Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
Bab 24


__ADS_3

Bab 24


Kau dan Aku Teman


Sementara itu Sang Maung terhayut terbawa arus yang deras. Tubuhnya terbentur hebat mengenai bebatuan sungai, kayu, tunggul di pinggiran bukit.Tubuhnya penuh luka goresan yang berwarna kemerahan. Bulunya beberapa hilai mengelupas dari dagingnya. Air masuk ke dalam ronggo mulutnya membuatnya terbatuk-batuk. Matanya mulai terpejam. Kaki depan terkilir hebat yang membuatnya bengkak. Sakit ketika digerakkan.


Sungai dengan kecepatan yang tajam membawa Maung ke jurang air terjun. Dengan suara merintih kecil. Aung..Aung.. Karena sudah tidak memiliki tenaga untuk berteriak keras. Ia terhempas ke dasar sungai yang deras. Suaranya hilang ditelan gemuruh suara air turjun yang menghujam. Tubuhnya mengapung.

__ADS_1


Ketika arus sungai mulai reda. Ia secara arus air perlahan membawa sungai ke tepian. Tubuhnya lemas. Maung merasakan letih yang luar biasa. Kepalanya pusing. Ia mengaung tidak jelas. Seperti suara kesakitan. Pandanganya mulai gelap. Perlahan mata Maung terbuka dengan wajah yang lemas menandakan ia kehabisan tenaga bergerak saja ia hampir tidak mampu.


Dari kejauhan seorang bertopeng kain seperti bercadar berada di atas bukit yang tinggi. Terjun bebas dengan cekatan. Ia berlabuh dari satu batu ke batu lain. Tiba ia menghampiri di sisi sungai sebelah air terjun. Ia menyaksikan seekor anjing hitam, berlorek hitam putih dan piggiran mata terdapat tanda hitam. Ia terkejut bukan main. ‘Itu adalah anjing yang menyerangku waktu itu,” gumannya.


“Mungkin ini saat yang tepat untuk membalas perbuatannya waktu itu,” pekiknya sendiri.


“Tapi untuk apa. Belum diserang saja ia sudah mau sekarat,” ucapnya dalam gemuruh air yang ramai.

__ADS_1


Wanita bercadar perlahan mendekati Maung. Mata Maung terbuka pelan. Ia menatap dengan tatapan hewan tidak berdaya. Saat wanita bercadar melihat lebih dalam pada mata Maung. Saat itulah ia merasakan hal yang aneh. Muncul rasa iba dan kasihan melihat Anjing Hitam. Dan akhirnya ia mengurungkan niatnya.


Ia mengeluarkan yang mirip botol kecil yang terbuat dari bambu di dalamnya terdapat cairan yang dapat menyehatkan tubuh. Ia suguhkan ke mulut Anjing Hitam. Maung menolaknya karena cairan berbau tidak sedap. Mulut Maung terkunci rapat. "Ayolah kamu harus minum ini agar kamu selamat," bujuknya.


Dengan sedikit memaksa Maung wanita bercadar segera memasukan cair berwarna hitam ke mulut Maung. Maung berusaha menolak tapi tidak kuasa karena tenaga sudah habis. Akhirnya ia meminum cairan itu beberapa teguk. Membuatnya kejang-kejang seperti keracunan. Matanya melotot. Maung muntah darah hitam. Suaranya tidak jelas. Setelah beberapa saat baru Maung sadar diri. Ia sudah mengaung dengan jelas. Tapi kakinya yang patah masih menyimpan rasa sakit yang harus diobati beberapa hari lagi.


Wanita bercadar membawanya ke balik bukit. Sang Maung ditempatkan di dalam Goa yang tersembunyi. Wanita bercadar menyelakan api kecil untuk melindungi dari kedinginan udara. Berangsur-angsur Sang Maung mulai sembuh. Luka-luka yang tadi ada di tubuhnya mulai sedikit kering. Ia memandang Sang Wanita bercadar dengan tatapan heran lalu Maung mengeluarkan suara berkali-kali. Artinya ia berterima kasih.

__ADS_1


Sang wanita pun mengerti apa arti senyuman itu. Ia mengusap kepala Maung sesekali. "Kau dan aku teman," ucapnya. Sang Maung bersandar lembut di dekatnya.


“Ayo kita mencari makanan.” akhirnya mereka pergi menangkap ikan.


__ADS_2