
Shila sangat senang karena bisa satu kamar dengan Vika, ia sangat menantikan masa-masa ini.
“Jadi hari ini kita mau kemana?’’ Tanya Shila dengan penuh semangat setelah merapikan barang-barang yang ia bawa.
“Bagimana kalau aku mengantarmu keliling sekolah?’’ Tanya Vika.
“Ok.’’ Jawab Shila penuh semangat.
Mereka pun mengelilingi sekolah, mulai dari dapur asrama, laboratorium, perpustakaan, ruangan klub, kolam renang, taman belakang sekolah lalu terakhir Lapangan In door dan out door.
“Wah, luasnya.’’ Ucap Shila takjub dengan lapangan yang dimiliki sekolah ini, ia pun memandanginya dengan lekat seakan tak ingin melepaskan lapangan dari pandangannya, “Oh iya, kita belum ke ruang klub sepak bola. Dari yang aku baca sekolah ini punya kan? Kamu ikut juga kan?’’ Tanya Shila penasaran.
“Tidak.’’ Vika menggeleng.
“Ye? Kenapa?’’ Tanya Shila kaget.
“Aku sibuk mempersiapkan olimpiade, kamu tahu kan kita yang kelas satu ini mengejar materi kelas dua dan tiga.’’ Jelas Vika.
“Iya sih, kemaren kalau pun ada klub sepak bola di sekolahku yang lama, pasti tidak bisa mengikuti kegiatan klub.’’ Shila terlihat kecewa, “Tapi kegiatan olimpiadenya sudah selesai, bagaimana kalau kita daftar klub sekarang?’’ Tanya Shila.
“Sekarang?’’ Vika kaget, Shila mengangguk semangat, “Kayaknya nggak bisa, sekarang kan kegiatan Club libur.’’ Jawab Vika berusaha setenang mungkin.
“Libur? Tapi bukankah kegiatan sepak bola itu biasanya hari sabtu?’’ Tanya Shila bingung.
“Iya, Sab..’’ Vika terhenti, “Oh iya, sekarang hari sabtu ya. Ya ampun aku lupa, aku kira hari ini hari minggu.’’ Ucap Vika yang dari tadi tidak bisa focus pada pembicaraannya dengan Shila.
“Kalau begitu, ayo kita mendaftar.’’ Ajak Shila sambil menggandandeng lengan Vika dengan ceria.
‘Ya, aku harus mencobanya, harus.’ Vika membatin membulatkan tekatnya.
Samar-samar terdengar suara peluit dari lapangan belakang sekolah yang biasa digunakan oleh klub sepak bola. Shila mengambil bola yang keluar lapangan ketika dia sampai di lapangan itu.
“Shila,’’ Liana kaget melihat Shila ada di lapangan sekolah.
“Lho, Liana kan? Kamu anggota Klub sepak bola juga?’’ Shila juga kaget melihat Liana ada di sana.
“Kamu tahu namaku?’’ Liana bingung Shila tahu namanya.
“Tentu saja, Vika membuatkan bagan kelas ini agar aku tahu nama semua anak di kelas.’’ Shila menunjukan sketsa bagan kelas yang dibuatkan oleh Vika. Hal itu tentu saja mengagetkan Liana yang mengira Vika tidak tahu nama-nama anak-anak di kelasnya.
“Oiya kamu kesini untuk mendaftar?’’ Tanya Liana.
“Ya, kami kesini untuk mendaftar menjadi anggota klub sepakbola.’’ Ucap Shila dengan penuh semangat.
“Kami?’’ Liana bingung karena hanya melihat Shila seorang diri.
“Em, aku dan Vi… eh? Lho, Vika kemana?’’ Shila bingung ketika mengetahui Vika tidak ada dibelakangnya.
“Siapa Shil?’’ Liana tidak percaya dengan nama yang ia dengar, Vika? Batinnya.
“Vika, tadi aku kesini bersamanya. Dia ada dibelakangku saat aku mengambil bola ini.’’ Jelas Shila bingung.
“Maksudmu, Vika juga kesini untuk mendaftar?’’ Tanya Liana masih tidak percaya.
“Tentu saja.’’ Jawab Shila singkat.
“Oh begitu, em… bagaimana kalau sekarang aku memperkenalkanmu pada Riva, kapten tim ini.’’ Ajak Liana, ia tak tahu harus bereaksi apa kalau Vika benar-benar mendaftar di klub ini.
“Tapi, bagaimana dengan Vika?’’ Shila khawatir.
“Dia bisa menyusul, lagipula dia sudah mengenal Riva dan yang lain.’’ Ucap Liana yang sebenarnya tidak tahu Vika mengenal anggota klub yang lain atau tidak.
“Baiklah,’’ Shila pun setuju dengan Liana kemudian mengikuti Liana menuju keruang klub di samping lapangañ.
“Riv, ini Shila dia siswi baru di kelasku. Dia ingin bergabung dengan kita.’’ Liana memperkenalkan Shila pada Riva.
__ADS_1
“Benarkah? Wah, senang sekali mendengarnya.’’ Ucap Riva sambil tersenyum pada Shila yang terlihat gugup, “Aku Riva, kapten klub ini. Senang kamu mau bergabung dengan kami.’’ Ucapnya kemudian.
“Senang juga karena di sekolah ini ada klub sepak bolanya.’’ Shila mulai terbiasa, ia tersenyum senang.
“Maksudnya di sekolahmu yang lama…’’
“Ya, di sana tidak ada klub sepak bola.’’ Jawab Shila mengerti arah pembicaraan Riva.
“Oiya, kamu pernah bermain sebelumnya?’’ Tanya Riva.
“Pernah, aku bermain sepak bola sejak kelas 3 SD. Tapi sudah tiga tahun ini aku tidak pernah bermain lagi.’’ Jawab Shila.
“Wah kalau begitu, bagaimana kalau kamu ikut dalam permainan mini game.’’ Ucap Riva.
“Benarkah? Langsung bermain? Tidak perlu tes?’’ Tanya Shila bingung.
Riva tersenyum, “Test? Tentu saja tidak perlu, kami tidak pernah melakukan test pada anggota baru. Lagipula, kami juga baru membentuk tim ini, dan masih berusaha berkembang bersama-sama.’’ Jelas Riva.
“Wah, kalian hebat.’’ Shila kagum.
***
“Ayo berkumpul semua, kita kedatangan teman baru, dia siswi yang baru pindah kemarin. Hari ini akan ikut dalam permainan mini game. Kamu bisa memperkenalkan dirimu.’’ Ucap Riva kemudian anggota klub pun segera berkumpul.
“Hallo semuanya, namaku Shila Hermawan Syaputri, aku pindahan dari SMA Kusuma Negara. Mohon kerjasamanya.’’ Shila memperkenalkan diri pada anggota klub sepak bola.
“Oiya, kamu biasa bermain di posisi apa?" Tanya Riva, ia ingin menyesuaikan denga kemampuan Shila.
"Dari kecil aku biasa bermain sebagai bek atau gelandang." Jawab Shila.
"Ok, kalau gitu kita coba sebagai gelandang, Vi." Riva memanggil seseorang yang sedang bermain ketika peluit berbunyi.
"Baiklah." Shila senang.
“Riv,’’ Ucap Liana pada Riva yang ada di depannya.
“Em, permainannya sangat baik, dia bermain sangat baik.’’ Ucap Riva mengerti maksud Liana.
Mini game pun selesai, Shila memenangkan pertandingan itu dengan skor 3-2.
“Shila,’’ Riva menghampiri Shila yang beristirahat di tepi lapangan.
“I, iya.’’ Ucap Shila.
“Kamu bermain dengan baik.’’ Ucap Riva singkat.
“Ye? Benarkah?’’ Shila tidak percaya dengan apa yang ia dengar, “Tapi aku banyak melakukan kesalahan tadi.’’ Ucap Shila.
“Tapi secara keseluruhan permainan kamu sangat bagus.’’ Ucap Riva.
“Terimakasih, tapi akan sangat bagus kalau Vika ikut dalam permainan mini game ini.’’ Ucap Shila sedikit kecewa karena Vika tidak ikut main.
“Siapa? Tadi kamu bilang siapa?’’ Tanya Riva tak percaya dengan pendengarannya.
“Vika, tadi aku datang kesini bersamanya untuk mendaftar menjadi anggota klub sepak bola.’’ Jelas Shila, ia merasa ia pernah mengatakannya sebelumnya.
“Vika? Anak itu ingin mendaftar?’’ Tanya Riri tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
“Em,’’ Jawab Shila singkat sambil menganggukan kepalanya.
“Wah, kayaknya kamu salah deh. Dia tidak mungkin ingin bergabung dengan klub ini,’’ Ucap Riri.
“Salah? Kenapa? Aku dan Vika benar-benar datang kesini untuk bergabung.’’ Shila bingung melihat anggota klub bola itu bertingkah aneh.
“Tapi…’’
__ADS_1
“Memang kenapa kalau aku ingin bergabung?’’ Vika memotong kata-kata Riri.
“Vika.’’ Ucap Shila ketika melihat Vika berjalan menuju dirinya, ia segera menghampiri Vika, “Kamu dari mana saja?’’ Tanyanya kemudian.
“Sorry, tadi ada yang tertinggal di kamar, jadi aku kembali ke asrama.’’ Jelas Vika.
“Kamu terlihat pucat dan berkeringat, kamu baik-baik saja?’’ Shila khawatir melihat wajah Vika.
“Owh, tentu. Ini mungkin karna tadi aku berlari kesini, aku takut kamu mencariku.’’ Ucap Vika, “Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu sekaku itu?’’ Tanya Vika.
“Kamu melihatnya?’’ Shila terlihat malu.
“Owh, permainanmu kacau, kamu banyak melalukan kesalahan.’’ Ucap Vika pada Shila yang menggaruk kepalanya ringan, sementara anggota klub sepak bola kaget mendendengar pernyataan Vika itu, “Tapi ini cukup bagus, mengingat sudah tiga tahun kamu tidak bermain. Jadi, bersiaplah mulai besok, menu nomor 2.’’ Sambungnya.
“Nomor dua?’’ Shila terlihat kecewa.
“Kenapa? Kamu ingin menu nomor 1?’’ Tanya Vika dan Shila menjawabnya dengan anggukan kecil, “Tidak bisa. Lakukan menu nomor 2 selama 2 minggu, baru kamu akan melanjutkannya dengan nomor 1 dan zero.’’ Jelasnya.
“Zero? Aku bisa melakukannya?’’ Shila tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Emmm, kita akan tahu setelah sebulan kedepan.’’ Jawab Vika.
“Wah, aku tidak sabar, aku akan melakukannya dengan semangat dan berharap sebulan cepat berlalu.’’ Ucap Shila penuh semangat, “Oiya, ayo Vik, yang lain sudah menunggu, aku sudah melakukan mini game, sekarang tinggal kamu.’’ Sambungnya.
“Owh, baiklah.’’ Vika pun mengikuti Shila, “Halo, namaku Vika Alvarado dari kelas X-1, kalian sudah mengenalku bukan!’’ Ucap Vika memperkenalkan dirinya di depan anggota klub sepak bola.
“Aku salah lihat nggak sih?’’ Riri tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Ada apa? Kalian kenapa?’’ Shila bingung karena melihat anggota Klub berbisik namun segera diam ketika ia berbicara.
“Ayo semuanya, kita akan latihan kembali, siap-siap di posisi masing-masing ya!’’ Pinta Riva.
“Lho Riv, mini gamenya?’’ Shila bingung.
“Ye?’’ Riva juga bingung maksud Shila.
“Bukankah Vika harus bermain di mini game agar kalian tahu kemampuannya, sama sepertiku?’’ Tanya Shila.
“Owh itu…’’ Ia bingung harus berkata apa.
“Aku akan melakukannya.’’ Ujar Vika.
“Tapi itu tidak bisa.’’ Ucap Riva, membuat Shila bingung, “Bukankah dokter bilang kamu harus beristirahat selama 3 bulan penuh!’’ Sambungnya.
“Dokter? Vika, kamu sakit?’’ Tanya Shila khawatir.
“Tidak, aku baik-baik saja.’’ Jawab Vika, “Aku bisa melakukannya.’’ Ucapnya pada Riva.
“Tidak, tidak. Waktu itu dengan jelas aku mendengar Dokter Lina bilang kamu harus mengistirahatkan kakimu untuk…’’
“Riva, sudah kukatakan aku baik-baik saja. Jadi…’’ Vika menghentikan kata-katanya ketika Shila memegangi lengannya, ia terdiam sejenak, “Kakiku benar-benar baik-baik saja.’’ Ucap Vika.
“Tapi Vika,’’ Shila menggenggam lengan Vika semakin kencang.
“Baiklah, aku akan menunggumu selesai latihan.’’ Ucap Vika kemudian pergi ketepi lapangan.
Shila yang masih mengkhawatirkan Vika terus saja memandang Vika, namun Vika tersenyum lembut padanya untuk memberitahukan bahwa dia benar-benar baik-baik saja.
“Riv, kamu melihatnya? Dia tersenyum? Dia tersenyum seperti foto itu.’’ Liana tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Owh, dia benar-benar berbeda dengan Vika yang kita kenal.’’ Riva juga tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Apa aku tidak salah lihat? Anak itu tersenyum?’’ Batin Riri.
***
__ADS_1