Urkhon Uta Dan Anjing Hitam

Urkhon Uta Dan Anjing Hitam
Bab 10


__ADS_3

Bab 10


Pahatan


 


Uta pun terbangun di tengah hari yang mulai meninggi. Ia sedikit menguap. Sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menatap sekliling area rumah pohon. Ia menyaksikan anak\-anak sambil berlari dari pohon satu ke pohon lain. Ia menatap Sang Kakak yang sedang mengajari anak\-anak yang lain menombak, memanah, bermain pedang dan pisau. Sang Kakak sedikit banyak sudah mulai mahir menggunakan kekuatannya sendiri. Uta coba bertanya sendiri. “Apakah Kak Olige sudah membaca kitab yang dibawa oleh ibu.” Kumpulan sebuah tulisan rahasia suku rumah pohon mengenai berbagai cara untuk memperoleh kekuatan turun temurun.


 


“Atau jangan-jangan Kak Olige sudah menghabiskan isi buku itu. Jika benar alangkah hebatnya itu,” ucapnya sendiri yang masih berdiri di rumah pohon sambil menyaksikan Sang Kakak.


Uta coba mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil masuk lagi ke dalam ruangan rumah pohon. Ia duduk santai. Ia meraba beberapa luka di tubuhnya yang sempat membuatnya koma berhari-hari. Ia menggerakkan jari jemarinya dengan lincah. Ia merasa sudah mulai membaik. Mungkin saatnya ia menghadapi kenyataan hidup baik dan buruk. “Aku tak boleh menghindar lagi,” tegasnya dalam hati.


Ia kembali mengingat peristiwa dalam mimpi itu. Ia terjebak dalam lumpur hidup dan tiga orang mata-mata itu. Mereka terlihat sangat hebat. Uta masih mempertanyakan siapa wanita yang mengenakan topeng kain dan para pengawal itu.

__ADS_1


Uta menatap sekeliling ruangan rumah untuk menghalau sejenak mimpi buruk itu. Di rumah pohon dibuat Sang Kakak terdapat banyak pahatan tulisan melalui pisau kecil berbentuk gambar. Ketika Uta tidur gambar itulah yang menemani pikirannya. Menurut Uta sebenarnya itu adalah pahatan aneh. Tulisannya tidak jelas. Cukup lama untuk memahami tulisan itu. Setelah Uta remaja menuju dewasa baru ia dapat memahaminya. Itu pun ia belajar mati-matian dengan Sang ibu sendiri. Menurut Uta itu tidak begitu penting. Tapi Sang Ibu dengan memaksa Uta untuk membaca dengan memasang mata melotot dan gigi geraham.


Waktu itu ia berkata. “Tak pandai kamu membaca otakmu akan tumpul. Mana bisa kamu menangkap ikan, memanah dengan tepat sasaran, melompat dengan kestabilan jika tidak bisa maka akan patah kaki kamu.” Mungkin itu yang membuatnya harus banyak belajar dengan Sang Kakak.


Sampai pada akhirnya Uta mengerti bahwa tulisan yang dibuat oleh Sang Kakak. Bahwa tulisan di dinding rumah pohon adalah sebuah peraturan dan cara membuat berbagai perangkap ikan dan hewan liar serta cara berenang.


Uta masih menganggap itu tidak penting bahkan ia mempertanyakan hal itu. “Sejak kapan ia menulis hal yang tidak penting di dinding.” Sang Kakak tidak hanya menulis ia juga memgambar bentuk sebuah rumah yang sangat indah. Dengan pohon besar di antara pohon besar yang berdiri tegak. Terdapat jalan yang terbuat dari tali-temali yang bersambung ke seluruh rumah pohon. Disanalah terdapat berbagai interaksi umat manusia. Orang duduk-duduk santai, menukar barang, berdiskusi. Semua tergambar jelas pada dinding itu. Uta berkata. “Kakak adalah orang yang paling aneh. Mungkin dia ingin mengoleksi kenangan dengan pahatan.”


Menurut Uta. “Itu tindakan bahaya memahat di dinding rumah akan menyebabkan bocor jika hujan lebat.” Alasan yang logis tapi kuat. Sang Kakak saat ini adalah petarung ulung dan pemberani. Di hutan kecil ini ukuran kecerdasan adalah mereka yang berani dan mereka yang membuat sesuatu.


Sang Ayah Uta banyak mewariskan bakat-bakat tertentu kepada Kakak. Sang Kakak lihai dalam menombak ikan dari air yang bergelombang. Matanya jeli membedakan antara air dan dan kulit ikan. Air bergerak dengan melambai pelan sedangkan ikan bergerak cepat sedikit tergesa-gesa mudah dibaca oleh mata Sang Kakak saat itu tombak segitiganya meluncur menuju sungai yang deras. Perut ikan koyak dan ia tak dapat melepaskan diri.


Lagi-lagi mulutnya ingin bertanya. ‘Sebenarnya apa sih yang ingin Kau (Sang Kakak) buat?” dengan segera Uta turun melalui tali bergelayut ke bawah pohon.


"Angkat ini," perintah Sang Kakak.

__ADS_1


“Kayu sebesar ini aku yang mengangkatnya.” Uta sedikit protes. Sang Kakak dengan enteng menjawab. “Hanya satu kunci kebiasaan kita yaitu berkerja keras dan tidak banyak protes.”


"Kenapa Kakak harus menyuruhku terus. Aku tak mau diperintah-perintah terus," Uta sedikit berani untuk protes keras terhadap perintah Sang Kakak. Matanya menatap Uta. Ia mendekat padanya. Sang Kakak menarik tali yang masih melingkar di badan Uta.


"Dasar Kau ini." sambil menarik tali tersebut.


Tali itu masih terikat di badan Uta. Sang Kakak menariknya hingga Uta tergantung dengan posisi paling memuakkan kepala di bawah kaki di atas. Beberapa cairan keluar dari mulut Uta. Ia muntah dengan hebat. Kepalanya terasa berat. Ususnya terasa seperti ingin lepas dari lambungknya.


Sang Kakak tertawa terbahak-bahak.


Sampai akhinya ia melepaskan tali yang terikat di kaki Uta. Ia terjatuh dan mengaduh.


"Apa Kau sudah gila Kakak. Itu tidak lucu," ucap Uta menahan rasa kesal dan sakit.


Dia hanya tersenyum menatap Uta. "Makanya kamu jangan macam-macam. Aku ini Kakakmu," ujarnya pongah.

__ADS_1


Kejadian itu membuat Sang Adik marah. Ia berlari menghamburkan diri ke sungai besar yang ada di dekat rumah pohon. Uta memanggil Anjing Hitam untuk pergi bersamanya. Suaranya nyaring untuk memanggil hewan kesayangannya. Muncul dengan sangat cepat hewan berbulu bermoncong seperti anjing. Ia mengaum matanya seperti kilat. Uta melompat ke punggungnya dan bergegas pergi meninggalkan rumah pohon.


Sang Kakak coba melemparkan sebuah tali yang terbuat dari akar. Tapi meleset membuat Uta terus berlari dan tak terkendali. Sang Kakak mengejarnya tapi ia lolos. Sebenarnya Sang Kakak merasa bersalah. Mungkin bercandanya terlalu berlebihan.


__ADS_2