Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
Bab 26


__ADS_3

Bab 26


Tembok Besar


Malam semakin larut.


Burung berparuh tajam dan Maung telah lelap tertidur. Begitu pun Sang Batu Besar dan Pohon Seru. Mereka mendekur keras seperti suara mesin traktor.


“Hari sudah malam tidurlah,” seru Uta.


“Aku akan tidur di samping Pohon Seru. Kamu di sisi saja,”


Uta beranjak pergi ke depan mulut Goa.


Api yang tadi menyela ia kecilkan dengan tiup angin hingga tinggal bara api yang menyisakan sedikit panas. Ia pun melelapkan mata dengan perlahan-lahan. Bayangan bintang gemintang semakin lama hilang di pelupuk matanya.


Pagi datang dengan membawa suara burung. Burung paruh tajam terbangun. Ia segera membangun Uta. “Uta bangun!” serunya.


“Ah, kamu menganggu saja. Aku masih lelah. Tidak bisakah kau mengerti?” jawab Uta.


“Ia tapi harus bangun dulu,” serunya lagi.


“Ada apa sih?” ketika Uta bangun melihat ke samping dan sudut Goa wanita bercadar sudah tidak ada.


“Kemana ia pergi, begitu cepat ia pergi,” penuh kebingungan Uta dalam tanya.


“Aku tidak tahu,” balas Sang Burung.


Uta bertanya ke yang lain tidak ada jawaban.


“Jangan-jangan sang wanita bercadar takut ketahuan pasukannya oleh sebab itu ia segera pergi dari Goa ini.” Sangka Uta dalam hatinya.


Setelah berdikusi panjang Uta dengan beberapa teman merencanakan untuk pulang. Mereka ingin memberi tahu Sang Kakak yang bernama Olige tentang perkembangan pencarian pasukan Batoza.


Uta berpamitan dengan teman-temannya. Sang Pohon dan Batu Besar merasa kehilangan.


“Kawan aku akan kembali ke rumah pohon untuk memberikan pesan penting kepada Kakakku,” ucapanya di depan teman-temannya yang menghadap ke tepian sungai di depan bukit.


“Pesan apa itu Uta?” tanya Sang Pohon dengan suara yang berbass.


“Ia Uta pesan apa itu?” ikut penasaran burung berparuh tajam menatap dengan penuh tanda tanya.


“Bahwa sebentar lagi kita dapat mengalahkan pasukan Batoza di balik bukit itu,” jawab Uta.


“Uta apakah aku boleh ikut ke rumah pohon?” tanya Sang Burung paruh tajam.

__ADS_1


Uta sambil berpikir dan melihat Maung yang seperti setuju sambil mengeluarkan suara.


“Baiklah kau boleh ikut,” jawab Uta.


Sang Burung menyahut girang berkali-kali. ”Aku ikut. Aku ikut.” berputar-putar di udara sambil terbang.


Sang pohon dan batu besar menimpali. “Kami bagaimana Uta?”


Uta seperti bingung.


“Kawan-kawan. Aku pulang ke rumah pohon hanya sementara nanti setelah urusanku selesai aku akan kembali ke are ini,” sahut Uta.


“Yah kami kesepian. Tidak ada teman. Tidak ada kumpul malam lagi,” ujar Sang Pohon Besar. Sang Batu Besar ikut mengiyakan.


“Tenang aku akan sering ke sini. Kalian adalah sahabatku abadi,” sahut Uta dengan ternyum.


Akhinrya Uta, Muang dan Burung Paruh Tajam pergi.


“Teman-teman kami berangkat oke. Jaga diri!”


Dengan cepat Uta di ikuti Maung dan Burung Paruh Tajam. Melompat ke pohon dan terus melompat dari satu pohon ke pohon lain.


“Aku punya nama baru untukmu wahai Burung Paruh Tajam,” ucap Uta.


Mendengar itu Sang Maung sambil melompat dan bersuara tanda persetujuan.


“Setuju?” Uta bertanya.


Sang Burung paruh tajam kembali berkicau.


Sementara itu di balik bukit besar


Di sisi lain Batoza dan pasukannya mempersiapkan diri untuk membentengi diri mereka. Beberapa prajurit telah dikerahkan dengan sangat banyak. Wanita bercadar muncul di balik bukit ia kembali ke suku Bui melalui dua bukit yang terjal.


Ia sudah mengetahui jika sejak kemarin sudah diincar oleh mata-mata Batoza. Ia harus mempersiapkan diri untuk dintergrosi oleh Batoza. Jika nasibnya mujur. Ia mungkin tidak hukum. Tapi jika tidak beruntung maka ia tahu bagaimana hukumannya bercakap-cakap dengan orang asing.


Batoza terlihat perkasa dengan gelang berwarna perak di tangan kirinya. Ia mengenakan kepala harimau sebagai penutup kepalanya. Setengah badannya hampir ditutupi kulit harimau. Ia duduk di kursi kebesarannya sambil Batoza mengawasi prajuritnya yang sedang membagun benteng.


Seorang prajurit yang baru tiba di area perbukitan. Berlari kecil dengan terengah-engah dan berbisik di sebelah telinga Batoza. Ia memberi hormat terlebih dahulu dengan mengepalkan tangannya dengan gerakan sedikit dimajukan ke depan.


“Tuan. Anak Tuan.” sempat terhenti nafasnya.


Ia melanjutkan. “Aku melihatnya dari kejauhan sedang bercakap-cakap dengan orang asing,” ujarnya sambil menunduk.


Dengan cepat tangan Batoza menarik kerah Sang Prajurit sehingga berhadapan mata Batoza dengannya. Mata Batoza melotot. “Benarkah itu,” ujarnya dengan geram.

__ADS_1


“Di mana dia sekarang?” Batoza bertanya.


“Nishi..Nishi,” serunya.


Dengan cepat Sang Wanita bercadar melompat menuju singgasana Batoza. Ia memberi hormat.


Ia pun mendekati dan mencium gempalan tangan Batoza tanda bakti seorang anak kepada ayah di dalam suku Bui.


“Apa yang kamu dapatkan informasi di balik bukit itu?” Batoza bertanya.


“Ada beberapa pasukan kecil yang akan masuk ke wilayah kita Ayah.” Ia menjawab.


Batoza sambil menatap mata anaknya sepertinya ingin mengkompirmasi kebenaran dari perkataannya.


Nishi menunjukan bekal luka ketika ia berhadapan dengan pasukan Uta. “Aku sempat bertarung hebat dengan mereka Yah. Lihatlah luka ini,” seru nishi.


Batoza terdiam dan berujar. “Aku yakin dengan kerjamu. Kau memang dapat diandalkan,” serunya dengan suara berat.


“Dua Pengawal bersamamu pergi kemana mereka?”tanya Batoza.


“Mereka tewas tertimpa pohon Ayah. Anak muda itu memang memiliki kekuatan yang dahsyat,” ujar Wanita bercadar pada ayahnya.


Batoza geram sambil mengepalkan tinjunya. Tinju tersebut ia tinjukkan ke tanah, yang membuat tanah bergetar. Area sekitar seperti terkena gempa. Terlihat jelas gelang perak yang bersinar di depan mata Nishi.


Sambil bendiri menghadap bukit berucap. “Berani-beraninya ia akan kubalas nanti.”


“Hai, Pengawal,” seru Batoza.


“Kau dengar apa yang anakku ucapkan,” sambil beradu dahi dengan Sang Pengawal.


Sang Pengawal ketakutan.


“Jika kau salah memberi keterangan lagi. Kupenggal lahirmu mengerti!” Batoza mendorong hingga pengawal terjatuh ke tanah.


Sang pengawal minta maaf berkali-kali.


“Baik Tuanku,” jawabnya dengan bangkit dan pergi.


“Ayah ijinkan aku pergi aku ingin menyembuhkan lukaku,” ucap Nishi pada Batoza sambil menunjukan luka bakar terkena sinar panas dari pertarunganya melawan Uta waktu itu. Di tangannya pun terdapat goresan.


“Pergilah,” balas Batoza.


Batoza kembali menatap para anak buah yang sedang membangun tembok besar yang tinggi mirip bendungan air. Tembok tersebut digunakan untuk menghalau musuh. Tebok tersebut memang sudah di persiapkan sejak lama oleh Batoza. Ia baru sadar di balik bukit yang mereka diami selama ini ada suku lain yang hebat. Yaitu rumah pohon.


Batoza berkali-kali mondar-mandir dengan tangan dilipat ke belakang di depan prajuritnya. Ia seperti banyak memikirakan sesuatu. Ia memanggil prajuritnya bertopeng dan berkata. “Aku ingin pengamanan di ujung hutan di tambah,” serunya pada Sang Pengawal. Tidak banyak bicara. “ Akan dilaksanakan Tuan,” Ia berlalu kembali bertugas.

__ADS_1


__ADS_2