
“Kamu sudah makan, Vik?” Tanya Bude Maryam, seorang wanita paruh baya yang menolong Vika.
Bude Maryam tinggal bersama Pakde Joko yang berprofesi sebagai satpam di Universitas Jayabaya, kampus tempat Ardi kuliah. Pakde dan bude memiliki seorang cucu bernama Davin yang secara kebetulan diselamatkan Vika ketika hampir tertabrak mobi dan menyebabkan Vika terluka meski tak terlalu parah.
Saat itu adalah hari Vika di usir dari rumahnya, Vika yang sedang berjalan tanpa arah itu sampai di depan taman komplek perumahan universitas Budi Utama setelah menaiki bus dan angkutan kota.
“Davinnnnn,” Teriak Budek Maryam kaget sambil berlari, ketika melihat sebuah mobil yang melaju cepat ke sebuah taman bermain dimana cucu semata wayang yang sedang berlarian.
Dengan Refleks cepat, Vika yang sedang berada tak jauh dari Davin segera memeluk Davin dan berguling menghindari mobil, sehingga Davin selamat tanpa terluka sedikitpun, sementara Vika, dia hanya luka ringan saja.
“Kamu tidak apa-apa De?” Tanya Vika yang sambil membantu Davin bangun.
Davin yang kaget seketika menangis, ia menggelengkan kepalanya tanda baik-baik saja.
“Davin sayang. Kamu nggak apa-apa?” Tanya Bude Maryam sambil memeriksa keadaan Davin, “Makasih ya de, kamu sudah menyelamatkan cucuk bude.” Sambung bude.
“Iya bu,” Ucap Vika singkat sambil tersenyum, ia lega karena Davin baik-baik saja.
“Kamu nggak apa-apa?” Tanya Bude khawatir pada Vika.
“Iya, saya baik-baik saja.” Jawab Vika, “Kalau begitu saya permisi.” Sambungnya kemudian pergi.
“Tunggu de,” Bude Maryam bermaksud menghentikan langkah Vika karena melihat Vika yang berjalan pincang, namun Vika yang tidak mendengarnya tetap berjalan keluar taman.
“Nenek, kayaknya kakak itu terluka.” Ucap Davin yang mulai tenang sambil menunjuk ke tetesan darah ditanah.
Bude Maryam pun langsung menggendong Davin dan mengejar Vika, tapi tak berhasil.
Sementara Vika, ia terus berjalan tanpa arah, tak memperdulikan hujan yang mengguyur tubuhnya, tak menyadari tubuhnya yang menggigil dan darah yang mengalir dari lengan kanannya. Perlahan pandangannya mulai samar, iapun berhenti karena tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
“Kamu kenapa De?” Tanya seorang laki-laki paruh baya berseragam satpam, ialah pade Joko.
“Aku tak…” Tiba-tiba Vika tumbang, dan Pade Joko segera membawa Vika masuk kedalam Mes yang tak jauh dari gerbang Universitas Budi Utama.
“Ya ampun pa, ini siapa?” Tanya Bude yang melihat Pade membopong Vika.
“Nggak tahu Bu, dia pingsan didepan gerbang kampus.” Jawab Pade sambil membaringkan Vika di kasur.
“Lho, dia…” Bude mengenali Vika.
“Ibu kenal?” Tanya Pade.
“Iya pa, anak ini yang menolong Davin yang hampir tertabrak tadi.” Jawab Bude, “Sebentar, bude bawakan handuk dan pakaian kering, bapak tolong masakkan air panas ya.” Sambung Bude.
__ADS_1
Pade dan Bude pun merawat Vika, keesokan harinya…
“Nenek, kakak cantik sudah bangun.” Ucap Davin ketika menyadari Vika siuman keesokan harinya.
“Syukurlah,” Bude senang, “Ini nak, minum dulu.” Sambung Bude sambil meyerahkan minuman jahe hangat.
“Terimakasih.” Vikapun meminum minuman hangat itu dan merasa badannya lebih baik, “Maaf, ini dimana ya?” Tanya Vika yang dari tadi bertanya dimana sebenarnya ia berada.
“Ini mes kampus Budi Utama, Saya Maryam, istri dari satpam yang bekerja di kampus ini, kamu bisa memanggil saya Bude Maryam.” Jelas singkat Bude Maryam.
“Terimakasih atas bantuannya Bude, kalau begitu saya pamit.” Vika tak enak karena telah menyusahkan.
“Jangan nak, akan lebih baik kalau kamu beristirahat disini beberapa hari sampai kamu sembuh benar.” Bude mencegah kepergian Vika karena merasa Vika belum sembuh.
“Saya baik-baik saja,” Ucapnya kemudian berdiri dan “Aduh.” Ia terjatuh dan Bude membantu Vika.
“Kamu ngak apa-apa? Kaki kamu terkilir dan lenganmu terluka ketika menyelamatkan Davin, cucu saya.” Bude Maryam khawatir.
“Cucu Bude?” Vika bingung.
“Iya, terima kasih karena sudah menolong Davin, Kak.” Ucap Davin sambil tersenyum ceria.
Tiba-tiba Vika teringat Kian, adiknya. Bagaimana keadaannya sekarang? Vika khawatir.
“Nak?” Bude membuyarkan lamunannya.
“Kakak mau kan tinggal disini?” Tanya Davin.
Vika terdiam.
“Atau mau bude antar kamu pulang? Sebenarnya bude semalam membongkar tasmu, untuk mencari tanda pengenal dan Hp, tapi…” Bude terlihat ragu.
“Ayah saya sudah meninggal, saya ke kota ini untuk mencari pekerjaan.” Jelas Vika singkat, ia tahu maksud arah pembicaraan Bude.
“Pekerjaan?” Bude terlihat bingung, dan Vika hanya mengangguk, “Kalau boleh bude tahu, ibu dan keluargamu yang lain?” Tanya bude terdengar ragu.
Vika hanya menggelangkan kepalanya tanpa berbicara, ia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada bude Maryam.
“Maafkan bude nak…”
“Vika, nama saya Vika bude.” Vika memperkenalkan diri.
“Kalau begitu nak Vika. Beristirahatlah dulu sampai kamu sembuh benar.” Ucap Bude.
__ADS_1
Vikapun akhirnya menyetujuinya, ia tahu kalau bude dan Davin akan sangat kecewa kalau ia menolak.
Seminggu kemudian ketika Vika sembuh, Bude Maryam sakit dan harus dirawat dirumah sakit, Vika yang tadinya mau pergi, akhirnya memutuskan untuk tinggal untuk menemani Davin sampai bude sembuh.
“Nak Vika, maafkan bude, bude jadi merepotkanmu.” Bude tak enak.
“Iya Bude, tak apa. Jangan dipikirkan, beristirahatlah, saya akan mengurus Davin.” Ucap Vika, bagaimanapun juga keluarga bude sudah merawatnya dengan baik, dan tidak ada salahnya untuk menolong mereka menjada Davin.
“Terimakasih ya Nak Vika.” Ucap Pakde, ia benar-benar sangat tertolong.
“Kamu yang baik ya, sayang. Jangan menyusahkan kak Vika.” Ucap Bude sambil mengelus rambuk Davin.
“Iya Nek, nenek tidak udah khawatir. Aku akan menjaga Kak Vika.” Ucap Davin, membuat Pade Bude dan Vika tertawa ringan.
Bude Maryam sembuh, namun ia tak bisa bekerja terlalu berat, sehingga Vika membantu pekerjaan sehari-hari Bude untuk menyapu halaman kampus ketika pagi hari sebelum para mahasiswa datang.
“Nak Vika, biarkan Pakde saja yang menyapu halaman.” Pakde Joko tak enak.
“Tidak apa Pade, lagi pula kalau dilakukan berdua akan lebih cepat.” Ucap Vika, ia merasa tidak enak karena tidak melakukan apa-apa.
“Tapi kamu pasti cape seharian ini mengurusi Davin.” Bude juga khawatir.
“Tidak bude, saya baik-baik saja.” Jawab Vika.
Tak terasa sebulan berlalu dengan cepat, Bude Maryam sudah sembuh total, sehingga Vika memutuskan untuk pergi sesuai denggan rencananya.
“Bukankah akan lebih baik kalau kamu tinggal disini?” Tanya Bude Maryam, ia merasa khawatir pada Vika yang ingin pergi mencari kost dan pekerjaan.
“Tidak bude, saya sudah banyak merepotkan bude dan pakde, saya…”
“Jangan, kak Vika jangan pergi.” Davin menangis, ia sudah sangat dekat dengan Vika.
“Vika, saya setuju dengan bude, tinggalah disini. Untuk pekerjaan yang kamu inginkan, kita bisa cari pelan-pelan.” Usul Pakde, ia juga khawatir, bagaimanapun Vika masih SMP, mencari pekerjaan pasti sulit untuknya.
Vika menggeleng, ia sangat tahu, perjalanannya akan sangat panjang dan penuh lika liku, tapi dia tak bisa menyusahkan orang lain, “Saya sangat berterimakasih karena pade dan bude mau merawat saya selama ini.” Vika keras kepala, “Saya pa…”
“Nggak boleh, Kak Vika harus menemaniku, jangan pergi.” Davin merengak sambil menangis, membuat Vika ragu.
Vika sangat menyukai anak kecil, dia adalah tipe orang yang tak tahan dengan rengekan anak kecil. Apalagi usia Davin hampir sama dengan Kian, adiknya.
“Atau begini saja, jadilah pengasuh untuk Davin,” Ucap Bude, sebelumnya ia tak terpikir hal itu, tapi Davin sangat menyayangi Vika, “Kami memang tak bisa memberikan banyak, tapi kamu bisa tinggal disini dan…”
“Tidak, itu tidak perlu Bude.” Vika tak enak kalau harus bekerja sebagai pengasih Davin, bagaimanapun juga ia menyayangi Davin, “Saya akan tinggal disini untuk bermain dengan Davin, tapi saya akan membayar sewa kamar pada Pade dan Bude setelah saya mendapatkan pekerjaan.”
__ADS_1
Akhirnya Vika tinggal bersama pade dan bude, setiap pagi ia membantu menyapu halaman kampus dan mempersiapkan makanan untuk kantin karena Bude Maryam adalah salah satu penyetok makanan di kantin kampus. Vika juga membantu Bude mengantar Davin yang duduk di bangku Taman Kanak Kanak, lalu sore harinya ia bekerja paruh waktu membantu merapikan barang disebuah toko kenalan Pade. Itulah pertemuan Vika dengan Bude Maryam dan Pakde Joko.
***