nestapa. Wajah\-wajah mereka sangat kusut. Ia mengajak mereka masuk ke dalam rumah pohon.


 


“Tuan maaf kami,” ujarnya dengan menampakkan wajah ketakutan.


Ini suku yang dikenal Olige waktu ia masih kecil. Ayahnya pernah bertemu dengan kepala suku ini. Mereka dulunya sudah sering saling membantu. Ayah Olige yang bijaksana. Suku itu bernama Sai. Mereka tinggal di hutan sebelah utara sungai besar. Saat suku Bui menyerang negeri rumah pohon yang dipimipin oleh Batoza mereka segera melarikan ke dalam hutan dengan sembunyi di dalam tanah. Olige menyediakan minuman yang terbuat dari batang kayu kecil. Kemudian Olige mengajak mereka ke sebuah pohon yang sangat besar bahkan besarnya pohon melebih drum minyak tanah. Di dalam terdapat sebuah tangga kecil yang menuju ke bawah tanah yang sangat dalam dan gelap.


“Tuan Olige kami akan di bawa kemana?” seorang dari pimpinan mereka memberanikan diri untuk bertanya.


“Tempat ini ngeri sekali Tuan,” sambil menatap ke pinggiran lorong yang tidak memiliki cahaya apa-pun.


Olige memegang bahu Sang pemimpin. “Bawa anak buahmu ke dalam tempat ini. Hanya ini tempat yang paling aman untukmu dan sukumu.” Sang pemimpin suku Sai terharu dan mengucapkan terima kasih berkali. “sungguh kami tak dapat membalas kebaikan Tuan,” ucapnya dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Olige dengan cepat kembali ke atas rumah pohon. Seseorang pemuda dari suku rumah pohon berlari dengan wajah berat seperti ada sesuatu yang segera ingin di sampaikan kepada Olige.


“Tuan ada pasukan yang datang,” ujar sambil berteriak dari bawah.


Olige langsung turun dari rumah pohon.


“Panggil semua pemuda rumah Pohon untuk bersiap,” serunya pada pemuda tadi.


Ia seperti membunyikan sesuatu dari balik daun yang ia petik. Para pemuda dari rumah Pohon segera bersiap dengan segala. Panah, pedang, tombak dan runcing.


Olige berkata kepada pasukannya. “Jangan sampai mereka masuk ke area kita ini. Habisi mereka jika macam-macam. Kita tidak pernah mengusik mereka.” Semua pemuda yang berkumpul serius menatap Olige.


Sebelum pasukan itu memasuki hutan rumah pohon Olige sudah mencegat mereka di pinggiran hutan. Olige memelototkan matanya. Mata itu mengeluarkan sinar panas yang menghancurkan pohon. Pohon terjatuh tepat di jalan musuh.


Mereka terkejut.


“Anda salah masuk Tuan-tuan,” ujar Olige yang berdiri di dahan pohon.


Saat itu pula serentak muncul pasukan Olige dengan senjata lengkap.

__ADS_1


“Oh. Ini pasti orang-orang dari negeri Rumah Pohon. Mereka sepertinya sangat kuat,” ucap Sang pemimpin yang sedang menunggangi kuda. Di sebelah kanan, kiri dan belakang belasan pasukan sedang siap melindunginya.


“Baik, baik. Kami negeri batu hanya ingin bertanya saja. Kami tidak ingin berperang melawan kalian,” sahutnya lagi dengan santai disertai senyuman meremehkan.


“Apakah kalian melihat buruan kami masuk ke area kalian?” ia bertanya.


“Tidak ada yang berani masuk ke negeri rumah pohon,” jawab Olige dengan tatapan tak berkedip.


Seorang pengawal berbisik kepada pemimpin suku Batu,” Tuan aku melihat (buruan mereka) masuk ke area ini.” Kemudian Sang Pemimpin Suku Batu menatap Olige.


“Baiklah, kalau begitu Tuan Negeri Pohon yang terhormat. Kami akan pergi. Satu lagi mungkin suatu saat nanti kami akan mampir ke area ini,” serunya dengan tatapan seperti menyimpan kebusukan. Kemudian ia mengajak pasukan untuk pergi meninggalkan Olige.


Di tengah perjalanan seorang wakil dari suku Batu bicara kepada pemimpinnya. ”Tuan mengapa kita tidak segera menyerang mereka. Mereka tidak telah merampas buruan kita,” Sang pemimpin Suku Batu menjawabnya. “Apakah kamu akan membunuhku. Dasar bodoh. Itu area mereka. Kita tidak tahu berapa pasukan yang berada di balik pepohonan. Jika terjadi perang kita akan mati konyol. Pikirankan itu.” Dengan menatapnya serius sambil terus berjalan.


Pasukan Olige berseru sangat antuasias. “Tuan memang hebat. Tuan sangat kharimastik membuat mereka jadi takut dengan kita,” ucap salah seorang pengawal.


“Tuan Olige. Sepertinya mereka merasa superior. Mereka sangat angkuh dan pongah. Jangan-jangan mereka punya rencana lain untuk menyerang kita,” ujar Sang Pengawal yang berdiri di sebelahnya.


Sambil menatap Pasukan Suku Batu yang pergi. “Aku tak biarkan mereka menyerang kita seperti suku Bui waktu dulu. Kita akan kalahkan mereka sebelum masuk ke hutan ini. Sebenarnya aku sudah mencium kekejaman mereka. Tapi sabarlah dulu,” serunya dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2