Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
bab 30 Kenangan Uta


__ADS_3

⚡⚡


Sekarang Uta sudah beranjak menuju dewasa. Pengalaman pahit kehidupan sudah banyak ia rasakan sebagai seorang anak laki-laki. Ia pernah kucilkan oleh orang-orang negeri rumah pohon. Ia dianggap tak berguna karena hanya mengurung diri dikamar. Ia tidak memiliki keahlian seperti anak-anak remaja lain. Pada saat remaja mereka sudah menguasai banyak hal. Seperti memanah, menangkap ikan, melompat jauh dari satu pohon ke pohon lain, menaklukan arus sungai, memainkan pedang, beradu dengan babi hutan, sampai harus berani berhadapan dengan harimau sekalipun.


Uta setiap pagi hari dari atas rumahnya hanya melihat aktivitas orang saja. Ia tidak memiliki motivasi untuk bertanya, bahkan mendekat. Ia memilih melihat dari jauh. Tidak jarang pulang ia dimaki-maki sang Kakak karena dianggap males tak berguna.


Jika sudah seperti itu Uta pergi lagi ke pinggir sungai untuk melihat arus dan melihat. Dia sungai ia menyaksikan bagaimana orang-orang rumah menangkap hanya menunggu dari air terjun yang deras. Ikan seperti terkejut dan melompat ke udara saat melompat ke udara. Itulah peluang yang harus diambil. Yakni tangkap ikan segera kemudian masukan ke dalam tas kayu.


Uta setiap hampir seperti navigasi ia mengelilingi negeri rumah pohon dari hulu ke hilir.


Setelah sore hari Uta kecil remaja pulang ke rumah pohon. Ibunya tersenyum dan selalu bertanya.

__ADS_1


"Uta kamu selalu mendapatkan pengalaman disana. Tak perlu hiraukan percakapan orang lain tentangmu. Karena kamu harus menjadi dirimu sendiri." Uta terdiam sejenak dengan ujaran Sang Ibu. Ia coba memahami kata-kata itu tapi seperti sangat sulit.


Ia hanya mengangguk pelan dan naik rumah pohon.


Ibunya berujar kembali."nanti kamu akan mengerti Nak." Sang ibu seperti tahu apa yang dirasakan Uta.


Uta merebahkan badannya dikasur yang terbuat dari dedaunan kering. Ia mengambil sebuah pahat. Dengan berlahan dia menulis kata-kata yang diucapkan ibunya.


Tak banyak yang tahu tentang arti gambar-gambar itu kecuali Uta sendiri. Setelah itu ia kan terlelap untuk tidur.


Itu kenangan Uta dimasa lalu. Ia duduk didekat Sang Kakak.

__ADS_1


"Aku akan berkunjung ke makam ayah Kak."ucapnya pada Sang Kakak.


Uta melompat dengan sigap. Ia segera meraih tali yang terikat di rumah pohon. orang-orang rumah pohon sangat jarang turun ke tanah. Mereka lebih banyak berada diatas pohon. Dengan menggunakan tali dan jalan mereka buat. Tali-tali tersebut bersambung ke rumah pohon lainnya.


Uta mengunjungi makam Sang Ayah. Ia berdiri lama di depan pohon besar yang menjulang ke langit. Ia memejamkan mata. "Moga kau tenang dengan segala kebaikan.u Ayah."ucapnya dalam hati.


Semilir angin berhembus pelan meraba pundaknya. Ia seperti merasakan kehadiran Ayahnya. Ia pun tersenyum.


"Ayah Negeri rumah pohon sekarang sudah makmur mereka memiliki pemimpin yang hebat, kuat dan sangat dicintai oleh penduduk rumah pohon. Harusnya ayah ada disini menyaksikan kemajuan ini. tapi biarlah ayah perlu khawatir. Karena negeri rumah pohon sudah dijaga oleh mereka sendiri. mereka sangat peduli dengan yang lain. Mereka saling menguatkan, mereka tidak saling mencaci, mereka bener-bener memperhatikan generasinya. hal ini terlihat dari banyak sekali anak-anak remaja yang belajar banyak hal. Ayah aku hanya bisa mendoakanmu. dan semoga negeri rumah pohon akan selalu terlindungi dari hal-hal buruk."


Uta bicara sendiri di depan makam Ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2