
Bab 25
Gelang Berwarna Perak
Sementara itu Uta dan beberapa temannya. Berteriak\-teriak di pinggiran sungai memanggil Anjing hitam. Maung..Maung.Tapi tidak ada tanda\-tanda tentangnya. "Kita harus menemukannya," ujar Uta dengan wajah berharap pada teman\-temannnya.
"Sudah sejauh ini kita belum mendapatkan hasil kawan," ungkap Sang Batu Besar.
"Ayolah sedikit lagi. Kita tidak boleh patah semangat," jawab sang Burung berparuh tajam.
“Uta,Uta,” ujar berkali-kali.
“Aku menemukan sesuatu. Burung berparuh keras menemukan sepercik darah merah di bebatuan sungai, dan bulu-bulu yang mirip dengan Anjing Hitam.
"Cepat kemari!" serunya pada Uta.
Uta berkali kecil menuju pinggiran sungai. Ia mencium bau darah tersebut matanya berkedip berkali-kali. "Ini darah Maung," ucapnya.
"Kemana dia?"
“Atau dia sudah jadi mayat terbawa arus sungai. Oh. Tidak,” teriak dalam hati kecilnya.
"Aku yakin dia masih berada di sekitar sini," ucap Sang Burung berparuh tajam.
“Baik ayo kita segera menyusuri bukit. Siapa tahu di sedang bersembunyi untuk beristrihat," ujar Seru sambil menggerakkan dahannya.
Mereka berlari cepat dan melompati bebatuan mereka menuju satu bukit yang ada di depannya.
Uta mengingat kawan-kawannya. "Ingat hati-hati. Ini kawasan bukit dalam pengawasan pasukan Batoza," sambil menatapi serius teman-temanya.
Uta dari kejauhan terlihat asap kecil di dalam sebuah Goa. Ia meminta Sang burung untuk memastikan itu."Burung segera ke sana coba lihat apa yang ada sana," seru Uta pada Burung paruh tajam.
Uta kembali mengingatkan. "Ingat jangan mendekati cukup lihat dari jauh. Takut kamu serang,"
Sang burung segera menjalankan perintah.
Terbang melayang menunju Goa. Sang burung melihat tumpukan api yang baru dibakar. Berarti ada seseorang di dalam Goa. Ia kembali pada Uta memberikan berita baru.
“Uta!” pohon Seru.
Bukit berhutan itu mirip perbukitan yang ada di desa Taming di China.
Bukitan berpohon bernama Goa Paimo. Udaranya bagus banyak burung yang hidup di situ. Di sana terdapat ion negatif 1200 ion persentimeter kubik. Itu berarti lingungan di sekitarnya sangat bersih dan dipehui dengan oksigen. Inilah yang membuat suhu dingin menaik.
Uta dan kawan-kawannya menghampiri Goa tersebut. Betapa terkejutnya Uta. Menyaksikan dari kejauhan wanita bercadar berada di area dekat Goa. Jika terpaksa harus bertarung lagi apa boleh buat. Karena pertarungan waktu itu belum mereka selesaikan. "Uta apa dirimu mengenal orang itu?"tanya Burung berparuh tajam.
__ADS_1
“Tentu kenal. Aku sudah dua kali bertemu dengannya. Pertama di dekat sungai area Rumah Pohon kedua di dekat ujung sungai perbatasan dengan bukit berwarna cream ketiga saat ini bersama kalian. Untuk kali ini aku tidak tahu apa yang akan terjadi,” jawab Uta.
Uta sampai di pinggir Goa ia melihat Maung yang sedang berada di Goa sedang berlari.
Uta memanggilnya. "Maung." dengan sangat girang.
“Syukurlah kamu masih hidup,” ucapnya seakan tidak percaya.
"Dia masih. Dia masih hidup," ucap Uta pada teman-temannya, yang mengiyakan dan pencarian ini mendapatkan hasil yang jelas. Tapi, yang membuat terkejut cuma satu melihat wanita bercadar muncul di balik semak-semak kecil. "Mangapa ada dia," ujarnya.
Dari kejauhan “Apa dia sudah mengintai Maung.” Beberapa pertanyaan muncul di antara Uta dan Kawan-kawannya.
Dan yang membuatnya heran. Ternyata Maung seperti sudah bersamanya. “Sejak kapan mereka menjadi teman?” guman Uta semakin penasaran.
Ia dan teman-teman menuju Maung. Tepat pagi masih diselimuti cuaca dingin. Ketika Maung melihat Uta datang berlari. Maung langsung memeluknya. Ia merasakan rindu karena lama berpisah. Uta melihat masih ada bekas luka di tubuh Maung.
Teman-temanya melihat senang kegirangan. Burung berparuh tajam terbang berputar-putar. Sang pohon Seru menari. Sang Batu besar berputar linggat. Sang wanita bercadar hanya menyaksikan itu. Maung seakan memberi tahu bahwa wanita bercadar yang telah menolongnya.
Saat itulah tatap Uta terhadap wanita itu berubah. Hilang kebencian karena kebaikan. Uta memberi hormat dengan mengangkat tangan kanan diletakan di depan matanya. Cara penduduk Rumah Pohon menghormati orang lain.
Sang wanita bercadar membuka kain di balik wajahnya. Ia menanggapi dengan datar perlakuan Uta. Dan kawan-kawan Uta kegirangan. Berarti mereka mendapatkan teman baru. Walaupun Uta masih ragu. Jangan-jangan ia dalam rangka untuk menggelabuinya agar ia dapat memperhitungkan kekuatan Uta dan teman-temannya. Mereka berjalan beiringan menuju Goa.
Maung dan beberapa teman yang lain pergi dulu untuk kembali ke Goa. Uta masih bersama burung paruh tajam. Mereka memburu kelinci untuk dijadikan makanan. Uta dengan sigap menangkap seekor kelinci yang akan kabur. Ia mengejar kelinci yang akan menuju semak-semak. Akhirnya kelinci tertangkap. Uta membawanya ke Goa.
Api mulai dinyalakan karena hari sebentar lagi menuju malam. Sang pohon Seru menunggu di depan Goa sebagai penjaga keamanan begitu pun dengan Sang Batu besar. Hanya mereka yang tak dapat memasuki Goa karena badannya terlalu besar. Uta membakar daging kelinci yang telah diburu. Ia memberikan beberapa potong daging kepada wanita bercadar. Dan beberapa potong lagi untuk Maung. Setelah itu baru burung paruh tajam. “Hai Batu Besar. Apa kau ingin daging?” tawar Uta pada Batu Besar yang menghadap ke sungai.
“Makananku adalah rumput.“
“Oh kau termasuk kaum vegetarit?” jawab sambil tersenyum.
“Jika dirimu bagaimana Seru. Apakah ingin makan daging ini?” Uta menanyainya.
“Ah, sory tidak berselera untuk kali ini. Aku sepakat dengan Batu Besar. Vegatarin lebih baik bagiku,” jawabnya.
“Oke kalau begitu,” Uta menimpali.”
Sang wanita.
“Apa kau ingin menambah manakanmu?” tanya Uta menawarkan.
“Cukup,” jawabnya singkat.
“Sepertinya dirimu tidak banyak bicara,” Uta membuka pembicaraan. Dari bukit yang tinggi depan mata mereka. Sekelas ada orang yang memperhatikan ke arah mereka. Sang wanita gelisah. Ia seperti mengenal itu. Begitu juga Uta sempat melihatnya. Ia seperti ingin melakukan pengejaran tapi tidak mungkin hari sudah malam.
Mereka kembali duduk. “Sudah biarkan. Kami akan berjaga di sini,” ujar pohon Seru.
__ADS_1
Maung melanjutkan makannya dengan lahap. Ia sempat bercanda dengan burung paruh tajam. Kemudian mereka tertidur. “Jika kau lelah tidurlah dulu,” seru Uta pada wanita bercadar.
Ia menatap Uta. “Sebenarnya apa tujuanmu melintasi bukit ini?” tanyanya pada Uta
Uta hanya tersenyum sambil menatap gelap yang mulai menyapa. “Tugasku adalah ingin mengetahui pasukan Batoza.’
“Hanya itu, pasti ada alasan di balik pernyataanmu,” Sang Wanita menyambung.
“Pintar sekali kamu melihat sesuatu yang tidak terlihat,” sambil tersenyum.
“Kamu tahu dulu pasukan Batoza yang menghancurkan suku Rumah Pohon milik kami. Semua sangat indah waktu itu. Aku dapat bermain dengan teman-teman sebayaku. Banyak senyuman di situ. Aku dapat melompat dari satu poon ke pohon lain. Kami pun sering membuat kapal kecil dari daun besar untuk terbang. Tapi ketika fajar menyingsing waktu kami tertidur lelap. Beberapa orang masuk ke rumah pohon. Mereka menebaki rumah kami dengan parah berapi. Anak-anak berhamburan keluar dan para tuanya. Dengan sangat cepat api melahap rumah pohon. Aku, ibu dan kakaku dan beberapa anak yang lahir bersembunyi dibawah pohon. Ketika kami melihat rumah semua sudah hancur hampir rata dengan tanah,” terang Uta.
Sang wanita menyimak.
“Mengapa kamu tidak melawannya. Bukankah kamu memiliki kekuatan di bagian tanganku,” ia bertanya.
“Waktu itu aku masih kecil. Aku tidak mengerti apa arti kekuatan. Yang aku tahu aku harus berlari,” jawab Uta.
“Lalu dari siapa kamu mendapatkan kekuatan super itu,” ia beratnya.
“Ini adalah warisan dari ayahku sebelum meninggal,” jawab Uta.
“Oh ya, ayahmu meninggal. Maaf,” ujarnya pelan.
“Sudah tak apa. Itu pasti terjadi di antara kita yang hidup,” jawab Uta.
Uta melanjutkan. “Ada satu hal yang harus Batoza bayar dari kami. Yaitu ia telah gegabah mencuri gelang berwarna perak milik kami. Gelang itu hanya miliki suku Rumah Pohon. Gilang itu tidak boleh dimiliki orang lain. Ia memiliki kekuatan tidak terhingga. Untuk itulah aku harus mengambilnya kembali. Bagaimana pun caranya,” terang Uta.
Sang Wanita terkejut bukan main. “Jadi selama ini kekuatan Batoza karena adanya gilang berwarna perak di tangannya. Pantas saja ketika perembutan untuk menjadi panglima. Tidak ada yang dapat mengalahakan kekuatan Batoza,” ujarnya sendiri dalam keheningan.
Nona jika bertemu dengan Batoza sampaikan. Aku akan mengambil gelang itu. ”Sang wanita terdiam sambil menatap langit-langit Goa yang hitam. Api sepertinya semakin mengecil. Uta menambahkan beberapa kayu untuk yang membuat api lebih besar lagi.
“Nona sepertinya dirimu sudah lama menjadi bagian dari pasukan Batoza,” tanya Uta.
“Batoza memiliki beberapa pasukan khusus masing-masing anggota kami memiliki kekuatan yang berbeda,” terangnya.
“Dan mereka pun dipilih berdasarkan seleksi yang ketat yang diadakan oleh suku Bui,” sambungnya lagi.
“Batoza dan pengawai kerajaan berkiling menuju pedesan untuk mencari pasukan pilihannya. Orang yang dipilih oleh Batoza mereka sudah disumpah untuk setia. Kebetulan Batoza melihat untuk kami sedang latihan tangkas dan cepat. Yakni membuat angin yang dapat menghancurkan sebuah rumah. Desa kami berada di balik bukit ini. Tidak ada yang tahu tentang kecuali mereka yang pernah masuk bukit ini kembali pulang. Banyak penjagaan yang ketat sebelum masuk ke wilayah kami. Ratusan meter penjaga yang kuat sudah ada beberapa pasukan yang sangat berbahaya. Pasukan itu terdiri hewan buas salah satunya ada burung gagak berkepala botak dengan paruh besar. Jika ada bahaya mereka akan memberi tahu kami. Dan kalau sudah masuk wilayah ini sulit untuk keluar. Kecuali melalui bukit di belakangnya yang di kelilingi buaya. Di sana ada hewan yang bersemayam. Ia memiliki api. Ia sambil meunjukkan itu. Tentunya, sebelum keluar bukit itu terhalang beberapa batu besar yang sulit dibuka.
Pedang dan panah. Ia mirip pasukan samurai wanita yang sangat langkah. Mengusai beberapa Bela diri kungfu dan karakte. Kami memiliki aturan yang ketat. Pelanggaran terberat bagi suku kami adalah keluarga wilayah dan bergaul dengan orang luar.
Uta terkejut. "Berarti kamu dalam masalah besar karena telah bercakp-cakap denganku," ucap Uta.
"Sungguh kau dalam masalah," terang laginya.
__ADS_1
"Atau kau pindah saja ke rumah pohon. Kamu dapat mencari jodoh di sana dan aku pun memiliki berapa teman yang tampak hebat dan suka bernyanyi."