Vika

Vika
Pertengkaran


__ADS_3

Malam itu di Rumah Sakit Harapan Bunda terbaring seorang gadis berparas cantik lengkap dengan alat bantu pernafasan, dialah Nayshila Hermawan Saputri.


“Shila sayang, kamu mendengar bunda?” Ucap seorang wanita separuh baya penuh haru ketika melihat jemari gadis yang ia panggil Shila itu bergerak, ditambah mulutnya yang terus mengatakan sesuatu meski tak terdengar.


“Vi, ka. Vi, ka.” Ucap Shila, ia terus saja menyebutkan nama itu dalam tidurnya, namun suara yang ia keluarkan tak cukup keras karena alat bantu pernafasan yang ia kenakan.


Dengan perlahan Shila yang mendengar seseorang memanggilnya pun membuka mata, menatap penuh tanya dan terus memperhatikan sekelilingnya, Rumah Sakit? Batinnya. “Bunda!” Ucapnya setelah melepas alat bantu pernafasan yang ia kenakan.


“Ia sayang, ini bunda.” Bundanya Shila tak kuasa menahan haru, ia segera memeluk putri kesayangannya.


“Bunda.” Ucap Shila lagi, membuat bundanya melepaskan pelukan dan menatap wajah putrinya tak percaya, namun melihat senyum yang mengembang di bibir putrinya ia segera tahu kalau itu bukanlah mimpi.


Matanya mengeliling ke semua penjuru ruangan itu, “Vika dimana bun?” Tanya Shila kemudian karena tak menemukan sahabatnya, Vika Alvarado.


“Kamu pasti merindukannya ya?” Tanya Bunda menggoda Shila, dan Shila pun hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu, “Tadi dia kesini kok, tapi sekarang dia sudah pulang jadi kamu....” Sambung Bunda kemudian.


Tok tok tok... suara seseorang mengetuk pintu Ruang rawat Shila dari luar, “Maaf bu, anda dicari oleh direktur!” Ucap seorang perawat yang baru saja meminta izin masuk.


“Oh, baiklah,” Ucap bunda kemudian perawat itu pergi, “Sayang, tunggulah sebentar. Bunda harus menemui kakekmu dulu ya.” Pamit bunda pada Shila tersenyum tanda mengerti, “Sa, jaga adikmu ya, bunda pergi sebentar!” Pintanya pada seseorang di dalam kamar mandi lalu pergi.


“Lisa?” Shila penuh tanya ketika mendapati Lisa keluar dari kamar mandi.


“Akhirnya elo sadar juga?” Ucap Lisa terdengar seakan ia tak senang melihat Shila sadar, ia berjalan menuju kearah Shila yang masih duduk di tempat tidurnya.


“Kenapa kamu disini?” Tanya Shila dingin.


“Kenapa? Elo nggak denger apa yang tadi bunda bilang, Hah?” Lisa tak kalah dingin, ia pun duduk di sofa dekat jendela.


“Lebih baik kamu pergi,” Pinta Shila baik-baik, ia tak punya selera untuk meladeni Kakaknya itu.


Lisa menatap Shila sejenak kemudian memalingkan wajah dan menatap keluar jendela.


“Apa kamu tuli? Aku bilang pergi.” Shila sedikit meninggikan suaranya.


“Elo berisik banget sih. Gue hanya menuruti apa yang bunda bilang, jadi diamlah atau pergi tidur sana atau kalau bisa lebih baik elo koma lagi deh supaya kehidupan gue jadi lebih tenang!” Ucap Lisa kesal.


Mendengar ucapan Lisa itu Shila agak bingung, “Koma? A, apa maksud kamu?” Tanyanya.


Lisa menatap Shila dan perlahan melangkahkan kakinya, “Ya ampun adik gue sayang, elo lupa apa yang terjadi?” Tanya Lisa seakan mengetahui semua hal.

__ADS_1


Shila pun mencoba mengingatnya, “Vika...” Ia teringat sesuatu, “Dimana Vika? Apa yang kamu lakukan padanya?” Sambungnya ketika mengingat apa yang telah terjadi.


“Ah...elo inget juga. Tenanglah, gue udah ngeberesin semuanya, jadi elo nggak usah khawatir karena anak pembawa sial itu nggak akan nyakitin elo lagi, kayak gini!” Ucapnya sembari menatap Shila dari atas sampai bawah.


“Apa maksudmu anak pembawa sial?” Shila tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia sungguh tak habis pikir dengan apa yang Lisa katakan.


“Perlu gue perjelas?” Tanya Lisa, seakan sedang menantang Shila.


Shila menatap tajam Lisa, “Berani sekali kamu memanggil Vika seperti itu!” Shila marah karena kata-kata Lisa itu sangat menghina Vika, sahabat baiknya.


Lisa membalas tatapan tajam Shila, “Denger ya adik gue tersayang, dari dulu gue sering banget bilang kan, kalau elo tuh jangan bergaul dengan cewek itu lagi, tapi sayangnya elo nggak pernah mau percaya sama gue. So liat keadaan lo sekarang? Koma 2 minggu, bener-bener menyedihkan!” Papar Lisa dengan sinis, merasa kalau apa yang selalu ia ucapkan pada adiknya itu benar.


“Apa maksud perkataanmu itu?” Shila menyadari sesuatu yang tidak benar dari perkataan Lisa.


Lisa terdiam, “Gue cape ya ngomong sama lo.” Ucapnya kemudian.


“Jelaskan apa maksud perkataanmu!” Shila semakin kesal, namun ia berusaha menahan diri sebaik mungkin.


“Ckckckck, gue bingung ya sama lo. Masih belum ngerti juga?” Tanya Lisa menganggap remeh Shila, dasar boodoh!’ pikirnya.


“Lisa Hermawan Saputra, tidakkah kau mendengar pertanyaanku?” Shila menekankan suaranya, ia terlihat sangat marah, namun tetap menahan diri.


“Ada apa? Kalian bertengkar lagi?” Bundanya Shila masuk keruangan itu.


“Nggak bunda, aku hanya menjelaskan apa yang terjadi, kenapa dia terjatuh bahkan sampai koma seperti ini!” Ucap Lisa.


“Maksud kamu Sa?” Bundanya Shila bingung.


“Oiya bunda belum tahu juga ya. Begini bun...”


“Hentikan. Kamu pikir aku akan membiarkanmu menjelek-jelekan Vika didepan bunda?” Shila memotong perkataan Lisa.


“Menjelek-jelekkan? Hello my sister, gue nggak ngejelek-jelekin dia ya. Ini kenyataan kok, lo tahu bukan kalau saat itu gue ada disana! Lagi pula dari tadi itu, bukannya elo yang minta penjelasan dari gue?” Tanya Lisa.


“Elo...”


“Tunggu sayang,” Ucap Bunda menghentikan Shila yang akan marah, “Tolong bicara satu-satu. Kalau kalian saling membalas, bunda tidak mengerti maksud kalian.” Ucap bundanya tenang.


“Lisa bisa kamu jelaskan maksud dari perkataanmu!” Tanya Bunda mempersilah Lisa bicara.

__ADS_1


“Begini bun, saat Shila terjatuh di gedung belakang sekolah, aku ada disana. Aku melihat dengan mataku sendiri Vika menendang bola dan bola itu mengenai Shila sampai Shila terjatuh dan koma!” Lisa tidak meneruskan kata-katanya, ia cukup tahu bundanya mengerti kata-katanya.


“Bola? Bola apa yang kamu maksud? Aku saat itu terjatuh karena tangganya yang licin akibat hujan. Aku...”


“Kayaknya kepala lo terbetur sangat keras, ya? Sampai elo lupa apa yang terjadi!” Lisa memotong kata-kata Shila.


“Lupa?” Shila tersenyum sinis, “Denger ya, aku mengingatnya dengan sangat jelas, kalau aku terjatuh karena tangga yang licin. Aku yang mengalaminya dan...”


“Ahhh...gue tahu, elo pasti ingin melindungi cewek pembawa si...”


Plak


Telapak tangan Shila yang halus itu mendarat dengan keras di pipi Lisa, ia sangat tak menyukai Lisa memanggil sahabatnya dengan sebutan seperti itu.


“Shila, apa yang kamu lakukan sayang!” Bundanya kaget dengan apa yang Shila lakukan, ia tak menyangka putri kesayangannya melakukan itu.


“Bunda, maaf kalau aku melakukan ini di depan bunda. Tapi aku tidak bisa menahan diriku lagi.” Ucap Shila benar-benar menyesal karena melakukannya didepan bunda.


“Tapi kamu tidak boleh melakukan itu pada kakakmu.” Ucap Bunda berusaha menjelaskan pada Shila.


“Nggak, aku harus melakukannya. Bunda denger sendiri kan apa yang tadi dia bilang?” Jelas Shila.


“Bunda tahu sayang, kata-katanya salah karena menyebut Vika pembawa sial, tapi dia seperti itu karena khawatir padamu, dia...”


“Khawatir? Hehe... Bunda, jangan membuatku tertawa. Dia? Mengkwatirkanku?” Shila tertawa lepas, ia benar-benar tidak tahu kalau bundanya akan berpikiran seperti itu.


“Sayang, tidak boleh begitu. Ayo minta maaf pada kakakmu!” Pinta Bunda.


Shila sontak terdiam mendengar kata-kata bunda, sementara Lisa hanya tersenyum karena merasa menang.


“Bun, tidak tahukan bunda arti kata-kata bunda barusan?” Tanya Shila menekan setiap kata yang ia ucapkan, ia sangat tidak percaya kalau bunda memintanya untuk meminta maaf pada Lisa sementara bundanya sangat tahu hungungan mereka selama ini.


“Tapi itu harus sayang, nanti Lisa juga harus minta maaf pada Vika. Bunda yakin kalau ini hanya kesalahpahaman saja!" Ucap Bunda menenangkan Shila yang terlihat akan marah.


Mendengar penuturan bunda kemarahan Shila menghilang dan digantikan dengan senyuman, “Emm...ok, itu cukup adil. Aku akan minta maaf padanya setelah dia meminta maaf pada Vika!” Ucap Shila sambil tersenyum, keputusan bundanya itu membuatnya tenang, “I am promise!” Sambungnya.


“Lho bunda, kenapa aku harus minta maaf pada cewek pem...”


“Lisa!” Bunda memotong perkataan Lisa, “Jaga kata-katamu, bunda tidak mau ada yang mendengar kamu mengatakan hal itu lagi.” Sambung Bunda, kemudian mendekati Lisa, “Terutama Shila, jangan membuatnya marah, karena bunda dan ayah tidak bisa menghentikan kemarahannya!” Bisik bunda pada Lisa, “Pulang dan beristirahatlah, kamu pasti lelah!” Ucap Bunda.

__ADS_1


***


__ADS_2