
Bab 17
Bersihkan Hatimu
Di area rumah pohon
Uta dan Olige membawa beberapa puluh ikan segar. Anak-anak rumah pohon bahagia bukan main dengan hadirnya kejutan itu. Mereka tertawa riang. “Besok jika aku menangkap ikan aku akan belajar dari Kak Uta,“ ucap seorang anak dengan riang dan manja.
Mendengar itu Uta hanya tersenyum kecil dengan mata terkatup.
“Kak Uta besok ajari kami memanah ya?” minta seorang anak yang lebih tua dari yang tadi.
“Tentu Kak Uta akan mengajarkan segala hal untuk kalian yang penting kalian tetap semangat dan mencintai negeri rumah pohon,” seru Uta dengan mengelus kepala anak itu. Uta mempersilahkan anak-anak menyantap ikan siap makan.
Dari kejauhan Sang Kakak menatap bangga pada Uta. Bahwa Uta sekarang sudah menjadi idola baru bagi anak-anak rumah pohon. Ia terharu jika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu bahwa Uta adalah seorang anak yang tidak begitu memperdulikan Negeri Rumah Pohon dan tak pernah mengikuti tradisi berburu. Sehingga ia dikucilkan dan dijauhi. Tapi diluar dugaan setelah ia menjauh dari rumah pohon ia berubah seratus persen. Sang Kakak juga menyesal karena telah menelantarkannya. Tapi Uta kembali untuk negeri tercintanya yaitu rumah pohon.
“Makanlah ini Kak.“ Uta menyuguhkan ikan yang sudah dibakar kepada Olige. Sang Kakak terharu ingin rasanya menesteskan air mata.
“Terima kasih Dik,” ucapnya lirih sambil memeluk Uta.
Uta terkejut. “Ada apa Kak?” tanya dengan wajah heran.
Sang Kakak hanya menggeleng.
‘Sudahlah aku akan membalas perbuatan suku Bui terhadap kita. Jadi Kakak jangan bersedih,” ujar Uta dihadapan Sang Kakak.
“Aku hanya terharu Dik.” Sang Kakak menjawab singkat.
“Dan aku juga dengan segala yang aku punya akan melindungi mereka (sambil menunjukan akan-anak rumah pohon yang sedang menyantap ikan) dan tanah ini,” ucap dengan yang sangat kuat. Menggambarkan sebuah suara yang memiliki keyakinan penuh dan menjadi matra yang hebat untuk bergerak.
“Aku percaya itu Dik. Aku tak akan meragukanmu lagi,” jawab Sang Kakak.
“Sekarang saatnya kamu memimpin Negeri Rumah Pohon. Keadaan sangat genting. Kaulah orang yang tepat. Masih muda memiliki cita-cita yang tinggi dan semangat yang hebat. Itu memimpin besar,” terang Sang Kakak memberitahu Uta.
Uta memasang wajah bingung.
“Aku tidak mengerti Kak,” jawabnya singkat.
“Kaulah yang berhak memimpin Negeri Rumah Pohon,” tegas Uta lagi.
__ADS_1
“Suatu saat kamu akan mengerti Dik, dalam dirimu ada sesuatu yang besar,” balas Sang Kakak.
Uta semakin bingung.
“Maaf Kak aku lapar.” Uta berucap sambil menyetuh perutnya. Tanda ia tak ingin terlalu serius.
Sang Kakak tersenyum mari kita makan. “Aku ingin melihat seberapa sempurna ikan yang kau tangkap. Jika ikan itu tidak banyak terkena anak panah atau tombak kecil. Berarti kau hebat. Tapi sebaliknya jika banyak anak panah mengenai ikan itu. Berarti kau belum mahir.” sambil tersenyum
Ketika melihat ikan tangkapan Uta Sang Kakak heran.
“Luar biasa. Tak ada yang cacat dalam diri ikan itu. Bagaimana kau dapat melakukan ini?” Sang Kakak heran.
Uta hanya melempar senyum.
“Hanya memukul lapisan air dengan tenaga dalamku hingga ikan melonjat ke atas. Setelah itu Anjing Hitam mengumpulkan di darat,” jawab Uta ringan.
Sang Kakak menatap takjub.
Setelah menyantap ikan besar. Uta melompat ke rumah pohon. Ia ingin beristirahat karena seharian penuh menemani anak-anak rumah pohon. Banyak kegiatan yang ia lakukan. Menghibur mereka, mengajari memanah, menombak, melompat dari pohon dengan tali, membuat perangkap ikan dari akar pohon.
Semua itu membuatnya lelah. Ia merebahkan badanya di dalam rumah pohon. Ia menatap kembali rumah pohon yang sudah diperbaiki. Semua seperti dulu lagi. Kemudian ia terlelap panjang.
Dalam lelapnya, Uta dan keheningannya ia bertemu seorang prajurit yang mengejarnya. Tak tahu datang dari mana prajurit itu. Ia tiba-tiba berada di tepi sungai. Ia mengenakan kain serba hitam. Seluruh badannya tertutup rapat seperti ninja. “Apakah ia pasukan Batoza?”
Tidak menunggu lama ia menyerang Uta dengan anak panah. Uta dan Anjing Hitam menghindar yang hampir melukainya.
“Hai siapa kamu?” sambil menatap curiga. Kemudian pasukan kecil itu berlari. Uta mengejarya.
Menurut kabar dalam catat Negeri Rumah Pohon setelah petarung akbar antar suku. Terdapat prajurit bertopeng. Ketika ia kalah dan ia menutupi kekalahan itu dengan sebuah topeng yang tidak boleh dibuka oleh siapa-pun sampai pimpinan besar Batoza pun tak berani.
Beberapa kali anak panah meluncur dengan deras. Ketika Uta sedang menagkap ikan bersama anjing hitam.
Anjing hitam meraung menandakan ada suatu bahaya. "Ada apa, Kawan?" Uta bertanya. Mata Maung melotot ke arah pohon di tepi sungai yang deras. Beberapa kali matanya melestuskan sinar api yang menghancurkan dahan pohon. Uta baru sadar ada seseorang sedang mengintainya. Ia segera mengejar orang itu dengan menggendarai Maung. "Cepat kawan kita tangkap dia." Tapi kecepatan terbang Uta dengan Sang pengintai jauh lebih cepat.
Uta kesal sehingga ia segera menyerang Sang Pengintai dengan jurus sinar api tapi sinar tersebut tidak mengenai Sang Pengintai.
Sang Pengintai menyerang balik dengan kekuatan angin. Angin yang memebuat pusaran besar seperti tornado. Uta dan anjing hitam terpental jauh hingga masuk ke dalam hutan belantara.
Uta tak sadar ia memasuki wilayah hutan terlarang. Hutan yang sudah menjauhi wilayah perbatasan Negeri Rumah Pohon. Hutan mendadak gelap. Hanya Maung yang menggunakan matanya untuk menjadi lampu penerang.
__ADS_1
Sementara Uta berada di pungungnya. "Apa yang terjadi dengan semua ini," Uta berujar pada Maung.
Muang hanya merenge pelan. Tanpa disangka Uta memasuki lorong yang dalam. Anjing hitam tak dapat bergerak. Ada sesuatu yang mengikatnya. Uta terjatuh dari punggung Maung. Kaki Uta pun tak dapat bergerak sebuah akar hidup melilit badannya. Lilitan akar membuatnya mati untuk bergerak. Nafasnya tersengal-sengal. Ia perlahan memenjamkan matanya. Ia menarik tenaga dalam dirinya. Bukan sekali saja Uta terjebak dalam situasi ini. Ia berusaha keluar dari kesulitan. Ia mulai mencengkram akar pohon sebesar anak ular piton.
Ia melihat Maung. "Maung apakah kau baik-baik saja. Ayo bangun. Aku yakin kita bisa keluar dari lorong ini," ujar Uta menggerakan Si Maung tapi tetap saja terdiam. Badannya terasa sangat ngilu-ngilu. Tenaganya sudah hampir habis. Lilitan akar pohon ini membuatnya sakit dengan nafas mengap-ngap. Kekuatan tenaga dalam tak dapat dikeluarkan semua serba macet. Uta sedikit mengalah dengan keadaannya itu. Ia beberapa kali memajamkan matanya. Semua padangan menjadi gelap.
Maung bersuara mengaung...
Auuuung-auuuung.. ia melolong panjang.
Rumah pohon yang sedang membuat Uta terlelap bergoyang hebat. Sang Kakak dengan cepat melompat. Ia menyaksikan Uta bergerak tak karuan dengan mata terpenjam.
“Uta bangun. Kau mimpi buruk!” perintahnya.
Uta masih belum sadar.
Sang Kakak mendekat. Menggoyangkan badan Uta.
Uta terkejut memasang wajah kesal.
“Ah..Kakak. Aku bermimpi seorang prajurit menyembakku,” dengan mata berat Uta berusaha bicara.
“Anjing hitam.” Beberapa kali.
Uta coba melihat Maung. Ternyata ia sedang bermain dengan anak rumah pohon. Ternyata itu mimpi.
“Ia itu hanya mimpi Uta,” ucap Sang Kakak.
“Bersihkan hatimu ketika Kau akan tidur.” sarannya.
▲▲
Uta kembali duduk di pinggir pagar rumah pohon. Ia menatap jauh kearah hutan belantara yang ditumbuhui pepohonan besar yang hijau. Dari kejauhan nampak burung\-burung yang menikmati suasana hutan dengan berterbangan. Hutan yang Uta tatap adalah hutan kehidupannya. Ia lahir dan tumbuh di hutan itu. Hiburan terbaik untuknya adalah melihat keindahan rumah pohon dan hutan itu. Rumah pohon yang waktu itu diserang habis\-habisan oleh suku Bui kembali tertapi rapi.
Walaupun tidak sepenuhnya rapi. Tapi untuk sebuah kehidupan pemula itu sudah cukup baik. Tali tambang yang terbuat dari akar pohon kembali tersambung ke seluruh rumah pohon sebagai jalan untuk saling mengunjungi. Bahkan ada akar yang sengaja di rawat sampai besar menjutai ke dasar tanah, untuk dijadikan alat utnuk melompat. Dulu para tetua Negeri Rumah Pohon mengajarkan melompat melalui akar poohon. Bahwa bergelayut cepat di atas pohon adalah sebuah tradisi bagi warga penduduk Rumah Pohon. Bahkan penduduk rumah pohon suka berada di atas pohon dibandingkan di berjalan di tanah. Uta dan Oligelah yang selalu mengajarkan pada anak\-anak rumah pohon tentang itu.
Uta menuruni rumah pohon dengan akar pohon ia segera memanggil Anjing Hitam. Anjing Hitam dengan cepat datang Uta melompat duduk di punggungnya. Uta bergegas pergi menuju tepian sungai. Sang Kakak dan beberapa remaja hanya melihat dari kejauhan.
__ADS_1