
Bab 19
Batoza dan Pasukannya
Pada sisi lain di balik bukit kembar
Bukti yang diduduki oleh Batoza dan pasukaannya merupakan bukit yang jauh, untuk mencapainya pun susah. Karena beberapa medan yang tidak mudah dilalui. Burung berotot masih selamat. Ia adalah mata-mata dari Batoza. Setelah menyampaikan informasi mengenai Negeri Rumah Pohon, burung berotot dikurung dalam kandang yang sangat kuat. Beberapa pengawal membawa ke dalam sebuah Goa yang gelap.
“Kita akan menggunakan burung itu saat waktunya tepat,” ucap anak buah Batoza.
“Itulah yang kita inginkan. Kita harus memiliki kekuatan dan pasukan yang banyak agar dapat menaklukkan hutan ini,” sahut Pengawal Batoza di depan anak buah.
Batoza dan anak buahnya di balik bukit sedang mempersiapkan sesuatu.
“Cepat angkut barang-barangnya. Masukkan ke dalam gua!” Batoza menyuruh anak buahnya.
Dari balik bukit seorang dengan wajah tertutup menghadap Batoza. Ia membisikan suatu. Batoza setengah terkejut dengan manatap tajam.
“Mereka masih hidup?“ Batoza berguman sendiri.
Sang Prajurit dengan wajah tertutup beranjak pergi meleset cepat.
Ketika Batoza dan para prajuritnya masuk ke dalam Negeri Bui yaitu Negeri mereka, sambutan dan tepuk tangan tumpah ruah. Mereka dianggap sebagai pahlawan karena berhasil mengalahkan Negeri Rumah Pohon.
Seorang dengan setengah badan mengenakan baju kulit harimau menemui Batoza. “ Tuan, Raja menunggumu di sana!” Prajurit mengarahkan pandangannya sambil menujuk bangungan yang tinggi berada di atas bukit.
Untuk menunju bukit itu melewati sebuah tangga yang terbuat dari batu gunung. Dari kejauhan Sang Raja dengan Mahkota di atas kepalanya. Sang Raja mengenakan baju hitam dengan bagian pinggir mata di cat putih.
Ketika Batoza dan prajurit melihat Sang Raja mereka langsung menunduk tanda kepatuhan yang total.
__ADS_1
Batoza dan anak buah menuju istana yang terbuat dari Batu. Beberapa pengawal berjaga dengan tombak dan panah. Mereka mengenakan baju dari kulit harimau, yang membedakan mereka dengan prajurit yang lain adalah sesuatu yang ada di kepala mereka masing-masing. Jika mereka tidak mengenakan kepala hewan di kepalanya berarti masih prajurit kelas bawah. Tapi jika ia mengenakan kepala hewan seperti harimau maka dia adalah yang tertinggi. Dan kepala harimau melekat di kepala Batoza. Di antara para prajurit Batoza ada yang mengenakan kepala hewan di kepala mereka masing-masing. Ada memakai kepala beruang, buaya, chitta.
Konon ada Prajurit yang menyelamatkan Sang Raja dari terkaman harimau ketika mereka sedang berburu di hutan. Dialah bernama Batoza. Yang digelari kepala Harimau. Harimau menandakan sebuah kekuaaan dan kekuatan. Oleh sebab itu Batoza diangkat jadi pengawai penting di sisi Sang Raja. Dan Batoza pula yang menaklukan hutan yang ada di sekitar mereka.
“Salam hormat Raja Agung untukmu,” Batoza memberi hormat diikuti para Prajurit lain.
Sementara itu di Negeri Rumah Pohon.
Uta dan Olige sedang bercakap-cakap serius. “Semua harus dipersiapkan dengan sempurna Kak. Kita tidak mungkin dapat menghadapi pasukan Batoza dengan segelintir orang. Jika asal-asalan dalam menyusun rencana ini kita akan hancur. Ada bukit yang sulit dilalui menuju tempat di mana Batoza berada,“ ujar Uta pada Sang Olige.
“Bagaimana kalau kita menyusup ke bukit itu,” tawar Olige kepada Uta. “Ayo kita kumpulan anak-anak muda Rumah Pohon. Kita mintai pendapat mereka.” tambah Sang Kakak. Uta masih terdiam tanda setuju. Beberapa anak muda segera bekumpul dengan cepat mereka serius mendiskusikan rencana penyerangan.
Dalam keheningan malam beberapa anak Rumah Pohon masih terjaga sehingga mereka dapat mendengar apa yang dibicarakan oleh Uta dan Sang Kakak. Dari atas Rumah Pohon seorang anak berteriak.
“Apakah kalian tidak akan tidur?” sambil bergelantung melalui tali besar menuju kerumunan Uta dan pasukannya.
“Aku bosan di atas pohon,” ujarnya merenge.
“Sebab di kamarku gelap,” jawabnya singkat.
Uta dan yang lain terheran.
“Coba buka kamarmu. Maka kamu akan melihat bintang-bintang yang akan menemanimu Dik,” balas Uta.
“Oh, iya. Kalian mungkin benar,” sahutnya senang.
“Kembalilah ke kamarmu!”seru Sang Pasukan.
“Baik Kak.” berlalu pergi menaiki rumah pohon.
__ADS_1
Uta dan para pemuda yang sedang rapat tersenyum dan kembali mendiskusikan rencana mereka.
Sang anak kembali berteriak.
“Ternyata Kakak benar.” teriaknya dari atas rumah.
Uta dan Para Pasukan memasang wajah terkejut dengan suara anak itu dan kembali tersenyum. Sambil mengacungkan jari jempol Sang anak menimpali dengan senyuman dan kembali masuk kamar.
▲▲
Esok hari.
Uta dan beberapa pasukannya sudah berada di dekat bukit yang tinggi.
Di atas rumah pohon Uta menyaksikan hutan hijau yang sangat luas. Dan padangan itu menembus jauh kearah yang tiada batas. “Sungguh ini luar biasa,” pekiknya dalam diam.
Tapi rumah pohon tidak terlihat oleh matanya. Karena saking jauhnya. Hutan tersebut dikelilingi sungai yang melingkar. Sebagai pasukan sudah dipersiapkan untuk membuat jebakan di pinggir sungai.
Pasukan yang dipimpin Uta berlahan tapi pasti menapaki bukit terjal dengan mengendap-endap. Semua harus terlihat alami karena mereka tidak terbuka. Ditakutkan ada mata-mata dari anak buah Batoza berada di area hutan. Mereka menyelinap di balik pepohonan dan dedaunan. Pakaian disamarkan dengan batang pohon yang berwarna kecoklatan untuk memudahkan mereka berkamuflase. Semakin menaiki bukit semakin terjal dan sangat berbahaya.
Batu-batu lincin dan runcing mengitari bahkan siap menunggu untuk membunuh jika terjatuh. Selalu waspada bagi mereka jangan sampai terjatuh. Para pemuda (yang jadi pasukan Uta) rumah pohon sudah terlatih dengan area-area seperti itu. Mereka terbiasa melakukan itu untuk menuruni rumah pohon tanpa bersuara.
Sampai pada pertengahan bukit pertama mereka beristirat sejenak. Dari area itu mereka dapat melihat apa-pun yang jauh. Uta tidak menyangka jika tempat tersebut dapat melihat seorang mengenakan topeng yang sedang berjaga.
Uta meminta kepada pasukannya jangan menyerang. ”Lumpuhkan ia dengan peniup beracun. Jangan bersuara.” Pinta Uta pada seorang pasukannya. Peniup itu tepat mengenai bagian belakang Pengawal bertopeng ia tersungkur.
Dengan cepat pasukan Uta menyimpan jasad pria tersebut di balik pohon.”Perlu diingat ini area hutan berbahaya.” Uta memberitahu Pasukannya untuk berhati-hati.
Uta dan pasukannya terus berjalan sampai tiba pada jurang yang curam. Dia berkata dalam hati. “Ini tidak mungkin, menuju ke tempat Batoza berada di pinggir jurang. Tapi apa boleh buat.”
__ADS_1
Uta dan pasukannya menggunakan kulit kayu yang keras dan kuat untuk menahan mereka dari goresan jurang berbatu dan curam. Perlahan mereka turun setelah itu mereka menaiki bukit lagi. Baru di sini terlihat pemandangan yang indah dan sangat terjaga. Setelah melakukan perjalanan yang lama menemukan tempat tinggal pasukan Batoza. Tentunya dengan penjagaan yang ketat. Terlihat dari jauh semua pasukan lengkap berada di sana.