
Di hari yang cerah, di SMU Khusus Perempuan dua tahun kemudian terlihat sekumpulan anak yang tengah asik bermain futsal dilapangan sepak bola mereka. Tiba-tiba sebuah tendangan meleset dari gawang menuju seseorang yang sedang berjalan santai di koridor sekolah dialah Vika Alvarado.
“A...” Ucap Riva, ia ingin memberitahukan kepada anak itu tentang bola yang menuju kearahnya, tapi anak itu dengan cekatan menangkap bola dengan tangan kirinya, membuat semua yang berada dilapangan itu tersentak.
“Riv, tendangan itu, bukannya tendangan melengkung punya kamu? Tapi kenapa...?” Lara kebingungan bahkan semua teman-temannya pun begitu, karena baru pertama kali ini mereka menyaksikan ada yang bisa menghentikan tendangan Riva –sang kapten tim-.
Riva dilanda kebingungan, namun ia segera menghampiri anak yang menangkap bolanya itu karena khawatir, “Aduh maaf ya, aku nggak sengaja, kamu nggak apa-apakan?” Tanya Riva.
Vika menatap Riva dingin, “Kalau memang nggak bisa nendang, mending nggak usah!” Ucapnya cuek sambil melepaskan bola dan beranjak pergi.
Riva terdiam dan bola yang dilepaskan Vika menggelinding begitu saja kearah teman-temannya.
“Ya ampun, gila ya tuh orang? Udah jelas Riva minta maaf, tapi jawabannya pedes gitu!” Riri sewot mendengar kata-kata Vika, ia dan temen-temannya pun menghampiri Riva yang terdiam.
“Kamu nggak apa-apa, Riv?” Tanya Lara khawatir melihat Riva terdiam.
“Nggak kok!” Jawab Riva singkat, namun tak dapat dipungkiri ia masih memikirkan Vika yang baru ia lihat, terlebih tentang tendangan melengkungnya yang bisa dihentikan dengan mudah oleh Vika.
“Udahlah, dia emang anaknya begitu kok!” Liana menengahi, “Jadi jangan pada marah ya!” Pintanya kemudian.
__ADS_1
“Lho, kamu kenal Li?” Tanya Riva penasaran.
“Iya, dia teman sekelasku namanya Vika Alvarado.” Jelas Liana singkat.
“Oh, temen sekelas mu? Anak baru?” Tanya Riva lagi.
“Nggak, dia masuk barengan kita kok. Dia peraih nilai terbaik di UM sekolah!” Jelas Liana.
“Hah? Peraih nilai terbaik? Anak itu?” Lara seperti tidak percaya, dan Liana hanya mengiyakan.
“Tapi sepertinya aku tidak pernah melihatnya?” Riva bingung karena dua bulan bersekolah di sini ia tak pernah melihat Vika.
“Iya aku juga, kayaknya aku belum pernah deh melihat dia sebelumnya!” Ucap Riri bingung, begitu juga teman-temannya yang lain, mereka sangat tahu kalau mereka belum pernah melihat Vika disekolah ini sebelumnya.
“Lho, kenapa?” Silvi bingung.
“Aku nggak tahu alasannya, tapi menurut yang kulihat selama ini sih begitu. Sebenarnya aku dan temen-temen nggak begitu mengenal Vika, dia tak pernah berbicara sedikitpun pada kami, teman sekelasnya. Jadi kami juga bingung harus bagaimana, karena setiap kami menyapanya dia membalas dengan dingin.” Jelas Liana yang sebenarnya enggan mengatakannya, tapi dia sangat berharap teman-temannya itu mau mengerti.
Mendengar penuturan Liana, teman-temannya bingung, banyak pertanyaan dibenak mereka, berdiam diri di kelas – Perpustakaan – tidak pernah berbicara sedikitpun? Adakah yang seperti itu? Masa ia? Pikir mereka.
__ADS_1
“Tapi Li, apa dia tidak pernah ke kantin sekolah?” Tanya Riri polos karena penasaran, bagaimana pun juga setiap orang perlu makan siang dan harus ke kantin sekolah untuk makan, pikirnya.
“Emmm, kalau itu aku tidak tahu. Tapi sepertinya aku nggak pernah melihat dia makan!” Jawab Liana bingung, ia tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, ya tak pernah terpikir sekalipun.
Sementara Riva tampak memikirkan sesuatu yang berbeda dari teman-temannya itu, “Kamu bisa menolongku, Li?” Tanya Riva pada Liana dan Liana pun segera mengiakan, “Aku akan berusaha mendekatinya, tapi aku harus tahu beberapa informasi. Jadi bisakah kamu mencarikannya untukku?” Tanya Riva sekaligus pintanya.
“Wah, kebiasaan kapten datang lagi!” Ujar Riri.
“Emmm...Sepertinya kita akan dapat teman baru!” Lara menanggapi dan semuanya tersenyum.
Meski sebenarnya Liana meragukan hal itu, tapi ia akan mencobanya, ia harap suatu saat Vika bisa menjadi kawan mereka, "Tentu saja." Ucap Liana senang.
"Tapi apa dia bisa main bola? Kan kita nggak bisa langsung menyimpulkan hanya karena ia bisa menangkapan tendangan melengkung milik kapten." Riri terlihat tidak senang.
"Bisa. Dari caranya menangkap tendanganku, aku yakin dia bisa." Riva sangat yakin. Pengamatannya selama ini tidak pernah salah, ia banyak menemukan bakat dari teman-temannya. Dan kali ini ia bertekat mendapatkannya juga.
"Jadi informasi apa yang harus aku cari, kapten? Tanya Liana bersemangat.
"Kamu semangat banget Li?" Rara merasa aneh karena Liana yang tipe anak yang pendiam itu sangat bersemangat ingin mencari informasi tentang teman sekelasnya.
__ADS_1
"Soalnya aku pengen dia berhenti membatasi dirinya seperti itu. Dan lagi, kapten kita ini tidak pernah salah menilai kemampuan seseorang." Jelas Liana
***