
Siang yang panas itu membuat Lisa dan Shila lelah karena pergi ke berbagai tempat. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat di sebuh café di rest area. Mereka mengobrolkan banyak hal hingga sore menjelang, dan memutuskan untuk menuju ke hotel terdekat. Tapi…
“Ya ampun, aku meninggalkan kaca mataku di meja cafe. Sebentar ya Shil.’’ Ucap Lisa ketika akan menyalakan mobil yang ia kendarain.
“OK kak.’’ Ucap Shila kemudian memilih CD dan memasukknya ke player dan mendengarkannya.
Sementara itu Vika dan Rian…
“Aku lapar Vik, kita makan dulu ya.’’ Ajak Rian.
“Em, baiklah.’’ Ucap Vika.
“Kamu duluan aja Vik. Aku mau isi bensin dulu ya,’’ Ucap Rian dan Vika pun turun dari mobil itu untuk memesan tempat.
Rianpun mengisi bensin terlebih dahulu, kemudian memarkir mobilnya di parkiran rest area yang sama dengan Shila. Vika berjalan menuju café dan… Shila? Vika bingung, ia pun perlahan berjalan menuju mobil yang terlihat Shila di dalamnya, “Iya, itu Shila.’’ Vika semakin yakin kalau yang di dalam mobil adalah Shila, ia pun mempercepat langkahnya agar bisa menyapa Shila.
“Kamu tidak apa-apa Vik?’’ Tanya Rian khawatir karena ia menarik Vika kepinggir hingga terjatuh karena ada sebuah truk yang melaju cepat hingga menabrak mobil-mobil yang terparkir didepannya.
“Shila,’’ Ucap Vika kaget melihat truk itu, badannya bergetar hebat, ia terlihat bingung namun segera berlari menuju mobil-mobil yang tertabrak truk itu.
Mendengar teriakan Vika, Rian terkejut, “Vika,’’ Ia mengejar Vika.
“Shila,’’ Ucap Vika sambil menatap sebuah mobil yang terhimpit mobil lain pada bagian belakang, meski bagian depannya tidak terlalu parah tapi Shila terjepit di dalamnya.
“Vika,’’ Ucap Rian samar terdengar oleh Vika, “Vika tenanglah!’’ Ucapnya lagi menyadarkan Vika.
Vika menepuk pipinya keras menggunakan kedua telapak tangannya, “Kak.’’ Ucapnya singkat.
“Baiklah.’’ Jawab Rian kemudian mengambil HP di sakunya dan menelpon ambulan.
Vika mendekati Shila, “Shil kamu mendengarku?’’ Tanyanya memulai komunikasi, namun tak ada respon dari Shila, ia kemudian mencoba membuka pintu mobil yang terkoyak namun tidak bisa, ia pun berjalan ke sisi yang lainnya namun tetap tidak bisa karena lebih parah dari sebelumnya. Vika berpikir keras, dan orang-orang berhamburan mengelilingi lokasi itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ia pun pergi ke mobil truk yang menabrak semua mobil disana, dan menarik rem tangan truk itu agar truknya tetap diam.
“Shila,’’ Lisa histeris melihat Shila yang terhimpit.
“Kak Lisa,’’ Ucap Vika, “Tenanglah ka.’’ Sambungnya.
“Tapi, Shila, Vika, Shila, dia…’’ Lisa panic.
“KAK LISA,’’ Vika meninggikan suaranya, membuat Lisa terdiam mengerti maksudnya, “Shila akan baik-baik saja, aku akan segera mengeluarkannya.’’ Sambungnya, “Bagaimana kak?’’ Tanya Vika pada Rian yang baru selesai menelpon ambulan.
“Terjadi kecelakaan di pintu tol utama, jadi ambulannya baru akan tiba setengah jam lagi karena harus berputar jalan.’’ Jelas Rian.
“Kak, kita harus mengeluarkan Shila, jadi…klinik, disetiap rest area ada klinik ka. Bisa kakak…’’
“Em, baiklah.’’ Dengan sigap Rian berlari mencari klinik.
“Kak Lisa, hubungi om dan tante juga paman.’’ Ucap Vika pada Lisa, “Ada yang bisa membantuku mengeluarkan korban?’’ Tanya Vika pada orang-orang disekitar, namun orang-orang itu juga terlihat bingung.
Vika pun sengambil sebongkah batu dan memukul bagian kaca depan secara perlahan agar tidak mengenai Shila, setelah sedikit pecah perlana ia menarik kaca itu dengan kedua tangannya kemudian masuk kedalam mobil itu untuk memeriksa Shila, “Shil, kamu bisa mendengarku?’’ Tanyanya, “Shila.’’ Ucapnya kemudian.
“Vi, ka.’’ Ucap Shila sambil terbata-bata.
“Iya, ini aku. Bertahanlah, OK.’’ Pinta Vika.
“Oh,’’ Ucap Shila, ia berusaha untuk memperbaiki posisi duduknya namun, “Akh’’ Rintihnya.
“Jangan bergerak, bertahanlah.’’ Ucap Vika, namun ia tahu Shila menahan sakit yang luar biasa karena kakinya terhimpit, tulang lehernya juga terluka, “Aku akan segera mengeluarkanmu, aku janji.’’ Sambungnya.
Mendengar hal itu, Shila tersenyum tanda mengerti.
“Vika, tidak ada dokter jaga di klinik itu. Tapi aku membawa penyangga leher dan obat-obatan dari apotik.’’ Jelas Rian.
Vika dan Rian pun segera memasangkan penyangga leher pada Shila, agar ketika memindahkannya cederanya tidak terlalu parah. Setelah itu mereka berusaha mengeluarkan Shila dengan dibantu beberapa orang ditempat kejadian dan membawanya ketempat yang aman.
“Shila,’’ Lisa tak tega melihat Shila.
Saat itu Shila hanya tersenyum, ia tidak ingin membuat Lisa dan Vika khawatir.
__ADS_1
“Shil,’’ Vika memegang dada Shila untuk mengetahui kondisi organ bagian dalam Shila, ia merasakan ada sesuatu yang aneh namun tidak yakin akan hal itu. Ia pun terus mencoba berkomunikasi dengan Shila untuk memastikan agar Shila tidak tertidur.
“Kak Lisa temani Shila dan ajak ia mengobrol, aku akan menyusul dengan Kak Rian.’’ Ucap Vika tak lama setelah Ambulance datang, “Tenanglah ka, Shila akan baik-baik saja.’’ Vika berusaha menenangkan Lisa yang terlihat khawatir, ia menggenggam erat tangan Lisa.
“Ayo ka.’’ Ucap Vika.
“Vika, ada seorang lagi.’’ Ucap Rian kaget, “Sopir truk itu,’’ Sambungnya.
“Sopir truk? Tapi aku tidak melihatnya ketika menarik rem tangan truk itu.’’ Ucap Vika bingung.
“Dia dibawah sini.’’ Ucap Rian sambil berlari dan memeriksa ke kolong truk.
Vikapun segera melihat ke kolong truk dan betapa terkejut dia melihat kondisi sopir truk yang mengkhawatirkan. Tangannya terhimpit truk dan mobil yang ditabrak truk, punggungnya luka-luka terkena aspal dan dia tidak sadarkan diri.
“Ka, mobilnya, pindahkan mobilnya.’’ Ucap Vika kemudian Rian memindahkan mobil itu dan segera memindahkan supir truk itu kemudian memberikan pertolongan pertama pada korban. Taklama ambulanpun datang. Rian dan Vika pun segera menyusul Lisa dan Shila kerumah sakit.
“Bagaimana ka?’’ Tanya Vika ketika sampai dirumah sakit dan menemui Lisa.
“Shila masih ditangani oleh dokter.’’ Lisa terlihat cemas.
“Tenanglah Kak.’’ Vika tersenyum, ia berusaha menghibur Lisa dan Lisa pun mengerti maksud Vika.
“Bagaimana dokter?’’ Tanya Lisa ketika dokter selesai menangani Shila.
“Keadaannya sudah lebih baik, tapi kami akan terus mengawasi kondisinya. Untuk sekarang pasien akan dipindahkan keruang rawat.’’ Ucap Dokter.
“Terimakasih Dokter.’’ Ucap Lisa kemudian mengikuti perawat yang membawa kasur Shila ke ruang rawat.
“Permisi Dokter, ada yang ingin saya tanyakan.’’ Tanya Vika ketika dokter ingin pergi.
“Iya, silakan.’’ Ucap Dokteritu.
“Saat kecelakaan itu, sepertinya terjadi benturan keras di dada Shila, apa itu tidak bermasalah?’’ Tanya Vika.
“Ya, tidak apa-apa. Kami sudah mengeceknya dan itu tidak bermasalah.’’ Jawab Dokter itu.
“Maaf?’’ Dokter itu terlihat bingung.
“Tidak dok, tidak apa-apa. Terimakasih. Maaf menganggu.’’ Ucap Vika menggurungkan niatnya. Kemudian menyusul Lisa ke ruang rawat Shila.
“Bagaimana Shila, Vik?’’ Tanya Rian yang baru datang.
“Dokter bilang kondisinya sudah lebih baik,’’ Jawab Vika.
“Syukurlah kalau begitu.’’ Rian lega mendengarnya, “Kenapa Vik?’’ Rian bingung karena Vika masih terlihat cemas memandangi Shila yang terbaring di tempat tidur.
“Eh? Tidak, tidak apa-apa ka.’’ Ucap Vika masih terlihat bingung.
“Tenanglah. Aku yakin dia akan baik-baik saja.’’ Rian menenangkan Vika, ia sangat tahu kalau saat ini Vika sangat mengkhawatirkan Shila.
Drreeettt drreeettt drreeettt… Suara getar HP milik Vika.
“Ya tante ada apa?’’ Tanya Vika mengangkat panggilan telponnya.
“Ada sesuatu yang ingin tante tanyakan. Bisakah kita bertemu?’’ Tanya Dokter Lina.
“Baiklah tante, aku akan segera ke rumah sakit tante.’’ Ucap Vika.
“Tidak, tante sedang di rumah sakit Pelita Harapan di lantai 5. Bisakah kamu keruangan tante?’’ Ucap Dokter Lina.
“Owh, baiklah tante.’’ Ucap Vika agak bingung dengan kata-kata Dokter Lina barusan, setahunya tantenya itu bekerja di Rumah Sakit Harapan Jaya.
“Ada apa?’’ Tanya Rian.
“Aku harus menemui tante, bisakah kakak menemani Kak Lisa dan Shila?’’ Tanya Vika.
“Kamu tidak mau kuantar?’’ Rian balik bertanya.
__ADS_1
“Tidak perlu, tante ada di rumah sakit ini. Aku akan segera kembali.’’ Ucap Vika kemudian pergi setelah Rian mengiyakan dan masuk ke dalam kamar.
“Duduklah.’’ Ucap Dokter Lina ketika Vika datang keruangannya, “Sudah 2 tahun tante bekerja di rumah sakit ini, tapi 6 bulan yang lalu tante harus mengurus Rumah Sakit Harapan Jaya yang merupakan Rumah Sakit Cabang dari Rumah Sakit Pelita Harapan ini.’’ Jelas Dokter Lina tahu kebingungan Vika meski Vika takberkata apapun.
Mendengar penjelasan tantenya Vika pun tersenyum tanda mengerti.
“Tante sudah mendengar tentang kecelakaan yang menimpa Shila.’’ Ucap Dokter Lina, “Kamu baik-baik saja bukan?’’ Sambungnya kemudian.
“Em, aku baik baik saja.’’ Jawab Vika singkat.
“Kamu tidak perlu cemas, tante sudah melihat hasil pemeriksaan dan penanganannya, Dokter Juna sudah melakukannya sebaik mungkin. Tante yakin dia akan segera pulih.’’ Dokter Lina menghibur Vika.
Mendengar hal itu kecemasan Vika sedikit berkurang, “Iya tante.’’ Ucapnya.
“Permisi Direktur.’’ Ucap Dokter Juli sambil mengetuk pintu.
“Oh Dokter Juli, masuklah.’’ Dokter Lina mempersilakannya masuk kedalam ruangannya.
“Ini yang direktur minta.’’ Ucap seorang dokter yang kemudian masuk menyerahkan botol kaca mini berisi bubuk coklat kehitaman seperti miliknya.
Vika segera mencari botol kaca miliknya di dalam saku bajunya namun tidak ada, “Da, dari mana anda mendapatkan botol itu?’’ Tanya Vika bingung.
“Ini di temukan di tubuh korban kecelakaan yang dating tadi siang.’’ Jawab Dokter Juli.
“Apa kamu yang melakukan pertolongan pertama pada mereka?’’ Tanya Dokter Lina.
Vika terlihat ragu, “Em, saat itu tidak ada dokter jaga ataupun suster di klinik rest area dan ambulan pun terjebak karena kecelakaan di pintu utama Tol, jadi aku melakukannya.’’ Jelas Vika, Dokter Juli sangat terkejut mendengarnya.
“Dan kamu menggunakan ini?’’ Tanya Dokter Lina sambil mengambil botol kaca mini itu.
“Owh, aku biasa menggunakan ini pada lukaku, jadi aku juga menggunakannya juga pada Shila dan Sopir itu agar lukanya cepat mengering.’’ Jawab Vika.
“Tapi bukankah obat itu, obat yang kamu minum dulu?’’ Dokter Lina bingung.
“Bukan, itu berbeda tante. Meski warnanya hampir sama, tapi aku membuatnya dari bahan yang berbeda.’’ Jelas Vika.
“Kamu membuatnya sendiri?’’ Dokter Lina semakin penasaran.
“Em, karena aku tidak bisa menggunakan obat dari Rumah Sakit aku membuatnya sendiri.’’ Jelas Vika.
“Apa kamu benar-benar melakukannya?’’ Tanya Dokter Juli membuat Vika bingung, “Luka pada leher, patah tulang tangan, luka pada kaki juga luka pada jemari dan punggung korban, apa semua itu benar-benar kamu yang menanganinya?’’ Sambungnya kemudian.
“A, apa aku salah dalam menanganinya?’’ Tanya Shila khawatir.
“Kamu benar-benar melakukannya?’’ Tanya Dokter Juli tidak percaya.
“Em.’’ Jawab Vika singkat, “Ada apa dokter? Apa aku salah dalam menanganinya?’’ Tanyanya kemudian.
“Tidak Vika, penangananmu sudah tepat.’’ Jawab Dokter Lina.
“Tapi bagaimana kamu bisa melakukannya?’’ Tanya Dokter Juli.
“Ye?’’ Vika agak bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu, “Emm…Itu, karena aku tidak bisa ke Rumah Sakit jadi aku membaca buku-buku medis agar aku bisa merawat diriku sendiri apabila terluka.’’ Sambungnya.
“Kamu bisa melakukannya hanya dengan membacanya?’’ Tanya Dokter Juli.
“Tentu saja tidak. Hanya saja selain membaca buku medis aku juga pernah mengikuti kursus PPGD.’’ Jelas Vika.
“Oh begitu ya.’’ Ucap Dokter Juli sambil tersenyum, tapi tetap saja meskipun begitu, penanganan yang dia lakukan terlalu sempurna untuk ukuran anak SMA yang hanya pernah mengikuti kursus PPGD. Batinnya. “Kalau begitu saya permisi Direktur,’’ Dokter Juli pamit.
“Em, terimakasih Dokter Juli.’’ Ucap Dokter Lina.
“Emmm, tante.’’ Ucap Vika ragu ketika Dokter Juli sudah meninggalkan ruangan itu, “Tentang Shila, bolehkah, bolehkah.’’ Vika terdiam.
“Ada apa?’’ Dokter Lina bingung.
“Tidak tante, aku permisi saja.’’ Vika mengurungkan niatnya.
__ADS_1
***