
Setelah pertandingan Final, Vika dan kawan-kawan mendapatkan dispensasi untuk beristirahat selama tiga hari full mengingat kondisi mereka yang melakulan pertandingan seminggu berturut-turut.
"Lho, ini reuni apa Vik?" Tanya Shila bingung, ia sebenarnya sudah melihat brosur reuni itu selama seminggu, tapi belum sempat menanyakannya pada Vika.
"Reuni akbar SMP kita, Kak Lisa yang memberikannya padaku seminggu yang lalu." Jelas Shila.
"Dan kamu mau datang kesana?" Tanya Shila yang sebenarnya tahu jawaban Vika.
"Tentu saja. Aku merindukan teman-teman yang lain. Apakah kamu tidak?" Tanya Vika lembut.
"Tapi bukan itu yang..."
"Shil, bukankah seminggu sudah cukup untuk meyakinkan dirimu akan apa yang kamu lihat?" Ucap Vika, "Jangan sampai kebencianmu pada Ka Lisa membutakan hatimu juga." Sambungnya.
Shila terdiam, ia berpikir keras, dan merasa apa yang Vika katakan ada benarnya, terlebih sekarang Vika sudah ada bersamanya dan Lisapun sudah minta maaf sesuai dengan apa yang ia mau.
"Kalau kamu masih belum yakin, kamu bisa meminta paman untuk mencari tahu." Ucap Vika.
"Baiklah." Shila pun menghubungi paman seperti saran dari Vika, "Terimakasih paman." Ucapnya mengakhiri percakapan.
"Paman akan datang sore ini." Ucap Shila, dan Vika pun tahu kalau maksud dari Shila adalah Paman sudah mengamati Lisa selama ini dan akan langsung melaporkanya pada Shila.
Sore harinya sesuai janji, paman datang ke asrama dan berbincang dengan mereka.
"Ini adalah daftar pengeluaranLisa selama 3 tahun terakhir." Ucap Paman sambil menyerahkan beberapa lembar rekening koran pada Shila.
__ADS_1
Rekening koran itu menunjukan bahwa pengeluaran Lisa selama tiga tahun ini dibawah uang bulanan yang Shila kirimkan.
"Saya juga selalu mengeceknya secara berkala pengeluaran Nyonya ke dua dan tidak ada pengeluaran yang besar seperti biasanya." Sambung paman seakan tahu Shila akan bertanya tentang apa sambil menywrahkan rekening koran milik nyonya kedua.
Selain melakukan pengeluaran yang boros di kartu hitam miliknya, Lisa juga kerap kali menggunakan kartu hitam milik nyonya kedua diam-diam. Jadi Shila pikir kalau Lisa mungkin saja masih melakukannya secara diam-diam. Tapi ternyata...
"Lisa sudah berubah Shil." Ucap paman seperti tahu apa yang Shila pikirkan, "Lisa juga punya 2 pekerjaan part time setelah kuliahnya selesai." Sambungnya.
"Part time? Benarkah itu paman?" Shila bingung, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Iya, bahkan ia menambah beberapa pekerjaannya di enam bulan terakhir." Ucap paman.
"Kenapa paman? Apa uang kuliahnya tidak cukup sampai-sampai kak Lisa bekerja part time sebanyak itu?" Tanya Shila bingung.
"Itu tidak mungkin. Seperti yang kamu lihat Shil, bahkan Tuan besar dan nyonya pertama mengirimkan sejumlah uang untuk tambahan uang bulanan Lisa." Jelas paman.
"Sebenarnya, Enam bulan lalu Lisa berhenti kuliah untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti test beasiswa Fakultas Kedoktern di cambridge university dengan mengikuti les. Sepertinya ia menggunakan uang yang ia hasilkan untuk membayar biaya lesnya." Jelas Paman.
"Fakultas kedokteran? Beasiswa?" Shila tidak percaya, Ini, bener gak sih yang aku dengar? Batinnya.
"Itulah kenapa saya bilang Lisa sudah berubah." Jawab paman.
Setelah berbincang cukup lama dengan oaman, Shila meminta paman untuk melakukan sesuatu.
"Gimana?" Tanya Vika ketika paman sudah pergi.
__ADS_1
"Kamu benar Vik, kak Lisa sudah berubah." Shila penuh haru, ia jadi menyesal karena telah membentak Lisa tempo hari. Ia juga seharusnya mengamati Lisa lebih awal agar bisa menepati janjinya untuk mengembalikan semua hak Lisa.
"Jadi, kamu mau kan ikut reuni?" Tanya Vika, meski ia mengajak Shila, tapi ia juga tidak tahu apakah ia bisa mengatasi sikapnya yang sudah berubah pada teman-temannya.
"Iya."Shila senang.
Seminggu kemudian Vika dan Shilapun datang ke acara reuni akbar SMP nya bersama dengan Rian. Mereka banyak bertemu dengan teman-teman lama mereka, Vika berusaha keras untuk bersosialisasi dengan mereka, dan cukup kesulitan.
"Kamu nggak apa-apa?" Rian khawatir, ia tahu Vika kesulitan untuk menyesuaikan diri.
"Em, nggak apa-apa kok." Ucap Vika, bagaimanapun juga ia harus bisa mengatasi keterbatasannya saat ini.
"Tak perlu memaksakan diri." Hibur Rian.
"Kenapa?" Tanya Shila yang baru kembali setelah menemui Lisa.
"Nggak apa-apa. Oiya, bagaimana percakapan kalian?" Tanya Vika, ia senang hubungan Lisa dan Shila kembali baik.
"Menyenangkan, sudah lama aku tidak berbincang dengan Kak Lisa." Jawab Shila senang, "Kak Lisa lulus test beasiswa dan akan segera berangkat untuk mempersiapkan hal yang dibutuhkan, seminggu lagi." Shila terlihat sedih, namun ia juga senang, "Jadi besok aku pergi main bersama kakak." Sambungnya senang, "Kamu ikut yuk!" Ajak Shila.
Vika menggeleng, "Aku besok ada janji sama Kak Ian." Ucap Vika, mendengarnya Rian agak terkejut.
"Kalian mau kemana?" Shila penasaran.
"Ada deh." Ucap Rian, ia tahu kalau Via tak ingin menggangu perjalanan Shila dan Lisa.
__ADS_1
Vika tersenyum, ia berterimakasih pada Rian.
***