
Ketegangan di ruang rapat kepala sekolah terus berlanjut...
"Ibu jangan khawatir, dia tidak mungkin berani melakukannya!” Ujar Lisa menenangkan kepala sekolah.
“Emm...Ibu percaya saja padanya dan minta dana pendidikan itu padanya, aku yakin, dia tidak akan mampu memberikannya. Ibu tahu kenapa? Karena mulai sekarang dia akan segera kembali ke tempat asalnya.” Ujar Shila pada kepala sekolah yang terdiam.
“A, apa maksudmu?” Lisa menyadari sesuatu yang aneh.
“Ma, maafkan aku ya, aku terpaksa melakukannya karena putri kesayangan mama itu bermain-main dengan Vika. Padahal aku sudah membukakan pintu rumah dan hatiku lebar-lebar ketika kalian datang, tapi kebenciannya pada Vika tidak bisa aku maafkan lagi, dia...”
“Apa maksud kamu Shila?” Lisa kembali mengulang pertanyaanya yang tak Shila jawab dengan nada yang lebih tinggi.
“Perlukah aku menjelaskan hal yang sudah jelas dari awal!” Jawab Shila, “Aku tahu, sangat tahu alasan kenapa kamu membenci Vika. Tapi perasaan seseorang itu tidak bisa dipaksakan, kamu seharusnya paham betul hal itu. Sebesar apapun kamu mencintai Ka Ian, dia tak akan pernah membalas perasaanmu itu!” Jelas Shila kemudian.
“Ja, jangan bicara omong kosong, aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan itu!” Lisa mengelak.
“Perlu kalian tahu, aku mengingat setiap detik ketika aku terjatuh dari tangga sekolah. Dan dapat ku pastikan kalau hal itu bukanlah karena Vika atau bola yang Vika tembakkan. Tapi karena air hujan yang membuat tangganya menjadi licin. Jadi, aku harap dengan pangakuanku ini kalian menyesal karena telah mengeluarkan salah satu siswi berbakat yang kalian punya.” Ucap Shila, “Dan itu karena seseorang yang bahkan tidak pernah mengharumkan nama sekolah ini sekalipun!” Sambungnya menatap Lisa.
“Mulai lagi, kamu mulai berbicara omong kosong lagi!” Lisa bersikukuh dengan pendapatnya yang mengatakan kalau Vika bersalah.
Shila terdiam, ia berusaha menahan dirinya, menahan amarah yang seharusnya ia keluarkan dari tadi, “Bisakah kamu hentikan sekarang juga? Aku, sudah muak dengan sikapmu yang seperti ini. Tolong jangan membuatku lepas kendali!” Pintanya.
“Apa maksudmu, seharusnya aku yang bilang seperti...”
“CUKUP, aku bilang hentikan. Kamu, kamu mungkin berpikir selama ini aku takut padamu. Tapi kamu salah, kamu salah besar, karena yang membuatku diam selama ini adalah Vika.” Ucap Shila membuat semua orang yang berada diruangan itu semakin bingung dengan apa yang mereka berdua bicarakan. “Jadi seharusnya kamu berterimakasih pada Vika, karena kalau bukan dia yang memintaku untuk diam, tentu saja aku tidak mungkin diam. Aku tidak mungkin diam melihat sahabatku kamu permainkan.” Ucap Shila kemudian ia terdiam sejenak.
“Apakah kamu sedang bermimpi? Omonganmu itu sangat tak masuk akal. Aku yakin kamu hanya ingin membela anak pembawa si...”
Shila menunjuk Lisa dengan tatapan tajamnya, entah kenapa membuat Lisa tak bisa berkata-kata lagi, “Aku sudah memperingatkanmu dan aku tahu bunda juga sudah mengatakannya, tetapi kamu masih saja menyebut Vika seperti itu. Dan kamu masih juga tetap bersikukuh kalau dia salah. Kamu terus saja menjadikan Vika sebagai kambing hitam,”
__ADS_1
“Tapi itulah kenyataanya...”
“Kenyataan? Haha... Jangan membuatku tertawa. Dengarkan aku baik-baik, kalau kamu memang ingin menyalahkan seseorang, bukankah kamu yang seharusnya dipersalahkan!” Ujar Shila kesal.
“A, aku? Jangan konyol!” Lisa membantah.
“Konyol? Kamu yang konyol karena menyalahkan Vika. Kamu seharusnya tahu kenapa aku ke sana.” Shila sedikit meninggikan suaranya.
“Tapi aku tidak mendorongmu!” Ucap Lisa.
“Dan Vika juga tidak!” Balas Shila.
“Tapi tendangannya yang membuatmu...”
“Kalau aku bilang tidak, itu berarti tidak. Kamu yang salah, seharusnya kamu tidak menyakiti Vika seperti itu!” Shila marah, ia tidak bisa menahannya lagi.
“Aku tidak melakukannya, aku hanya menakut-nakuti dia karena dia terus-terusan mendekati Ian!” Lisa keceplosan.
“Apa maksud kamu. Aku...”
“Paman, bawa Lisa pulang untuk berkemas lalu antarkan dia ke rumahnya yang baru!” Pinta Shila pada paman yang ada di depan pintu.
“A, apa maksudmu Shila?” Lisa bingung dengan kata-kata Shila.
“Pulanglah sekarang, aku sudah menyiapkan rumah, sekolah dan lingkungan baru untukmu! Hari ini adalah hari terakhir kamu tinggal dirumahku juga sekolah ini.” Ucap Shila menjelaskannya pada Lisa.
“Mari nona!” Ajak paman pada Lisa yang terdiam mendengar ucapan Shila.
“Diam, jangan berani-beraninya pelayan sepertimu...”
__ADS_1
“Tutup mulutmu! Kamu pikir kepada siapa kamu berbicara? Berani sekali kamu menyebut paman sebagai pelayan!” Shila marah karena perlakuan Lisa pada Paman.
“Kamu yang seharusnya menutup mulut, berani sekali kamu memerintahku untuk pergi dari rumah, bera...”
“LISA! Cukup!” Mama marah dengan sikap putrinya ia memotong perkataan Lisa yang semakin lama semakin kasar, “Shila, apakah yang kamu katakan itu benar? Lisa mempermainkan Vika? Dia menyebabkan Vika terluka? Dia juga yang membuat Vika dikeluarkan dari sekolah ini?” Mama tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Pertengkaran kedua putrinya itu sangat membuatnya bingung, ua berusaha mencerna setiap apa yang mereka katakan.
“Maaf ma, aku sebenarnya tidak ingin mama tahu. Tapi ini sudah sangat kelewat batas, Lisa sudah sangat keterlaluan. Aku tidak bisa membiarkannya lagi karena dia, Vika...”
“Apa yang terjadi?”
“Tidak, tak ada yang terjadi Ma. Aku akan menemukan Vika, mama pulanglah. Aku akan menjelaskan semuanya dirumah nanti!” Jelas Shila, ia memang harus mencari Vika sekarang.
“Kalau begitu mama dan Lisa akan pulang. Kamu jangan terlalu cape ya, kamu kan baru sembuh. Oiya, paman tidak udah mengantar kami, jagalah Shila. Kami permisi!” Mama pamit kemudian memaksa Lisa untuk mengikutinya.
“Shila, ibu minta maaf. Ibu benar-benar minta maaf, ibu sungguh tidak tahu kalau Lisa berbohong, ibu...”
“Cukup, ini sudah cukup. Aku dan Lisa akan pindah dari sekolah ini!”
“Tunggu Shil, ibu janji akan menarik surat pemberhentian Vika, tapi ibu mohon jangan pindah dan menghentikan dana pendidikan itu, kamu tahu bukan kalau dana itu dicabut, banyak anak beasiswa yang akan terlantar, ibu tidak...”
“Kalau begitu aku akan memindahkan mereka kesekolah yang pantas!” Ucap Shila kemudian beranjak pergi.
“Shila, ibu mohon. Sekarang ibu akan memanggil Vika agar dia bersekolah di sekolah ini lagi, jadi...”
“Sayang sekali ibu terlambat, Vika sudah tidak ada di kota ini.” Ucap Shila memotong kata-kata Kepala sekolah, “Ibu pikir kenapa aku datang sendiri kesini? Itu karena Vika sudah pergi, pergi ke tempat yang tak satu orangpun tahu, dan itu semua karena...karena..." Sambungnya tapi tak sambung melanjutkan kata-katanya.
“Shila, ibu benar-benar minta maaf. Ibu janji ibu...”
“Tidak, aku tidak mau mendengar janji ibu yang tidak pasti itu. Sekarang hanya satu hal yang pasti, aku sendiri yang akan mencari Vika, dan mengembalikan nama baiknya.” Jawab Shila kemudian melangkahkan kakinya tanpa henti dengan diikuti oleh paman.
__ADS_1
***